Peradaban dan kehidupan manusia mensyaratkan satu proses mendasara yang tak terhindarkan yaitu pembelajaran. Tidak ada seorang pun yang serta-merta "menjadi" tanpa melewati proses panjang dalam hidupnya. Semua kualitas, baik dan buruk, lahir dari tempaan waktu, pengalaman, dan kesadaran. Bahkan kemampuan untuk mencintai, bersabar, atau berani, semua itu adalah hasil dari perjalanan belajar.
Dalam kehidupan
kerajaan, misalnya, seorang pangeran tidak tiba-tiba menjadi raja hanya karena
garis keturunan. Di Inggris, pewaris tahta dididik secara khusus sejak kecil.
Mereka melewati proses pelatihan yang mencakup pendidikan formal, etika publik,
diplomasi, sejarah, serta keterampilan komunikasi dan kepemimpinan. Mereka
hidup dalam sistem yang menanamkan nilai tanggung jawab atas rakyat, kesadaran
akan simbol negara, dan kemampuan untuk menempatkan diri secara arif dalam
kehidupan publik. Sebuah proses panjang yang secara sadar dibangun demi
mewujudkan seseorang bukan sekadar raja dengan mahkota, tetapi pemimpin secara
kepribadian.
Sebaliknya, di sisi
gelap kehidupan, seorang bandit pun tak muncul begitu saja. Kebanditan adalah
“hasil belajar” dari pengalaman hidup yang keras—jalanan yang membentuk naluri
bertahan, lingkungan yang memperkenalkan tipu daya dan kekerasan sebagai alat bertahan
hidup, hingga dari penjara yang memberi peluang mematangkan teknik dan jejaring
kejahatan. Dunia bawah punya sekolahnya sendiri, dengan nilai dan kurikulum
yang tak kalah konsisten dibanding dunia formal.
Demikian pula dengan
para penipu dan koruptor. Tak sedikit dari mereka yang memulai dari "les
privat" keburukan sejak dini. Saat murid dibiarkan menyontek dalam ujian
demi nilai, saat sistem membiarkan ketidakjujuran tumbuh tanpa peringatan, di
sanalah benih-benih manipulasi mulai dipupuk. Bayangkan pula fenomena bagaimana
hanya siswa yang mengikuti les pribadi pada guru matematika tertentu yang
diberi kesempatan mengikuti olimpiade matematika. Anak-anak pun belajar bahwa
akses terhadap peluang bukan soal kemampuan, tapi kedekatan dan uang. Di
sekolah, ada juga anak-anak dengan privilege-nya diperlakukan berbeda,
seakan-akan harkat mereka lebih tinggi dari yang lain. Semua itu menjadi
pelajaran tersembunyi tentang bagaimana dunia bekerja, tentang ketidakadilan
yang dilembagakan. Mereka tidak disuruh curang, tapi dipersilakan belajar
mencurangi.
Sebaliknya, menjadi
tokoh agama yang mencerahkan, bukan sekadar perkara hapalan atau penampilan. Tetapi
buah dari tempaan panjang di pesantren atau lembaga pendidikan yang
benar—dengan kurikulum yang tidak sekadar tekstual, tapi menyentuh aspek hidup
yang luas dan dalam. Proses ini menuntut guru-guru yang tidak hanya cakap dalam
ilmu, tapi juga hidup dengan akhlak yang konsisten. Guru yang benar, dalam
lingkungan yang benar, dengan ilmu yang benar, adalah syarat mutlak untuk
melahirkan tokoh agama yang benar.
Menjadi seorang
entertain, aktor, penyanyi, atau pembicara publik pun demikian. Bakat saja
tidak cukup. Ada pembelajaran yang melibatkan seni mengatur emosi, membangun
karakter, melatih suara, tubuh, bahkan mengasah kepekaan terhadap audiens.
Pendidikan formal bisa membantu, pendidikan informal menambah, dan pengalaman
langsung memperkaya. Dunia hiburan juga mengenal kedisiplinan dan ketekunan
sebagai fondasi meraih keberhaislan.
Tegasnya, tidak ada
satu pun kualitas, apalagi profesionalitas, yang lahir tanpa pembelajaran. Di
balik setiap sosok yang kita kagumi—atau bahkan benci—terdapat proses panjang
yang membentuknya. Proses itu ditentukan oleh dua hal utama.
Pertama, kehendak
pribadi. Keinginan untuk menjadi, hasrat untuk tumbuh, itulah titik awal dari
segala perubahan. Tanpa keinginan, tak ada gerak. Tak ada belajar.
Kedua, lingkungan yang
tepat. Lingkungan
yang mendukung akan mempercepat pertumbuhan dan menunjang pembelajaran. Namun,
penting juga untuk dicatat bahwa orang yang sungguh-sungguh berkehendak kuat
akan mencari atau bahkan menciptakan lingkungan yang sesuai untuk pengembangan
dirinya. Mereka tidak akan menyerah pada keadaan, karena mereka tahu bahwa “menjadi”
bukanlah perkara duduk diam menunggu, tapi melangkah mencari dan membentuk.
Hidup adalah
ruang belajar yang tak pernah selesai. Semua orang sedang dalam proses menjadi
sesuatu. Tinggal kita memilih, ingin menjadi apa—dan bersedia belajar sejauh
apa.

0 comments :
Post a Comment