Powered by Blogger.
Home » » PPROSES BELAJAR PARA RAJA DAN PARA BANDIT

PPROSES BELAJAR PARA RAJA DAN PARA BANDIT

Written By Suheryana Bae on Saturday, April 19, 2025 | 8:52 AM


 

Peradaban dan kehidupan manusia mensyaratkan satu proses mendasara yang tak terhindarkan yaitu pembelajaran. Tidak ada seorang pun yang serta-merta "menjadi" tanpa melewati proses panjang dalam hidupnya. Semua kualitas, baik dan buruk, lahir dari tempaan waktu, pengalaman, dan kesadaran. Bahkan kemampuan untuk mencintai, bersabar, atau berani, semua itu adalah hasil dari perjalanan belajar.

Dalam kehidupan kerajaan, misalnya, seorang pangeran tidak tiba-tiba menjadi raja hanya karena garis keturunan. Di Inggris, pewaris tahta dididik secara khusus sejak kecil. Mereka melewati proses pelatihan yang mencakup pendidikan formal, etika publik, diplomasi, sejarah, serta keterampilan komunikasi dan kepemimpinan. Mereka hidup dalam sistem yang menanamkan nilai tanggung jawab atas rakyat, kesadaran akan simbol negara, dan kemampuan untuk menempatkan diri secara arif dalam kehidupan publik. Sebuah proses panjang yang secara sadar dibangun demi mewujudkan seseorang bukan sekadar raja dengan mahkota, tetapi pemimpin secara kepribadian.

Sebaliknya, di sisi gelap kehidupan, seorang bandit pun tak muncul begitu saja. Kebanditan adalah “hasil belajar” dari pengalaman hidup yang keras—jalanan yang membentuk naluri bertahan, lingkungan yang memperkenalkan tipu daya dan kekerasan sebagai alat bertahan hidup, hingga dari penjara yang memberi peluang mematangkan teknik dan jejaring kejahatan. Dunia bawah punya sekolahnya sendiri, dengan nilai dan kurikulum yang tak kalah konsisten dibanding dunia formal.

Demikian pula dengan para penipu dan koruptor. Tak sedikit dari mereka yang memulai dari "les privat" keburukan sejak dini. Saat murid dibiarkan menyontek dalam ujian demi nilai, saat sistem membiarkan ketidakjujuran tumbuh tanpa peringatan, di sanalah benih-benih manipulasi mulai dipupuk. Bayangkan pula fenomena bagaimana hanya siswa yang mengikuti les pribadi pada guru matematika tertentu yang diberi kesempatan mengikuti olimpiade matematika. Anak-anak pun belajar bahwa akses terhadap peluang bukan soal kemampuan, tapi kedekatan dan uang. Di sekolah, ada juga anak-anak dengan privilege-nya diperlakukan berbeda, seakan-akan harkat mereka lebih tinggi dari yang lain. Semua itu menjadi pelajaran tersembunyi tentang bagaimana dunia bekerja, tentang ketidakadilan yang dilembagakan. Mereka tidak disuruh curang, tapi dipersilakan belajar mencurangi.

Sebaliknya, menjadi tokoh agama yang mencerahkan, bukan sekadar perkara hapalan atau penampilan. Tetapi buah dari tempaan panjang di pesantren atau lembaga pendidikan yang benar—dengan kurikulum yang tidak sekadar tekstual, tapi menyentuh aspek hidup yang luas dan dalam. Proses ini menuntut guru-guru yang tidak hanya cakap dalam ilmu, tapi juga hidup dengan akhlak yang konsisten. Guru yang benar, dalam lingkungan yang benar, dengan ilmu yang benar, adalah syarat mutlak untuk melahirkan tokoh agama yang benar.

Menjadi seorang entertain, aktor, penyanyi, atau pembicara publik pun demikian. Bakat saja tidak cukup. Ada pembelajaran yang melibatkan seni mengatur emosi, membangun karakter, melatih suara, tubuh, bahkan mengasah kepekaan terhadap audiens. Pendidikan formal bisa membantu, pendidikan informal menambah, dan pengalaman langsung memperkaya. Dunia hiburan juga mengenal kedisiplinan dan ketekunan sebagai fondasi meraih keberhaislan.

Tegasnya, tidak ada satu pun kualitas, apalagi profesionalitas, yang lahir tanpa pembelajaran. Di balik setiap sosok yang kita kagumi—atau bahkan benci—terdapat proses panjang yang membentuknya. Proses itu ditentukan oleh dua hal utama.

Pertama, kehendak pribadi. Keinginan untuk menjadi, hasrat untuk tumbuh, itulah titik awal dari segala perubahan. Tanpa keinginan, tak ada gerak. Tak ada belajar.

Kedua, lingkungan yang tepat. Lingkungan yang mendukung akan mempercepat pertumbuhan dan menunjang pembelajaran. Namun, penting juga untuk dicatat bahwa orang yang sungguh-sungguh berkehendak kuat akan mencari atau bahkan menciptakan lingkungan yang sesuai untuk pengembangan dirinya. Mereka tidak akan menyerah pada keadaan, karena mereka tahu bahwa “menjadi” bukanlah perkara duduk diam menunggu, tapi melangkah mencari dan membentuk.

Hidup adalah ruang belajar yang tak pernah selesai. Semua orang sedang dalam proses menjadi sesuatu. Tinggal kita memilih, ingin menjadi apa—dan bersedia belajar sejauh apa.

0 comments :

Post a Comment