Sore ini aku duduk di kursi rota depan kandang ayam. Setelah udara panas seharian, kini mulai sejuk. Suara binatang-binatang kampung dan kokok ayam sesekali mengisi keheningan. Usai memberi makan dan menyapu halaman, tubuh ini lelah, tapi hati terasa ringan. Dalam diam, aku merenung tentang perjalanan hidup. Betapa hidup ini sesungguhnya seperti musim—datang, tumbuh, matang, dan layu.
Aku percaya
bahwa hidup terbagi dalam beberapa fase, masing-masing dengan tugas dan
pelajaran sendiri. Ketika kecil, kita hidup dalam pelukan orang tua. Masa itu
mestinya menjadi waktu yang penuh kasih, tempat kita belajar bahasa, sopan
santun, dan bagaimana menjadi manusia. Di fase ini, seperti yang dikatakan Erik
Erikson, kita membentuk trust atau rasa percaya kepada dunia. Jika rusak
di sini, kita mungkin tumbuh menjadi pribadi yang curiga atau cemas
terus-menerus.
Lalu masa
remaja datang. Masa penuh rasa penasaran, pemberontakan, coba-coba, gejolak,
dan pencarian jati diri. Sebuah fase untuk memilih arah. Salah memilih teman
bisa menjerumuskan, tapi di sisi lain juga bisa jadi awal kebangkitan. Seorang
seniman pernah berkata, “Nakal boleh, jahat jangan.” Aku pikir itu tepat.
Karena kenakalan adalah bagian dari eksplorasi, tapi kejahatan adalah pilihan
yang sadar.
Saat dewasa
muda, kita mulai sadar bahwa hidup tak bisa terus menyalahkan siapa pun. Masa
untuk melihat luka dengan jujur, tapi juga bertanggung jawab atas langkah ke
depan. Carl Jung mengatakan, “Until you make the unconscious
conscious, it will direct your life and you will call it fate.” Kita sering
terjebak dalam pola lama tanpa menyadarinya—berulang kali gagal pada titik yang
sama, marah pada hal yang serupa, dan menyalahkan takdir. Tapi ketika kita
mulai menyelami diri, memaafkan, dan belajar dari luka, saat itulah kita
menjadi pribadi yang utuh. Kedewasaan bukan soal usia, melainkan kemampuan
untuk berdamai dengan masa lalu dan tidak lagi menyalahkan siapa pun—termasuk diri
sendiri.
Kemudian datang masa
bekerja. Meniti tangga karier, kadang jatuh, kadang berdarah-darah, tapi selalu
ada semangat untuk maju. Di masa ini, harusnya kita membuktikan diri, bukan
untuk pengakuan orang lain, tapi demi harga diri yang sehat. Pencapaian apa
pun, sekecil apa pun, layak dihargai. Menyekolahkan dan mendidik anak, membeli
rumah dengan jerih payah sendiri, menyelesaikan tugas dengan jujur dan
konsisten—semuanya adalah keberhasilan yang pantas dirayakan. Ketika dijalani
dengan hati, pekerjaan menjadi ibadah.
Dan kini, di usia
enampuluhan adalah fase terakhir—masa tua, masa pulang. Aku makin sadar, bahwa
di masa ini, hal terpenting adalah melepaskan. Melepaskan luka, melepaskan
dendam, bahkan melepaskan kebanggaan. Masa lalu, entah indah atau pahit, cukup menjadi
kenangan. Tidak perlu dibawa menjadi beban hari ini. Dalam kearifan timur,
kebijaksanaan lahir dari kemampuan membebaskan diri dari beban masa lalu dan
hadir utuh di saat ini. Dalam sufisme, pelepasan dari keterikatan duniawi
adalah jalan menuju kebeningan hati.
Aku ingin hidup mulai
hari ini ke depan. Bukan dalam bayang-bayang masa lalu. Tidak juga ingin terus
menyalahkan orang tua, teman, atau keadaan. Tidak perlu kecewa dengan segala
pengalaman, perjalanan, dan pencapaian. Semua sudah cukup. Hidup ini terlalu
singkat untuk diisi dengan beban yang sebetulnya bisa dilepaskan.


0 comments :
Post a Comment