Ada masa-masa dalam
hidup yang kini terasa seperti mimpi.
Masih jelas dalam ingatan, di tahun-tahun pertama pernikahan, betapa segalanya
sederhana tapi penuh gairah. Kontrakan kecil sederhana, sepeda dan walkman yang
setia menemani keseharian, makan sederhana masakan istri tercinta, belanja
kecil ke toko di kota, dan berjalan di trotoar depan toko sambil berpegangan
tangan. Hari-hari dipenuhi obrolan ringan, mimpi masa depan, dan tawa yang
tidak ceria.
Waktu pun berjalan.
Anak-anak lahir, karier mulai menuntut lebih, dunia di luar sana mengharuskan
keterlibatan dalam berbagai aktivitas. Kesibukan kantor, acara-acara
kemasyarakatan, kebutuhan untuk membangun relasi, semua itu satu per satu
merebut jam-jam yang dulu kami miliki. Pulang ke rumah seringkali dengan tubuh
lelah, pikiran rumit, dan tenaga yang tinggal sisa. Kadang, tanpa sadar, kami
hanya berbagi diam, bukan lagi cerita. Ada rindu yang tertahan, tapi tak tahu
bagaimana mengucapkannya di tengah putaran hidup yang begitu cepat. Bahkan ada
masa-masa di mana kami harus berpisah tempat untuk sementara, karena tugas
kedinasan yang menuntutku keluar daerah atau penugasan di tempat yang jauh dari
rumah.
Kini, di usia senja
ketika tugas-tugas kedinasan mulai lepas, aku seperti mendapat kesempatan
kedua.
Waktu yang dulu serasa habis, kini mengalir lambat, memberiku ruang untuk
benar-benar hadir.
Tidak ada lagi agenda padat, tidak ada lagi telepon mendadak dari bos kantor.
Yang tersisa hanya kami, di rumah yang nyaman, di bawah atap yang pernah kami
bangun bersama dari titik nol.
Di usia seperti ini,
saat rambut mulai memutih dan langkah mulai pelan, justru aku merasakan
kebahagiaan. Bukan dari liburan mahal atau pesta besar, melainkan dari hal-hal
kecil. Menyiapkan teh bersama, berbincang santai di pagi atau sore hari, atau
sekadar duduk bersebelahan sambil memperhatikan ayam-ayam bermain di halaman.
Kadang, ada gurauan kecil yang membuat kami tertawa seperti dulu, ada juga
perdebatan ringan atau perselisihan yang segera diredakan dengan senyuman.
Aku belajar bahwa cinta
itu tidak hilang, ia hanya berganti wajah.
Dulu, cinta berwujud debar jantung yang cepat. Sekarang, ia menjadi ketenangan
yang hangat, kehadiran yang tidak mencolok tapi terasa sampai ke jiwa.
Aku juga belajar
membatasi diri dari keriuhan dunia luar. Bukan karena dunia itu buruk, tapi
karena aku tahu apa yang benar-benar berharga. Berharap sisa usiaku dipakai
untuk merawat apa yang dulu pernah kami tanam bersama dan mengembangkannya
lebih intens. Aku ingin lebih sering mengucapkan terima kasih, lebih bersyukur,
lebih perhatian dan mendengarkan, serta lebih sering benar-benar hadir.
Ternyata, di penghujung
perjalanan ini, aku menemukan bahwa pulang bukan hanya soal tempat.
Pulang adalah tentang hati yang menetap, tentang memilih untuk tetap tinggal,
untuk tetap mencinta, dalam segala keterbatasan dan keindahan yang sederhana.
Dan dalam keheningan
sore, dalam tawa kecil yang kami bagi, aku tahu di sinilah, di sisi orang yang
sejak awal bersamaku, aku benar-benar telah sampai di rumahku yang
sesungguhnya.


0 comments :
Post a Comment