Pagi masih
berkabut dan remang saat aku melangkah ke kandang ayam. Dengan semangat yang
segar dan hati penuh harapan, aku menyiapkan makanan untuk ayam-ayam
peliharaan. Suara ayam-ayam kecil yang riuh menyambut, seolah ikut merayakan
awal hari yang baru. Di sela aroma tanah basah dan desir angin pagi, aku
menaburkan sisa-sisa makanan, menuangkan air bersih, dan memperhatikan mereka
berebut dengan lincah. Tak ada sorotan kamera, tak ada sorak-sorai. Hanya aku,
ayam-ayam itu, dan langit yang perlahan berwarna keemasan.
Sore harinya,
ketika matahari mulai condong ke barat dan bayang-bayang memanjang di halaman,
aku kembali ke kandang. Menyapu sampah-sampah, membersihkan kotoran, merapikan
peralatan, lalu mengunci pintu kandang. Setiap gerakan kecil terasa berarti,
seakan menyambung hidupku sendiri dengan denyut dunia di sekeliling. Peluh yang
mengalir bukan beban, melainkan tanda bahwa hari ini telah diisi dengan kerja
yang sungguh menyenangkan.
Kerja adalah
napas yang menghidupkan hari-hari. Bukan semata soal mencari upah, bukan
sekadar menukar waktu dengan imbalan, apalagi mengejar pujian dari orang-orang.
Kerja adalah jalan sunyi, tempat manusia bertemu dengan makna terdalam dari
kehidupannya. Sebuah filsafat mengatakan bahwa kerja adalah derita penentuan
diri—di situlah manusia membangun siapa dirinya dan menegaskan keberadaan
setapak demi setapak, melalui kesabaran, ketekunan, dan pengorbanan yang kadang
tak terlihat.
Setiap tugas,
sekecil apa pun, memberi alasan untuk bangun di pagi hari. Ada getar semangat
yang bergemuruh dalam dada, serta ada tujuan yang menanti. Seperti dalam
filosofi Ikigai, hidup menemukan maknanya saat kita berada di tengah-tengah apa
yang kita cintai, apa yang kita kuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan apa yang
memberi nilai pada keberadaan kita. Ikigai bukan tentang pencapaian besar yang
gemerlap, tetapi tentang setia menjalani rutinitas kecil dengan penuh cinta dan
kesadaran. Memberi makan ayam, membersihkan halaman, merawat tanah—semua bisa
menjadi pintu kecil menuju kebahagiaan.
Di antara
peluh dan kelelahan, ada kepuasan yang tumbuh diam-diam. Rasa syukur yang tidak
bisa dibeli dengan harta apa pun. Karena keberhasilan sejati bukan pada
seberapa jauh kita melangkah, tetapi pada kesungguhan kita berjalan di arah
yang telah ditentukan untuk kita.
Sebaliknya,
tanpa kerja, waktu menjadi kosong dan hampa. Hari-hari bergulir tanpa makna,
dan jiwa kehilangan pijakannya. Sebagaimana diingatkan Tuhan Yang Mahakuasa
dalam firman-Nya, bahwa sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian jika
waktunya dihabiskan untuk kesia-siaan. Waktu adalah karunia yang hanya sekali
diberikan; ia tidak pernah kembali. Setiap detik yang hilang adalah kehidupan
yang tak lagi bisa direbut kembali.
Karena itu,
kerja adalah anugerah yang harus disyukuri. Selama tangan ini masih kuat untuk
bergerak, selama hati ini masih mau berniat baik, selama langkah ini masih mau
menuju kebaikan, maka kerjakanlah dengan cinta. Sebab di dalam kerja yang
sederhana dan setia itu, hidup menemukan cahayanya sendiri. Cahaya yang
membimbing kita, perlahan tapi pasti, menuju makna sejati.


0 comments :
Post a Comment