Because one lives life only once, so we must do everything we want to do.
Kata-kata Kansai Yamamoto ini seperti hembusan angin segar di tengah kehidupan modern. Desainer Jepang yang legendaris itu mengajak kita untuk melepaskan diri dari belenggu ketakutan dan berani mengejar segala yang diinginkan. Namun di balik semangat tanpa batas itu, tersembunyi sebuah kebenaran yang tajam bahvwa kehidupan manusia sebenarnya berbatas.
Waktu kita di bumi ini terukur. Ketika saatnya tiba, cahaya kehidupan akan padam. Tubuh yang dulu penuh energi kembali ke tanah, dan kita memasuki dunia gelap keabadian. Kematian adalah satu-satunya kepastian dalam kehidupan di planet ini. Tidak ada yang bisa menawar, menunda, atau menghindarinya. Ironisnya, justru kesadaran akan kematian inilah yang seharusnya membebaskan kita.
Ketika kita benar-benar memahami bahwa hidup ini sementara, maka segala alasan untuk bersikap angkuh, menyakiti orang lain, atau hidup dalam derita yang muram berkepanjangan menjadi tidak masuk akal. Mengapa harus sombong jika besok malaikat menjemput. Mengapa harus menyimpan dendam atau iri jika waktu yang tersisa begitu berharga. Mengapa memilih hidup murung jika kita bisa memilih hidup bahagia.
Hidup yang sesungguhnya mesti dijalani sesuai hati nurani, sesuai naluri, dan sesuai keinginan yang tulus. Bukan sekadar memuaskan ego, melainkan untuk merasakan kesenangan yang mendalam dan memberi makna.
Di era kekinian yang penuh gangguan, kita sering terjebak hal-hal yang merusak kedamaian. Tetangga yang tidak peka, keriuhan politik yang tak kunjung reda, kerumitan birokrasi, kata-kata menghina dan merendahkan, keluarga yang membuat hati tidak nyaman, sahabat yang egois, hingga rutinitas pekerjaan yang menyiksa. Semua itu perlahan menarik kita ke dalam lumpur.
Saatnya berani menjauhi. Bahkan meninggalkan jika perlu. Bukan karena kita egois, melainkan karena kita memilih menghargai sisa waktu yang kita miliki. Kehidupan terlalu singkat untuk terus menelan racun emosional. Melepas segala yang tidak lagi selaras dengan nilai dan kebahagiaan. Memutus hubungan toksik. Meninggalkan pekerjaan yang membunuh semangat. Menjauh dari perdebatan tidak berguna.
Alih-alih, menggunakan energi ke hal-hal yang membuat bangun di pagi hari dengan penuh antusiasme. Menemukan ikigai. Melakukan apa yang membuat hati bernyanyi, yang menantang sekaligus menyenangkan. Berbuat sesuatu yang membuat dunia terasa penuh warna sebelum cahaya kehidupan padam. Mungkin menggeluti seni, bisnis, perjalanan, menulis, mendidik anak, atau hidup sederhana di kampung. Apapun itu, mestinya dilakukan dengan sepenuh hati.
Kansai Yamamoto sendiri hidup dengan semangat *basara*—keberanian untuk tampil beda, mewah, dan penuh warna tanpa takut dikritik. Ia mengajarkan bahwa batasan terbesar sering kali hanya ada di kepala kita. Energi manusia memang tak terbatas, asal kita berani menggunakannya untuk hal yang benar.
Tentu saja, kebebasan ini bukan tanpa batas. Dua pedoman utama tetap harus dijaga yaitu nilai agama serta spiritualitas, dan hati nurani. Selama pilihan kita tidak melukai orang lain dan selaras dengan suara hati, maka kita bebas mengikuti irama kehidupan.
Bangun setiap pagi dengan kesadaran bahwa hari ini boleh jadi yang terakhir. Apakah kita masih mau menghabiskan waktu untuk marah-marah, menggerutu tentang pekerjaan, atau terus menunda mimpi karena takut gagal. Kesadaran akan kematian justru seharusnya membuat kita lebih kuat dan lebih hidup.
Hidup yang baik bukanlah hidup berumur panjang, melainkan hidup yang penuh senyum, penuh karya, penuh keberanian, dan penuh kasih. Tidak menunggu besok. Tidak juga menunggu waktu yang tepat. Karena waktu yang tepat adalah sekarang.
Human energy is limitless. We must do everything we want to do—selama itu selaras dengan nurani dan tidak merugikan sesama. Melepas beban yang tidak perlu. Mencptakan kebahagiaan sendiri. Menciptakan kenangan indah. Dan ketika akhirnya cahaya kehidupan ini padam, kita bisa pergi dengan senyuman karena tahu bahwa kita telah hidup sepenuhnya.

0 comments :
Post a Comment