Kantor Lipat
Trend dunia ke depan adalah virtual office. Ukuran ruang
tidak lebih dari 7 x 12 Inchi. Seukuran laptop. Di situlah orang berkantor.
Mengendalikan beberapa, ratusan, bahkan ribuan karyawan. Transaksi puluhan,
ratusan juta bahkan milyaran rupiah.
Maka ke depan orang tidak perlu lagi ruang kantor tetap dengan
meubeuler lux, gambar garuda, foto
presiden-wakil presiden, lukisan mahal, pendingin ruang, ruang rapat, laptop
dan atau komputer. Tidak perlu lagi kursi putar atau TV di ruangan.
Tidak akan terlihat lagi kertas-kertas berserakan di atas
meja, tumpukan dokumen dan kontrak kerja, aneka pulpen dari yang murahan hingga
yang berhias keemasan, deretan buku yang berjejer dengan arogansi akademis.
Di manakah pemimpin masa depan berkantor ?
Di mana saja. Bisa di gunung, di hotel, di sawah, di
pantai, di mesjid, di rumah tetangga, di di Jakarta, di Bandung atau di Pangandaran. Di
setiap tempat yang ada jaringan telepon dan internet. Di ruangan yang kecil
tetapi bisa memuat ribuat dokumen, ribuan foto, dan jutaan file.
Bahkan rapat bisa dengan teknologi. Peserta tersebar di
berbagai negara tetapi berkomunikasi aktif lewat jaringan dan teknologi. Tele
conference.
Begitu luar biasa perkembangan peradaban manusia.
Seorng pejabat kabupaten tanpa pkaian seraga, boleh jadi hanya
memakai celana pende kaus casual dan sendal jepit menelpon staf : “Hallow, koreksi surat sudah
diemail. Tinggal print. Tanda tangan di scan saja bos .... Key bapa mau lanjutin mendaki gunung. Kalo
dah selesai kirim ke Propinsi via email. Selamat bekerja, jangan lupa download Lee
Ritenoor dan kirim segera. “
Luar Biasa kawan ....

0 comments :
Post a Comment