Powered by Blogger.
Home » » REFLEKSI PERJALANAN HIDUP

REFLEKSI PERJALANAN HIDUP

Written By Suheryana Bae on Tuesday, April 29, 2025 | 5:25 PM



 Sore ini aku duduk di kursi rota depan kandang ayam. Setelah udara panas seharian, kini mulai sejuk. Suara binatang-binatang kampung dan kokok ayam sesekali mengisi keheningan. Usai memberi makan dan menyapu halaman, tubuh ini lelah, tapi hati terasa ringan. Dalam diam, aku merenung tentang perjalanan hidup. Betapa hidup ini sesungguhnya seperti musim—datang, tumbuh, matang, dan layu.

Aku percaya bahwa hidup terbagi dalam beberapa fase, masing-masing dengan tugas dan pelajaran sendiri. Ketika kecil, kita hidup dalam pelukan orang tua. Masa itu mestinya menjadi waktu yang penuh kasih, tempat kita belajar bahasa, sopan santun, dan bagaimana menjadi manusia. Di fase ini, seperti yang dikatakan Erik Erikson, kita membentuk trust atau rasa percaya kepada dunia. Jika rusak di sini, kita mungkin tumbuh menjadi pribadi yang curiga atau cemas terus-menerus.

Lalu masa remaja datang. Masa penuh rasa penasaran, pemberontakan, coba-coba, gejolak, dan pencarian jati diri. Sebuah fase untuk memilih arah. Salah memilih teman bisa menjerumuskan, tapi di sisi lain juga bisa jadi awal kebangkitan. Seorang seniman pernah berkata, “Nakal boleh, jahat jangan.” Aku pikir itu tepat. Karena kenakalan adalah bagian dari eksplorasi, tapi kejahatan adalah pilihan yang sadar.

Saat dewasa muda, kita mulai sadar bahwa hidup tak bisa terus menyalahkan siapa pun. Masa untuk melihat luka dengan jujur, tapi juga bertanggung jawab atas langkah ke depan. Carl Jung mengatakan, “Until you make the unconscious conscious, it will direct your life and you will call it fate.” Kita sering terjebak dalam pola lama tanpa menyadarinya—berulang kali gagal pada titik yang sama, marah pada hal yang serupa, dan menyalahkan takdir. Tapi ketika kita mulai menyelami diri, memaafkan, dan belajar dari luka, saat itulah kita menjadi pribadi yang utuh. Kedewasaan bukan soal usia, melainkan kemampuan untuk berdamai dengan masa lalu dan tidak lagi menyalahkan siapa pun—termasuk diri sendiri.

Kemudian datang masa bekerja. Meniti tangga karier, kadang jatuh, kadang berdarah-darah, tapi selalu ada semangat untuk maju. Di masa ini, harusnya kita membuktikan diri, bukan untuk pengakuan orang lain, tapi demi harga diri yang sehat. Pencapaian apa pun, sekecil apa pun, layak dihargai. Menyekolahkan dan mendidik anak, membeli rumah dengan jerih payah sendiri, menyelesaikan tugas dengan jujur dan konsisten—semuanya adalah keberhasilan yang pantas dirayakan. Ketika dijalani dengan hati, pekerjaan menjadi ibadah.

Dan kini, di usia enampuluhan adalah fase terakhir—masa tua, masa pulang. Aku makin sadar, bahwa di masa ini, hal terpenting adalah melepaskan. Melepaskan luka, melepaskan dendam, bahkan melepaskan kebanggaan. Masa lalu, entah indah atau pahit, cukup menjadi kenangan. Tidak perlu dibawa menjadi beban hari ini. Dalam kearifan timur, kebijaksanaan lahir dari kemampuan membebaskan diri dari beban masa lalu dan hadir utuh di saat ini. Dalam sufisme, pelepasan dari keterikatan duniawi adalah jalan menuju kebeningan hati.

Aku ingin hidup mulai hari ini ke depan. Bukan dalam bayang-bayang masa lalu. Tidak juga ingin terus menyalahkan orang tua, teman, atau keadaan. Tidak perlu kecewa dengan segala pengalaman, perjalanan, dan pencapaian. Semua sudah cukup. Hidup ini terlalu singkat untuk diisi dengan beban yang sebetulnya bisa dilepaskan.

Aku ingin menjadi seperti sore ini: tenang, jujur, dan sederhana. Tidak perlu menjadi hebat, cukup menjadi utuh. Kalau ada satu hal yang ingin aku wariskan, barangkali itu adalah: “jangan menunggu tua untuk belajar melepaskan”. Karena yang paling damai bukanlah yang paling banyak memiliki, tapi yang paling sedikit dibebani.

0 comments :

Post a Comment