Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 28 : DIMULAI DARI PIKIRAN SEHAT

Catatan Pensiunan 28 : DIMULAI DARI PIKIRAN SEHAT

Written By Suheryana Bae on Thursday, July 31, 2025 | 7:10 AM


Saya belajar bahwa pikiran sehat bukan tentang selalu bahagia atau bebas dari kekhawatiran. Pikiran sehat adalah ketika bisa menerima emosi yang datang, entah itu kegembiraan atau keresahan, tanpa membiarkannya menguasai diri. 

Menoleh ke belakang, saya melihat perjalanan penuh warna. Ada momen keberhasilan yang membanggakan -pekerjaan kantor mencapai target, inovasi di lingkungan kerja, anak-anak yang tumbuh dan berkembang, atau kepercayaan dari rekan kerja. Tapi, ada juga penyesalan. Keputusan yang keliru, waktu yang terlewat untuk keluarga, membersamai anak bertumbuh. Refleksi ini mengajarkan untuk memaafkan diri sendiri. Tidak semua bisa sempurna, dan itu manusiawi. Bahwa keberhasilan bukan hanya soal pencapaian besar, tetapi juga tentang keteguhan menjalani hari-hari sulit dengan penuh tanggung jawab. Pikiran sehat membantu melihat ini dengan lebih jernih, tanpa terjebak dalam penyesalan.

Pikiran sehat juga tentang fleksibilitas. Dulu, terbiasa dengan jadwal ketat, tapi kini hidup tidak lagi ada struktur. Awalnya terasa aneh, bahkan menakutkan. Tapi, saya belajar untuk menerima perubahan, seperti bambu yang lentur namun kuat. Menikmati hal-hal kecil yang dulu terabaikan, bermain dengan cucu, obrolan ringan keluarga, atau minum secangkir teh di malam hari. Belajar mengelola stres dengan cara sederhana. Berjalan menyusuri kampung, mendengarkan musik, atau sekadar duduk diam sambil membaca buku. 

Evaluasi diri membawa pada pertanyaan yang lebih dalam tentang apa yang benar-benar penting. Keluarga, kesehatan, atau mungkin keyakinan yang memberi pegangan? Saya menyadari bahwa di masa bekerja, sering terlalu sibuk mengejar target hingga lupa hadir di sebuah momen keseharian sepenuhnya. Kini, ingin lebih memperhatikan momen-momen kecil yang memberi makna. Belajar untuk bersyukur—bukan hanya atas hal besar, tetapi juga atas hal sederhana seperti kesehatan yang masih memungkinkan berjalan setiap pagi.

Masa pensiun memberi ruang untuk melihat ke depan. Meski usia tak lagi muda, hidup belum berhenti. Saya bertanya pada diri sendiri, apa yang masih ingin dipelajari dan apa yang bisa dikontribusikan kepada orang lain.

Mungkin ini saatnya mencoba hobi yang dulu sempat tertunda. Apapun itu. Atau mungkin inilah waktu untuk berbagi pengalaman melalui tulisan atau obrolan sambil menunggu adzan di surau kampung. Pikiran sehat mendorong untuk tetap terbuka pada kemungkinan baru, tanpa takut gagal atau merasa terlambat.

Tentu, ada hari-hari ketika tubuh terasa lelah atau pikiran dirundung kekhawatiran tentang masa depan. Di saat seperti itu, saya belajar untuk menerima keterbatasan dengan lapang dada. Shalat, berdoa, atau mengobrol dengan sesama makhluk membantu untuk menemukan ketenangan. Menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitar juga ternyata seperti “vitamin” untuk pikiran. Sekadar ngobrol di teras dengan tetangga atau menghubungi teman lama bisa menghidupkan kembali semangat.

Refleksi diri dan pikiran sehat adalah dua sisi dari koin yang sama. Dengan merenung artinya belajar mensyukuri apa yang telah ada, menerima apa yang tak bisa diubah, dan membuka hati untuk hari esok. Sebagai pensiunan, saya masih punya cerita untuk ditulis, kasih untuk dibagi, dan mimpi untuk dikejar. 

Hidup sehat dimulai dari pikiran yang sehat, dan pikiran sehat lahir dari kesediaan untuk terus belajar tentang diri sendiri. Ke mana pun langkah ini membawa, saya ingin menjalaninya dengan penuh makna. Satu hari pada satu waktu.

0 comments :

Post a Comment