Bahasa aturan atau katakanlah bahasa hukum terkadang seperti bahasa kahyangan yang multi tafsir, abu-abu, dan ditafsirkan sekehendak penafsir. Sebut saja misalnya "rasa keadilan", apakah maknanya. Pasti banyak sesuai dengan jumlah penafsir. Atau "kepatutan dan kewajaran." Apa itu patut dan apa itu wajar, siapa yang mengatakan patut dan siapa yang mengatakan wajar, ukuran atau kriteria patut dan wajar itu seperti apa.
Maka kalau bahasa hukum diinterpretasikan oleh orang awam, jadilah perdebatan warung kopi. Tanpa landasan yang jelas tanpa rujukan yang jelas. Yang menang adalah yang paling banyak ngomong, paling banyak membual, paling ngotot, paling bertahan, atau paling tidak tahu malu. Sebenarnya tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah sepanjang tidak ada acuan yang jelas dan pemahaman yang komprehensif.
Maka perdebatan orang awam atau perdebatan warung kopi hanyalah pengisi waktu atau sekedar kecakapan berargumentasi. Kalau tidak perlu, jangan terjebak dalam perdebatan sia-sia, apalagi kalau merasa bukan kewenangan dan bukan bidang yang dikuasai; karena hasilnya hanyalah kesia-siaan dan ill feel bagi yang baper. Lebih baik bertanya kepara akhlinya atau bertanya pada praktisi. Selesai.

0 comments :
Post a Comment