“ Kata-kata seperti anak panah, “ kata
orang bijak. Sekali dilepas tidak dapat ditarik kembali.
Kalau ada salah kata kemudian meminta
maaf, maka permintaan maaf pada hakekatnya adalah penegasan atau pengakuan atas
kesalahan.
Maka berhati-hatilah dalam mengeluarkan
kata-kata, apalagi bagi seseorang yang menjadi panutan, idola, atau pemimpin
masyarakat. Karena apa yang dikatakannya akan dianggap benar, kendati belum
tentu benar.
Pada saat orang sukses mengatakan : “
tidak perlu sekolah yang penting kerja keras dan
disiplin. “ Masyarakat dapat
terprovokasi untuk tidak belajar di sekolah, karena tanpa sekolahpun bisa
meraih sukses.
Atau sebaliknya ketika ada Profesor yang
sukses secara akademis dan finansial mengatakan : “ bahwa dengan pendidikan orang
semakin dekat ke pencapaian sukses. Ilmu adalah pembuka kunci keberhasilan.”
Kata-kata ini tentu akan memotivasi sebagian anak sekolahan untuk belajar
serius, bahkan andaipun tidak memiliki biaya memadai.
TETAPI perlukah sangat berhati-hati, ekstra hati-hati, sehingga hemat dalam mengeluarkan kata-kata karena takut salah. Saya kira tidak
begitu juga. Cukup dengan hati-hati saja dan belajar berbicara yang benar.
Harus tumbuh kepercayaan bahwa orang lain memiliki kematangan emosional dan
pemikiran sehingga tidak rapuh seperti anak kecil.

jika diam itu emas,
ReplyDeletemaka berkata-kata adalah mutiara
Mudah-mudahan seperti adanya
ReplyDelete