Hidup adalah tentang
perjalanan. Bukan sekadar tujuan yang dikejar, bukan pula panggung untuk
mempertontonkan pencapaian atau kebahagiaan yang dipoles. Ia adalah rangkaian
langkah demi langkah, lengkap dengan lelah dan lega, senyap dan riuh, jatuh dan
bangun. Ada saat untuk berlari, ada saat untuk diam dan mengamati—bahkan
terkadang, duduk sejenak dan bertanya, ke mana aku sebenarnya menuju.
Sering kali
kita terjebak dalam dorongan untuk terlihat bahagia. Kita diajari bahwa
senyuman yang lebar dan kata-kata manis lebih penting daripada isi hati yang
jujur. Maka kita pun berbagi cerita, gambar, dan kisah yang tampak indah, meski
kadang jauh dari kenyataan. Kita ingin dikagumi, diapresiasi, dianggap
berhasil—apalagi di dunia digital dengan berbagai media sosial seolah menjadi
panggung besar. Seakan-akan ada perlombaan untuk tampil paling menarik, paling
menginspirasi, paling disukai. Dikejar-kejar oleh like, komentar, dan
sorotan. Tapi benarkah itu perlu?
Apa gunanya
hidup tampak gemilang jika dalamnya rapuh? Apa artinya gelak tawa yang disebarluas,
jika hati sendiri tak turut tertawa? Barangkali itu adalah salah satu bentuk
penderitaan paling sunyi—ketika seseorang harus terus tampil bahagia demi
memenuhi ekspektasi dunia, sementara jiwanya kelelahan.
Maka, berbagi
cerita seharusnya bukan tentang pamer keberhasilan, apalagi untuk membangun
citra. Cerita yang sejati lahir dari ruang-ruang batin yang
hening dan jujur. Ia menjadi sarana untuk merenung, mencatat jejak, menyentuh
sisi terdalam dari pengalaman hidup yang kadang sederhana, kadang rumit. Sebuah
cerita yang ditulis dengan hati akan menemukan jalannya sendiri, menyentuh hati.
Ada nilai dalam
keheningan. Ada makna dalam menjalani hidup tanpa banyak sorotan, namun penuh
penghayatan. Tidak semua harus dipamerkan, tidak semua perlu disampaikan.
Tetapi bila suatu saat cerita itu dibagikan, biarlah ia menjadi cermin—bukan
panggung. Cermin bagi yang membaca, dan bagi yang menulisnya. Agar hidup, meski
biasa-biasa saja, tetap bermakna. Tetap layak dijalani. Dan pada akhirnya, patut
disyukuri.
Sering kali justru
dalam sunyi kita menemukan kebahagiaan. Ketika diri tidak lagi sibuk ingin
dipuja-puji. Ketika bisa
bersikap masa bodoh terhadap pandangan dan perkataan orang-orang lain. Ada
kebebasan yang sunyi di sana—dan justru karena sunyi itulah, kita merasakan keutuhan.


0 comments :
Post a Comment