Puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan kali –kalau
direkapitulasi- penceramah, penulis, motivator memberikan contoh bagaimana
anak-anak belajar dan merangkai mimpi. Di usia antara satu sampai tiga tahun
anak belajar berjalan. Melangkah-jatuh-merayap-melangkah-jatuh-merayap- melangkah-jatuh-merayap-melangkah-jatuh-merayap.
Tidak berhenti. Berulang-ulang. Sesekali diselingi tangis. Sesekali tertawawa.
Sesekali semangat. Sesekali putus asa. TETAPI tidak pernah berhenti.
Demikian juga pada masanya, anak merangkai
mimpi. Ingin menjadi pilot atau bisa terbang seperti gatotgaca-atau menjadi
presiden atau menjadi jenderal atau menjadi bintang filem atau menjadi penulis
atau menjadi pelajar teladan atau menjadi jawara atau menjadi ulama atau
menjadi supermen atau menjadi lentur seperti scoobedoo atau menjadi cantik atau
menjadi ganteng atau menjadi terkenal atau menjelajah eropa atau menjadi apa
pun. Tidak terbatas dan tidak dibatasi.
Seiring waktu, mimpi-mimpi dirasionalisasi –semakin
berkurang, semakin rendah--, kegigihan belajar menurun diselingi kebosanan dan
putus asa. Rasa malu, rasa enggan, tidak percaya diri, hempasan pengalaman, gempuran
ombak kehidupan, mengikis mimpi-mimpi dan kegigihan. Beberapa orang “berbakat”
ditempa oleh pengalaman, hempasan pengalaman, gempuran badai kehidupan
menjadikan dirinya semakin kuat, semakin kokoh, semakin percaya diri.
Maka fully functioning person adalah orang yang mampu
memelihara kegigihan dan memelihara mimpi-mimpi; orang yang tidak pernah
berhenti berpikir dan bertindak; orang yang menganggap kegagalan adalah
keniscayaan dalam perjalanan menuju keberhasilan; orang yang tidak pernah
berhenti belajar dan mengambil pelajaran dari kehidupan. 4.6.16-8.45


0 comments :
Post a Comment