Negara sedang tidak
baik-baik saja. Begitu yang terdengar dari berbagai sumber informasi.
Pertumbuhan ekonomi tidak sesuai harapan, gelombang pemutusan hubungan kerja,
kesulitan pendanaan program-program unggulan, arus investasi kian menurun,
hingga fenomena premanisme dan pemalakan oleh kelompok yang mengatasnamakan
organisasi masyarakat. Di tengah semua itu, geliat hiburan masyarakat—termasuk
saat momen mudik—pun tampak lesu. Seolah kehidupan publik sedang mengalami
kelelahan panjang, tertatih mengatur napas di antara satu gejolak ke gejolak
berikutnya.
Riuh rendah
suara-suara dan pendapat pun bermunculan. Dari penguasa hingga pakar, dari
akademisi sampai para artis, media sosial menjadi panggung yang ramai. Banyak
teori dilemparkan, istilah-istilah ilmiah disodorkan. Tapi alih-alih
mencerahkan, semua itu kadang justru terasa menjauhkan. Terlampau rumit untuk
dicerna, terlalu njelimet untuk menjadi pijakan tindakan. Ujungnya, hanya
menjadi konsumsi pengisi waktu, hiburan yang disulap menjadi kesan “melek
informasi”, tanpa benar-benar mengubah apa pun di dasar kehidupan.
Lantas
bagaimana dengan warga masyarakat kebanyakan? Mereka yang tinggal di desa-desa,
para petani yang menyambung hidup dari tanah, para peternak yang menggantung
harapan pada musim dan pakan. Atau mereka yang di pinggiran kota, para
pemulung, pengangguran, buruh kecil, pemilik warung, pengemis yang hanya bisa
menggantungkan harap dari belas kasih. Dalam situasi yang serba tidak menentu
ini, apa yang sebenarnya bisa dilakukan?
Jawabannya
mungkin sederhana, justru karena hidup mereka memang tidak dibangun dari
kerumitan teori. Yang dibutuhkan bukanlah rumus-rumus besar, tetapi
kebijaksanaan kecil dalam keseharian. Yang pertama dan utama adalah menjalani
hidup apa adanya. Tidak perlu merasa mumet karena berita-berita besar yang tak
dapat disentuh. Tidak perlu stres karena wacana-wacana yang tidak pernah masuk
ke dapur atau ke ladang. Mengalir saja seperti air—dengan ketenangan dan kesadaran
penuh bahwa hidup adalah hari ini, bukan debat-debat yang membingungkan.
Hidup
sederhana menjadi kekuatan, bukan kelemahan. Ketika dunia ramai dengan
kejar-kejaran status dan kekayaan, memilih untuk tidak terjebak dalam ambisi
berlebihan justru adalah bentuk kebebasan. Tidak perlu menjadi terkenal, menjadi
super kaya—menjadi cukup saja. Bahagia bisa ditemukan di halaman rumah, di
sawah yang hijau, di kebun yang rindang, dalam suara kokok ayam di pagi hari,
di ruang makan sederhana bersama keluarga yang sehat dan utuh.
Di atas
segalanya, patuh pada aturan agama adalah fondasi utama. Di situlah kompas
hidup sejati berada. Ketika semuanya terasa goyah, nilai-nilai spiritual yang
kokoh bisa menjadi penopang. Selain itu, aturan perundang-undangan negara tetap
harus ditaati sebagai bentuk tanggung jawab sipil. Jangan melanggar meski
kecil, karena dari yang kecil itulah kerusakan besar sering kali bermula.
Membayar
pajak, retribusi, atau kewajiban lain dengan jujur adalah bentuk kesetiaan
kepada kehidupan bersama. Jangan menipu, jangan menyembunyikan. Sekalipun
mungkin kecil jumlahnya, ketulusan dalam membayar adalah bentuk partisipasi
dalam bangunan negara yang adil dan bersih.
Menjaga etika
dan akhlak adalah warisan yang tak lekang waktu. Di tengah kebingungan nilai di
masyarakat, sikap jujur, rasa malu ketika berbuat salah, semangat untuk tetap
optimis dan saling menghormati menjadi pelita. Moralitas bukan sekadar wacana,
tapi cara hidup yang ditunjukkan dalam tindakan kecil sehari-hari.
Tak perlu
menggantungkan diri pada penguasa. Bantuan yang datang karena alasan politis,
penuh syarat tersembunyi, atau tidak sesuai aturan, sebaiknya dihindari dengan
bijak. Jangan tergoda membuat proposal hanya karena ingin mengakses program,
apalagi jika niatnya hanya memperkaya diri sendiri. Lebih baik mengurangi beban
dan menggantinya dengan kemandirian.
Bekerja
sungguh-sungguh adalah kunci. Kemandirian diri, keluarga, dan lingkungan adalah
hasil dari kerja keras yang tidak mengeluh, kerja yang dilakukan dengan rasa
syukur. Dari ladang kecil, dari warung sederhana, dari gerobak dorong, dari peternakan
ayam yang dirawat dengan hati—semua bisa menjadi sumber keberkahan jika
dilakukan dengan penuh cinta dan tanggung jawab. Dan bila dikerjakan bersama,
dalam semangat gotong royong, kekuatan itu berlipat menjadi daya tahan yang
luar biasa.
Akhirnya,
jangan bebani pikiran dengan hal-hal yang di luar kendali. Tidak semua hal
harus dipikirkan, tidak semua harus dikuasai. Ada ruang untuk pasrah, untuk
menyerahkan kehidupan kepada Yang Maha Kuasa. Dalam keterbatasan, justru sering
kali kita menemukan kebijaksanaan. Dalam diam dan kesederhanaan, ada kedamaian
yang tak bisa dibeli oleh siapa pun.
Maka, ketika
negara tidak sedang baik-baik saja, rakyat pun bisa tetap baik-baik saja.
Dengan caranya sendiri. Dengan kekuatan diam yang tak terlihat, namun
sesungguhnya adalah tiang-tiang penyangga negeri yang paling kokoh. Dalam senyap masyarakat awam, negara tetap berdiri.


0 comments :
Post a Comment