Ketika masih mahasiswa, mendengar kata "pelacuran intelektual" terasa asing di telinga. Tetapi sekarang, setelah tigapuluh tahun lebih menjadi birokrat baru mengerti dan dapat mendefinisikan sendiri yang dumaksud dengan pelacuran intelektual.
Birokrat sekarang ini, berpendidikan cukup baik. Apalagi CPNS dan PNS yang baru satu dua tahun. Setidaknya sekarang ini paling rendah diploma tiga atau empat. Bahkan untuk tataran pejabat eselon dua, setingkat Kepala Dinas atau Asisten, tidak pada umumnya, kalau hanya berpendidikan sarjana. Paling Tidak magister terasa sudah menjadi tuntutan.
Doktor sudah ada beberapa di masing-masing Pemerintah Kabupaten/Kota. Boleh dikata intelektual, walaupun bukan profesor. Apalagi Pemerintah Propinsi dan Pusat.
Di Birokrasi, banyak hal harus dikompromikan. Seringkali tidak selaras antara teori dan praktik. Situasi kantor lebih membutuhkan praktisi yang berpengalaman daripada teoritisi. Bahkan idealisme terkadang harus mengalah demi kepentingan praktis.
Bahasa sederhananya, mundur selangkah untuk maju sepuluh langkah. Adaptasi kalau menurut kamus dinosaurus. Agar bisa survive. Kalau tidak, akan tersisih dari pergaulan birokrasi dan mati sebelum berkontribusi. Terkubur sebelum melakukan perubahan.
Ya, begitulah.

0 comments :
Post a Comment