Dalam hidup, ada
saatnya kita berhenti sejenak dari segala keriuhan dunia dan bertanya, untuk
apa semua ini? Mengapa kita begitu ambisius mengejar jabatan, kekayaan,
kehormatan, bahkan keinginan untuk dikagumi dan dimiliki. Di saat yang tenang, diselingi
kokok ayam dan music alami, tersingkap sebuah kesadaran bahwa hidup hanyalah
perjalanan menuju kepastian bernama kematian.
Kesadaran itu bukan untuk membuat hidup muram. Justru sebaliknya, menjadi pintu
menuju hidup yang lebih jernih. Bahwa kita tak perlu lagi terus-menerus
menyesali langkah keliru dan kesalahan masa lalu. Penyesalan yang sehat hanya
butuh pengakuan dan satu niat baru untuk berubah. Setelah itu, masa lalu
biarlah menjadi guru yang diam. Kita tak perlu lagi menatapnya dengan cemas
atau marah. Cukup kita genggam pelajarannya, dan melepaskan sisanya.
Begitu pula dengan masa
depan. Ketakutan sering kali lahir dari imajinasi, bukan kenyataan. Kita takut kekurangan,
takut gagal, atau takut kehilangan, padahal semua itu belum tentu datang. Tidak
ada jaminan kita akan sampai ke masa depan. Lalu, mengapa harus hidup dalam
cemas atas sesuatu yang belum pasti.
Sesungguhnyalah, yang bisa kita lakukan hari ini hanyalah hadir seutuhnya.
Menjadi makhluk yang baik, karena kita ingin menjadi hamba yang lebih dekat
dengan-Nya. Melayani keluarga, karena kita sadar pernah lalai. Bekerja
secukupnya, bukan untuk bermegah-megahan, tapi untuk menjalankan amanah sebagai
khalifah kecil di bumi-Nya. Perlahan-lahan, kita mulai mengenali bahwa kekayaan
hati jauh lebih melegakan daripada tumpukan harta. Bahwa dihargai karena
kehadiran kita lebih mulia daripada dihormati karena atribut dunia.
Inilah qana’ah—sikap menerima dengan lapang apa yang telah Allah tetapkan.
Bukan menyerah, tapi berserah. Dan ketika hati sudah tidak terlalu rewel
meminta ini itu, maka muncullah tuma’ninah, sebuah ketenangan yang tidak
bergantung pada keadaan. Hati menjadi seperti permukaan air danau yang
jernih—tak gelisah oleh angin, tak keruh oleh bayangan.
Dan itulah kebebasan sejati. Bukan berarti kita tidak bekerja, tidak bermimpi,
atau tidak mencintai. Tapi kita tidak lagi diperbudak oleh semua itu. Kita
bekerja, tapi tidak terikat pada hasil. Kita mencintai, tapi tidak menggenggam
erat. Kita menata hari demi hari seperti petani yang sabar, menanam dengan
ikhtiar, menyiram dengan doa, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Maka ketika ayam bertelur di pagi hari, kita tidak hanya melihatnya sebagai
hasil kerja kandang, tapi sebagai bisikan langit bahwa segala sesuatu yang
dirawat dengan sabar, akan memberi buah pada waktunya. Dan hidup yang
demikian—yang tenang, sadar, cukup, dan mengalir—itulah bentuk ibadah yang
paling hakiki. Tak perlu sorak sorai. Tak butuh panggung. Cukup antara hamba
dan Tuhannya.


0 comments :
Post a Comment