Orang yang hidup pada zamannya adalah orang-orang yang mampu membaca kondisi dan perubahan zaman. Dan percepatan perubahan zaman di abad ke 21 begitu cepatnya.
Program-program aplikasi komputer berubah nyaris setiap saat, perkembangan smarthphone membuat terengah-engah mengejarnya, jenis-type dan spesifikasi kendaraan bermotor atau mobile berubah setiap waktu.
Bagi orang miskin yang tak kunjung memiliki mobile cukup mengatakan "menunggu type terbaru."
Sebenarnya perubahan tidak hanya terjadi pada teknologi tetapi pada tatanan hidup bermasyarakat.
Bahwa pola komunikasi berubah seiring dengan masuknya listrik dan televisi di perdesaan dan semakin berubah dengan masifnya perkembangan internet beserta seluruh turunannya --facebook, tweeter, email, istagram, WA, line etc. --
Bahwa orientasi karier pada remaja berubah seiring perubahan lingkungan dan informasi. Dokter, insinyur, PNS, bukan lagi cita-cita favorit bergeser mungkin menjadi artis, pemain sepakbola, enterpreneur, penulis atau motivator.
Bahwa dunia pendidikan pun mengalami banyak perubahan sehingga banyak pesantren kehilangan santri, Perguruan Tinggi merambah sampai ke Kabupaten, Sekolah Menengah Atas bertebaran di Kecamatan, Sekolah Menengah Pertama mudah dijangkau anak Desa. Sarjana satu tidak lagi membanggakan bagi anak dan orang tua.
Bahwa budaya di lingkungan birokrasi pun mengalami banyak perubahan. Surat menyurat atau mengirim dokumen lebih praktis dengan email. Mengirim informasi cukup dengan sms atau BBM atau chatting. Pengarsipan lebih efisien dengan arsip digital. Berbagai referensi dan informasi cukup download. Penyebarluasan informasi bukan lagi zamannya dengan "wawar" pake mobil penerangan atau penabuh gong di desa. Banyak, banyak dan lebih banyak lagi trend perubahan. Bahkan yang "mengerikan" tuntutan pendidikan pun semakin tinggi. Tidak lagi cukup dengan SPG bagi guru, atau sarjana S1 bagi Pejabat struktural.
Kenyataan ini, mau tidak mau, suka tidak suka, cocok tidak cocok, sudah menjadi nyata. Dan birokrat yang tidak mampu membaca tanda-tanda zaman akan kehilangan kesempatan untuk berkarya. Tantangan sekaligus mengerikan.
Sebenarnya perubahan tidak hanya terjadi pada teknologi tetapi pada tatanan hidup bermasyarakat.
Bahwa pola komunikasi berubah seiring dengan masuknya listrik dan televisi di perdesaan dan semakin berubah dengan masifnya perkembangan internet beserta seluruh turunannya --facebook, tweeter, email, istagram, WA, line etc. --
Bahwa orientasi karier pada remaja berubah seiring perubahan lingkungan dan informasi. Dokter, insinyur, PNS, bukan lagi cita-cita favorit bergeser mungkin menjadi artis, pemain sepakbola, enterpreneur, penulis atau motivator.
Bahwa dunia pendidikan pun mengalami banyak perubahan sehingga banyak pesantren kehilangan santri, Perguruan Tinggi merambah sampai ke Kabupaten, Sekolah Menengah Atas bertebaran di Kecamatan, Sekolah Menengah Pertama mudah dijangkau anak Desa. Sarjana satu tidak lagi membanggakan bagi anak dan orang tua.
Bahwa budaya di lingkungan birokrasi pun mengalami banyak perubahan. Surat menyurat atau mengirim dokumen lebih praktis dengan email. Mengirim informasi cukup dengan sms atau BBM atau chatting. Pengarsipan lebih efisien dengan arsip digital. Berbagai referensi dan informasi cukup download. Penyebarluasan informasi bukan lagi zamannya dengan "wawar" pake mobil penerangan atau penabuh gong di desa. Banyak, banyak dan lebih banyak lagi trend perubahan. Bahkan yang "mengerikan" tuntutan pendidikan pun semakin tinggi. Tidak lagi cukup dengan SPG bagi guru, atau sarjana S1 bagi Pejabat struktural.
Kenyataan ini, mau tidak mau, suka tidak suka, cocok tidak cocok, sudah menjadi nyata. Dan birokrat yang tidak mampu membaca tanda-tanda zaman akan kehilangan kesempatan untuk berkarya. Tantangan sekaligus mengerikan.

0 comments :
Post a Comment