Powered by Blogger.
Home » » CATATAN PENSIUNAN 72 : BERMAIN

CATATAN PENSIUNAN 72 : BERMAIN

Written By Suheryana Bae on Saturday, June 20, 2026 | 10:42 AM

Ketika membuka kembali kenangan perjalanan hidup,  sejauh ingatan, hampir setiap fase kehidupan diisi dengan bermain. Bentuknya berubah-ubah mengikuti usia, tetapi kebutuhan untuk bermain seolah tidak pernah benar-benar hilang.

Di masa kecil, bermain bahkan menjadi bagian terpenting dalam kehidupan. Di bulan Ramadhan, pagi-pagi sekali sebelum matahari naik, kami berlarian menuju lapangan. Hendak bermain sepak bola bersama teman-teman. Padahal saat itu sedang berpuasa. Tenaga terbatas, tenggorokan kering, tetapi semangat bermain jauh lebih besar daripada rasa lapar dan haus.

Selain bermain bola, kami membuat lodong karbit yang jika disundut mengeluarkan bunyi menggelegar seperti meriam. Suara ledakannya membuat kami bergairah. Tidak ada motif, tidak membuat perut kenyang, tidak ada manfaat secara ekonomi, namun kami menikmatinya.

Memasuki usia remaja, permainan berubah Sepulang5 sekolah, lapangan sepak bola kembali menjadi tempat berkumpul. Kadang bermain di kampung sendiri, tetapi lebih sering di kampung sebelah. Pertandingan persahabatan sering berubah menjadi tontonan asyik. Para bapak duduk sarungan di pinggir lapang sambil menunggu waktu magrib. Mereka menjadi penonton sekaligus komentator yang sangat bersemangat.

Sesekali pertandingan memanas. Adu mulut terjadi. Kadang berlanjut menjadi perkelahian kecil tanpa senjata. Ada yang bertengkar karena pelanggaran, ada yang tersinggung oleh ejekan penonton, ada pula yang terbawa fanatisme kampung. Namun menariknya, beberapa hari kemudian, kembali bermain bersama seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Ketika memasuki masa sekolah menengah atas, permainan kembali berubah warna. Kali ini tidak lagi sepenuhnya tentang bola atau perlombaan fisik. Ada unsur lain yang mulai hadir, yaitu ketertarikan kepada lawan jenis.

Kegiatan bersama antara laki-laki dan perempuan menjadi ruang bermain romantis. Ada lirikan mata atau  kelakar ringan. Ada perasaan yang tumbuh perlahan tanpa banyak kata. Cinta remaja ala kampung lahir dari perjumpaan-perjumpaan sederhana itu.

Memasuki masa kuliah, bentuk permainan beragam. Sebagian energi tersalurkan melalui organisasi kemahasiswaan. Sebagian lagi melalui kegiatan lintas alam, diskusi, aktivitas keagamaan, atau sekadar nongkrong bersama teman-teman.  Jika dipikir-pikir, banyak aktivitas yang tampak serius sesungguhnya tetap mengandung unsur bermain.

Manusia memang membutuhkan ruang untuk berkumpul, berinteraksi, berbagi cerita, dan merasakan kebersamaan. Dalam ruang itulah permainan mengambil bentuk yang berbeda-beda.

Menariknya, kebutuhan bermain ternyata tidak berhenti ketika seseorang memasuki usia dewasa. Bahkan setelah bekerja, berkeluarga, dan memikul berbagai tanggung jawab, manusia tetap mencari permainan sesuai dengan usianya.

Ada yang menemukan kesenangan melalui touring, menikmati jalan pagi di alun-alun atau stadion,  menghabiskan waktu dengan memancing, berkebun, bermain musik, atau berkumpul di warung kopi bersama teman-teman lama.

Sebagian lainnya menemukan ruang bermain di lingkungan yang lebih spiritual. Pergi ke masjid lebih awal, bertemu sahabat-sahabat lama, lalu mengobrol ringan di sela-sela waktu salat. Topiknya bisa apa saja. Kadang serius, kadang tidak jelas arahnya. Namun di sana ada kebahagiaan sederhana.

Kalau direnungkan lebih dalam, mungkin bermain bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Bermain pada hakikatnya adalah bagian dari kebutuhan sosial manusia. Melalui bermain, manusia membangun komunikasi, mempererat hubungan, dan menjaga keterhubungan dengan sesama.

Banyak kegiatan sesungguhnya memiliki esensi yang sama. Berburu, bermain musik, nonton konser, mendaki gunung, diskusi, berdebat di warung kopi, mengikuti pertemuan organisasi, atau travelling. Semuanya mengandung unsur interaksi, kegembiraan, dan pengalaman bersama.

Mungkin karena itulah orang yang kehilangan kemampuan bermain sering kehilangan semangat hidupnya. Hidup berubah menjadi rangkaian kewajiban yang melelahkan. Hari-hari hanya berisi pekerjaan, tanggung jawab, dan rutinitas. Tidak ada ruang untuk menikmati perjalanan.

Padahal manusia tidak diciptakan hanya untuk bekerja. Kita juga membutuhkan kegembiraan, tertawa, dan kebersamaan. 

Ketika memasuki usia senja, kebutuhan itu justru menjadi semakin penting. Banyak orang pensiun dari pekerjaan, tetapi lupa mencari pengganti ruang sosial yang selama puluhan tahun mengisi hidupnya. Akibatnya hari-hari terasa kosong dan membosankan.

Karena itu, jangan berhenti bermain hanya karena pertambahan usia. Bermain tidak selalu berarti berlari di lapangan atau melakukan aktivitas yang menguras tenaga. Bermain bisa berjalan santai bersama teman, bercengkerama dengan cucu, berkebun, mengikuti pengajian, membaca buku bersama komunitas, atau sekadar menikmati secangkir kopi sambil bertukar cerita.

Yang penting bukan bentuk permainannya, melainkan kegembiraan yang dihadirkan.

Barangkali salah satu tanda bahwa seseorang masih berjiwa muda adalah kemampuannya menikmati permainan. Sebab selama manusia masih mampu bermain, tertawa, dan menjalin hubungan dengan sesama, selama itu pula masih memiliki semangat hidup.


Maka ketika berada di usia senja, jangan lupa bermain. Bukan untuk menghabiskan waktu, melainkan untuk menjaga kehidupan tetap bergairah. Manusia berhenti bermain bukan karena bertambah usia, tetapi karena kehilangan teman bermain.

0 comments :

Post a Comment