Televisi masuk kampung.
Orang-orang mengubah kebiasaan. Pukul lima duduk bersama
keluarga dan para tetangga kecil nonton TVRI. Malam nonton berita, sinetron atau filem. Hari minggu ada siaran
PSSI atau tinju Muhammah Ali. Sholat berjamaah magrib,isya shubuh mulai jarang.
Ke ladang di hari libur berkurang.
Listrik masuk desa.
Rumah-rumah menjadi terang. Jalanan disinari lampu
Philip. Kadang neon warna-warna. Lampu minyak peninggalan karuhun diganti bola
lampu.
DOB. Pemerintahan baru dibentuk. Anggaran dikeluarkan.
Seluruh komponen masyarakat ingin berkontribusi untuk kemajuan DOB. Pj. Bupati, para pejabat pemda, Anggota
Dewan, kuwu dan kadus, tokoh agama/masyarakat/pemuda bahkan tokoh jalanan, pengusaha, organisasi masyarakan dan organisasi
sosial bahkan organisasi-organisasian beramai-ramai ingin mengatur DOB.
Hampir setiap euforia spontan dan tidak jelas arahnya.
Segala yang disajikan televisi ditonton tidak lagi selektif edukatif informatif.
DOB terlambat membangun fondasi pemerintahan.
Semua memakai listrik. Setrika arang dibuang, petromak
istirahat, jam biologis berubah. TETAPI produktivitas tidak mengalami kenaikan
signifikan. Kalau di negeri tetangga aliran listrik meningkatkan produktivitas
pelaku home industri di kampung tidak ada signifikansi perubahan positif. Termasuk
peningkatan jam belajar atau jam baca. Tanda tanya besar.
Fenomena medsos. Hampir sama saja. Just euforia.
Anak-anak, remaja, dewasa, manula, pejabat, sopir, ajengan, bahkan pengangguran
bermain di media sosial. Isinya adalah pertemanan semu, omong kosong
berkepanjangan, bahkan penghianatan.
TETAPI seiring waktu terjadi tarik ulur dan perubahan
positif. Listrik bermanfaat untuk pengajian dan meningkatkan jam belajar.
Pemerintahan baru mulai membuat perencanaan strategis ideal dan menata pemerintahan
sesuai perubahan dan tuntuntan zaman. Media sosial mulai dimanfaatkan untuk
berdakwah, berusaha, motivasi dan menebar kebaikan.

0 comments :
Post a Comment