Aku coba menilpun seorang sahabat. Jawabannya : "nomor ini tidak dapat dihubungi." Kemaren-kemaren respon ini menimbulkan sakit hati, perasaan diabaikan , tidak berharga, dan didholimi.
TETAPI hari ini tidak. Tidak sesakit lima, empat, tiga, dua hari ke belakang.
Aku membangun keyakinan bahwa kehidupan ku harus berjalan, tanpa atau dengan orang lain. Tanpa atau dengan seseorang.
Bersama waktu yang berlalu, luka ini akan tersembuhkan.
Setiap orang berhak membangun kehidupannya dengan prinsip-prinsip, kesetiaan, tanggungjawab, kecemasan atau ketakutan, harapan, kekuatan, lingkungan bahkan dunianya sendiri. Aku harus dan akan menghargai prinsip ini.
Dan aku pun mempunyai hak untuk membangun kehidupan. Membangun momen-momen indah, merajut kebersaamaan, membina hubungan harmonis, berkarya dan beraktualitasi diri. Membangun kebahagiaan dan keindahan hidup sendiri. Mungkin dengan melupakan seseorang atau terkadang dengan mengingat seseorang.
Aku harus melangkah ke depan bersama dengan kekecewaaan, kenangan indah, harapan, ingatan menyakitkan, optimisme, dan kepasrahan pada ilahi. Berdamai dengan masalah. Tidak boleh ada yang "mati" karena orang lain atau seseorang. Yang berhak mematikan dan atau menghidupkan seseorang hanya Allah Mahakuasa.
Itulah keyakinan yang sedang aku bangun. Dan peralahan tapi terasa, ada perubahan-perubahan positif di dalamnya.
Home
»
Kontemplasi
»
Catatatan 9 Jan 2018 : Membangun diri

0 comments :
Post a Comment