Powered by Blogger.
Home » » CATATAN PENSIUNAN 52 : TIDAK UNTUK DEBAT

CATATAN PENSIUNAN 52 : TIDAK UNTUK DEBAT

Written By Suheryana Bae on Thursday, May 14, 2026 | 8:51 PM

Menurutku, aku adalah orang yang sangat perasa. Setiap kali konflik atau berselisih pendapat, membuat pikiran dan perasaan terganggu berhari-hari. Ada semacam ketidakenakan, ketidaknyamanan yang sulit dijelaskan, kecemasan, dan kadang ketakutan yang tidak jelas. Rasa ada duri kecil yang menusuk, meski dunia melanjutkan hari seperti biasa. Mungkin banyak yang menganggap ini berlebihan, tapi bagiku, ini adalah realitas yang harus dihadapi.

Dahulu, aku sering terlibat dalam diskusi, mempertahankan pendapat, atau sekadar membela apa yang kupercaya. Dan hasilnya adalah energi habis, mood anjlok, dan waktu produktif tersita. Yang lebih parah, perdebatan jarang sekali membawa perubahan. Malah sering kali justru memperburuk hubungan. Sehingga aku belajar, perlahan tapi pasti, bahwa tidak semua pertempuran layak diikuti. Apalagi jika lawan bicaranya adalah orang yang tidak mau mendengar, yang pendapatnya sudah mengeras seperti batu. Berdebat dengan orang seperti itu bukan hanya membuang waktu, tapi juga merusak ketenangan.

Kesimpulanku sederhana saja, jangan berdebat atau berkonflik dengan siapa pun, terutama dengan orang bodoh. Tentunya bukan sikap pengecut, melainkan pilihan bijak untuk melindungi diri. Waktu kita terbatas. Setiap menit yang dihabiskan untuk argumen tak berujung adalah menit yang hilang. Lebih baik menyingkir, menyepi, dan menjauhi pergaulan toksik. Dunia memang penuh dengan drama, opini, dan orang-orang yang ingin menang dengan segala cara. Tapi kita tidak wajib ikut serta dalam permainan.

Di masa tua, prioritasku bergeser. Tidak lagi mencari validasi dari luar. Tidak lagi ingin membuktikan diri kepada orang lain. Yang kuinginkan adalah ketenangan agar bisa fokus pada hal yang benar-benar membawa hasil yaitu pengembangan diri. Setiap hari digunakan untuk membaca buku bagus, merenung, berolahraga, berkebun, menghapal Qur'an, atau melatih keterampilan baru. Jauh lebih bermakna daripada berdebat di media sosial atau dalam obrolan yang melelahkan. Hasilnya nyata dan bisa dirasakan — peningkatan kualitas diri.

Ketika kita memilih menyepi, bukan berarti kita menjadi anti-sosial. Kita tetap bisa menjalin hubungan, tapi dengan batas yang jelas. Kita memilih lingkaran yang saling mendukung, memberi energi positif, bukan yang menguras waktu dan tenaga. Pergaulan toksik sering datang dengan topeng persahabatan atau kekeluargaan, tapi dampaknya sama, membuat kita gelisah, ragu pada diri sendiri, dan sulit berkonsentrasi. Menjauh dari hal demikian bukanlah tindakan kurang ajar, melainkan penghargaan kepada diri sendiri.

Banyak orang takut kesepian. Padahal, ada perbedaan besar antara kesepian dan kesendirian yang disengaja. Kesendirian memberi ruang untuk mendengar suara hati, untuk memahami apa yang sebenarnya kita inginkan untuk mengisi perjalanan. Di tengah dunia modern yang semakin sibuk dengan berbagai fasilitas yang membuat terlena, kemampuan untuk menyepi adalah sebuah kemewahan langka. Aku sedang belajar menikmatinya. Pagi yang tenang dengan membaca kitab suci dan secangkir teh tawar panas, sore diisi dengan olahraga dalam ruang atau sekedar membengongkan diri, malam yang damai tanpa gangguan telepon atau notifikasi.

Pengembangan diri di masa akhir kehidupan memiliki rasa yang berbeda. Bukan lagi tentang ambisi mencapai puncak karier atau pencapaian duniawi serba wah, melainkan tentang menjadi versi diri yang lebih tenang, lebih bijaksana, lebih nyaman dan lebih utuh. Fully functioning person.

Setiap pengetahuan baru, setiap kebiasaan buruk yang berhasil diubah, setiap momen keberhasilan mengendalikan emosi adalah fondasi kemanusiaan yang kokoh. Kualitas diri yang meningkat membuat kita tidak lagi mudah tergoyahkan oleh opini orang lain. Kita belajar membedakan mana yang penting dan mana yang sekadar keriuhan duniawi.

Tentunya, perjalanan ini tidak selalu mudah. Kadang godaan terlibat dalam urusan orang, dalam urusan politik dan birokrasi masih muncul. Kadang keinginan untuk membela diri atau “mengoreksi” orang lain datang juga. Tapi aku berkali-kali bertanya, apakah ini sepadan dengan ketenangan yang akan hilang. Jawabannya hampir selalu tidak. Lebih baik diam dan melanjutkan perjalanan sendiri. Energi yang tadinya akan habis untuk konflik, kini dialihkan untuk membangun diri.

Hidup memang terlalu pendek untuk diisi dengan pertengkaran. Sebagai orang yang perasa, aku memilih untuk melindungi diri dengan cara yang paling masuk akal yaitu menjaga jarak dari racun dan mendekatkan diri pada sumber ketenangan. Fokus pada pengembangan diri bukanlah pelarian, melainkan cara terbaik yang bisa dilakukan di sisa waktu yang ada. Hasilnya bukan hanya kenyamanan, tapi juga kehidupan yang lebih bermakna dan berkualitas.

Di hari akhir, yang tersisa hanyalah diri kita sendiri. Maka, sudah sepatutnya kita rawat kehidupan pribadi dengan baik. Menjauhi konflik bukan berarti kalah, melainkan menang dalam permainan sesungguhnya—permainan untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih nyaman, dan lebih bahagia.

0 comments :

Post a Comment