Powered by Blogger.
Home » » DALAM SUNYI MENEMUKAN KEBAHAGIAAN

DALAM SUNYI MENEMUKAN KEBAHAGIAAN

Written By Suheryana Bae on Sunday, April 13, 2025 | 5:02 PM

 


Hidup adalah tentang perjalanan. Bukan sekadar tujuan yang dikejar, bukan pula panggung untuk mempertontonkan pencapaian atau kebahagiaan yang dipoles. Ia adalah rangkaian langkah demi langkah, lengkap dengan lelah dan lega, senyap dan riuh, jatuh dan bangun. Ada saat untuk berlari, ada saat untuk diam dan mengamati—bahkan terkadang, duduk sejenak dan bertanya, ke mana aku sebenarnya menuju.

Sering kali kita terjebak dalam dorongan untuk terlihat bahagia. Kita diajari bahwa senyuman yang lebar dan kata-kata manis lebih penting daripada isi hati yang jujur. Maka kita pun berbagi cerita, gambar, dan kisah yang tampak indah, meski kadang jauh dari kenyataan. Kita ingin dikagumi, diapresiasi, dianggap berhasil—apalagi di dunia digital dengan berbagai media sosial seolah menjadi panggung besar. Seakan-akan ada perlombaan untuk tampil paling menarik, paling menginspirasi, paling disukai. Dikejar-kejar oleh like, komentar, dan sorotan. Tapi benarkah itu perlu?

Apa gunanya hidup tampak gemilang jika dalamnya rapuh? Apa artinya gelak tawa yang disebarluas, jika hati sendiri tak turut tertawa? Barangkali itu adalah salah satu bentuk penderitaan paling sunyi—ketika seseorang harus terus tampil bahagia demi memenuhi ekspektasi dunia, sementara jiwanya kelelahan.

Maka, berbagi cerita seharusnya bukan tentang pamer keberhasilan, apalagi untuk membangun citra. Cerita yang sejati lahir dari ruang-ruang batin yang hening dan jujur. Ia menjadi sarana untuk merenung, mencatat jejak, menyentuh sisi terdalam dari pengalaman hidup yang kadang sederhana, kadang rumit. Sebuah cerita yang ditulis dengan hati akan menemukan jalannya sendiri, menyentuh hati.

Ada nilai dalam keheningan. Ada makna dalam menjalani hidup tanpa banyak sorotan, namun penuh penghayatan. Tidak semua harus dipamerkan, tidak semua perlu disampaikan. Tetapi bila suatu saat cerita itu dibagikan, biarlah ia menjadi cermin—bukan panggung. Cermin bagi yang membaca, dan bagi yang menulisnya. Agar hidup, meski biasa-biasa saja, tetap bermakna. Tetap layak dijalani. Dan pada akhirnya, patut disyukuri.

Sering kali justru dalam sunyi kita menemukan kebahagiaan. Ketika diri tidak lagi sibuk ingin dipuja-puji. Ketika bisa bersikap masa bodoh terhadap pandangan dan perkataan orang-orang lain. Ada kebebasan yang sunyi di sana—dan justru karena sunyi itulah, kita merasakan keutuhan.

0 comments :

Post a Comment