Powered by Blogger.
Home » » Euforia

Euforia

Written By Suheryana Bae on Tuesday, May 17, 2016 | 8:45 AM

Televisi masuk kampung.

Orang-orang mengubah kebiasaan. Pukul lima duduk bersama keluarga dan para tetangga kecil nonton TVRI. Malam nonton berita,  sinetron atau filem. Hari minggu ada siaran PSSI atau tinju Muhammah Ali. Sholat berjamaah magrib,isya shubuh mulai jarang. Ke ladang di hari libur berkurang.
Listrik masuk desa.

Rumah-rumah menjadi terang. Jalanan disinari lampu Philip. Kadang neon warna-warna. Lampu minyak peninggalan karuhun diganti bola lampu.

DOB. Pemerintahan baru dibentuk. Anggaran dikeluarkan. Seluruh komponen masyarakat ingin berkontribusi untuk kemajuan DOB.  Pj. Bupati, para pejabat pemda, Anggota Dewan, kuwu dan kadus, tokoh agama/masyarakat/pemuda bahkan tokoh jalanan, pengusaha, organisasi masyarakan  dan organisasi sosial bahkan organisasi-organisasian beramai-ramai ingin mengatur DOB.  

Hampir setiap euforia spontan dan tidak jelas arahnya. Segala yang disajikan televisi ditonton tidak lagi selektif edukatif informatif.

DOB terlambat membangun fondasi pemerintahan.

Semua memakai listrik. Setrika arang dibuang, petromak istirahat, jam biologis berubah. TETAPI produktivitas tidak mengalami kenaikan signifikan. Kalau di negeri tetangga aliran listrik meningkatkan produktivitas pelaku home industri di kampung tidak ada signifikansi perubahan positif. Termasuk peningkatan jam belajar atau jam baca. Tanda tanya besar.

Fenomena medsos. Hampir sama saja. Just euforia. Anak-anak, remaja, dewasa, manula, pejabat, sopir, ajengan, bahkan pengangguran bermain di media sosial. Isinya adalah pertemanan semu, omong kosong berkepanjangan, bahkan penghianatan.

TETAPI seiring waktu terjadi tarik ulur dan perubahan positif. Listrik bermanfaat untuk pengajian dan meningkatkan jam belajar. Pemerintahan baru mulai membuat perencanaan strategis ideal dan menata pemerintahan sesuai perubahan dan tuntuntan zaman. Media sosial mulai dimanfaatkan untuk berdakwah, berusaha, motivasi dan menebar kebaikan.

Ya, semua ada waktunya. Euforia cukuplah sejenak. Selanjutnya adalah menata dan mendisiplin diri menuju self fulfilling person, menuju alam keabadian.

0 comments :

Post a Comment