Powered by Blogger.
Home » » MENEMUKAN MAKNA DALAM KERJA

MENEMUKAN MAKNA DALAM KERJA

Written By Suheryana Bae on Sunday, April 27, 2025 | 8:02 PM

 


Pagi masih berkabut dan remang saat aku melangkah ke kandang ayam. Dengan semangat yang segar dan hati penuh harapan, aku menyiapkan makanan untuk ayam-ayam peliharaan. Suara ayam-ayam kecil yang riuh menyambut, seolah ikut merayakan awal hari yang baru. Di sela aroma tanah basah dan desir angin pagi, aku menaburkan sisa-sisa makanan, menuangkan air bersih, dan memperhatikan mereka berebut dengan lincah. Tak ada sorotan kamera, tak ada sorak-sorai. Hanya aku, ayam-ayam itu, dan langit yang perlahan berwarna keemasan.

Sore harinya, ketika matahari mulai condong ke barat dan bayang-bayang memanjang di halaman, aku kembali ke kandang. Menyapu sampah-sampah, membersihkan kotoran, merapikan peralatan, lalu mengunci pintu kandang. Setiap gerakan kecil terasa berarti, seakan menyambung hidupku sendiri dengan denyut dunia di sekeliling. Peluh yang mengalir bukan beban, melainkan tanda bahwa hari ini telah diisi dengan kerja yang sungguh menyenangkan.

Kerja adalah napas yang menghidupkan hari-hari. Bukan semata soal mencari upah, bukan sekadar menukar waktu dengan imbalan, apalagi mengejar pujian dari orang-orang. Kerja adalah jalan sunyi, tempat manusia bertemu dengan makna terdalam dari kehidupannya. Sebuah filsafat mengatakan bahwa kerja adalah derita penentuan diri—di situlah manusia membangun siapa dirinya dan menegaskan keberadaan setapak demi setapak, melalui kesabaran, ketekunan, dan pengorbanan yang kadang tak terlihat.

Setiap tugas, sekecil apa pun, memberi alasan untuk bangun di pagi hari. Ada getar semangat yang bergemuruh dalam dada, serta ada tujuan yang menanti. Seperti dalam filosofi Ikigai, hidup menemukan maknanya saat kita berada di tengah-tengah apa yang kita cintai, apa yang kita kuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan apa yang memberi nilai pada keberadaan kita. Ikigai bukan tentang pencapaian besar yang gemerlap, tetapi tentang setia menjalani rutinitas kecil dengan penuh cinta dan kesadaran. Memberi makan ayam, membersihkan halaman, merawat tanah—semua bisa menjadi pintu kecil menuju kebahagiaan.

Di antara peluh dan kelelahan, ada kepuasan yang tumbuh diam-diam. Rasa syukur yang tidak bisa dibeli dengan harta apa pun. Karena keberhasilan sejati bukan pada seberapa jauh kita melangkah, tetapi pada kesungguhan kita berjalan di arah yang telah ditentukan untuk kita.

Sebaliknya, tanpa kerja, waktu menjadi kosong dan hampa. Hari-hari bergulir tanpa makna, dan jiwa kehilangan pijakannya. Sebagaimana diingatkan Tuhan Yang Mahakuasa dalam firman-Nya, bahwa sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian jika waktunya dihabiskan untuk kesia-siaan. Waktu adalah karunia yang hanya sekali diberikan; ia tidak pernah kembali. Setiap detik yang hilang adalah kehidupan yang tak lagi bisa direbut kembali.

Karena itu, kerja adalah anugerah yang harus disyukuri. Selama tangan ini masih kuat untuk bergerak, selama hati ini masih mau berniat baik, selama langkah ini masih mau menuju kebaikan, maka kerjakanlah dengan cinta. Sebab di dalam kerja yang sederhana dan setia itu, hidup menemukan cahayanya sendiri. Cahaya yang membimbing kita, perlahan tapi pasti, menuju makna sejati.

0 comments :

Post a Comment