Powered by Blogger.
Home » » Catatan dari kampung 5 : Saling Menghargai

Catatan dari kampung 5 : Saling Menghargai

Written By Suheryana Bae on Saturday, November 29, 2025 | 6:47 PM



Dalam setiap interaksi antar manusia, ada satu prinsip yang tak pernah usang,  saling menghargai. Penghargaan yang bukan lahir dari formalitas atau jabatan, melainkan dari sikap silih pikanyaah—saling mengasihi dengan tulus. Inilah inti pesan yang disampaikan, bahwa  dasar utama kita menghargai orang lain adalah mewujudkan kasih sayang, sebagaimana tergambar dalam Asmaul Husna Ar-Rahman Ar-Rahim, nama Allah yang menjadi induk segala sifat kasih sayang-Nya.

Ar-Rahman Ar-Rahim bukan sekadar nama, melainkan teladan tertinggi. Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengajarkan bahwa kasih sayang harus menjadi nafas kehidupan. Jika Sang Pencipta saja tak pernah lelah memberi rahmat kepada makhluk-Nya, mengapa kita hambanya masih sering menyimpan hati keras, ego tinggi, dan sikap saling menjatuhkan.
Al-Qur’an dengan tegas memerintahkan: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maidah: 2). 
Rasulullah SAW pun bersabda: “Barangsiapa ingin dihilangkan kesulitannya di hari kiamat, maka ringankanlah kesulitan orang lain di dunia” (HR. Muslim). Dua ayat dan hadits ini bukan sekedar konsep atau teori. Inilah resep nyata untuk menciptakan masyarakat yang makmur dan harmonis.

Di tingkat desa, visi Cileungsir MAJU BERSINAR—Makmur, Aktif, Jujur, Unggul, Bersih, Rapi, Sehat, Indah, Nyaman, Aman, Rukun—hanya akan menjadi kenyataan jika dibangun di atas landasan silih asih, silih asah, silih asuh. Tanpa itu, semua program pembangunan, dana desa, dan proyek fisik hanya akan menjadi bangunan tanpa jiwa.

Seorang guru besar birokrasi pernah berpesan: “Sing nyaah ka sahandapeun, ngahargaan ka sasama, hormat ka saluhureun.” Kalimat sederhana ini mengandung hikmah mendalam. Pemimpin harus sayang kepada rakyatnya, rakyat menghormati pemimpinnya, sepuh mengasihi yang muda, yang muda menghargai sepuh. Intinya satu yaitu menekan ego dan meningkatkan kepekaan. Jangan ada yang merasa paling senior, paling kaya, paling pintar, paling tahu atau paling benar. Yang ada hanyalah rasa “kita sama-sama butuh satu sama lain”.
Prinsip ini hanya akan berjalan jika disertai keterbukaan dan transparansi total di segala bidang—mulai dari musyawarah RT, pengelolaan keuangan desa, hingga program Karang Taruna dan Gapoktan. Ketika semua pihak terbuka, kepercayaan tumbuh. Ketika kepercayaan tumbuh, persatuan menguat. Dan ketika persatuan menguat, mustahil desa kita tidak maju.
Silih asih bukan pilihan, melainkan keharusan. Sebuah cara paling efektif untuk menekan keakuan yang selama ini menjadi penghalang utama kemajuan bersama. Selayaknya kita jadikan kasih sayang sebagai nafas setiap langkah. Karena desa yang benar-benar maju bukan yang punya jalan mulus atau gedung megah, tapi yang warganya pulang ke rumah dengan hati tenang, karena tahu: di sini, kita saling memiliki.
Cileungsir MAJU BERSINAR bukan mimpi. Ia adalah buah dari hati yang saling mengasihi. Mulailah dari sekarang. Satu senyum, satu sapaan tulus, satu bantuan kecil—itu sudah cukup untuk mengubah segalanya.

0 comments :

Post a Comment