Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 37 : Menunggu Godot

Catatan Pensiunan 37 : Menunggu Godot

Written By Suheryana Bae on Sunday, January 11, 2026 | 9:34 PM

Waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda. Hari-hari tak lagi dipenuhi target, perburuan karier, atau pencapaian yang dikejar dengan napas terengah. Aktivitas terbatas, bahkan sering kali terjebak dalam kebingungan. Apa lagi yang perlu dilakukan? Apa lagi yang ingin dicapai? Rutinitas berulang adalah menonton, tidur, pekerjaan ringan, membaca dan ke mesjid. Terasa hampa dan membosankan. 

Yang paling memilukan adalah saat melintas rasa putus asa . Sebuah pertanyaan sederhana namun prinsip, mau apa lagi dalam hidup ini. Pesimisme yang sunyi, tidak berisik, namun berat. Hanya mungkin dapat dipahami oleh para pensiunan atau mereka berusia senja. Seperti tokoh dalam drama Menunggu Godot, hari-hari dilalui sambil menunggu sesuatu yang tidak jelas bentuk dan waktunya—entah apa, entah kapan.

Namun hidup sering kali memberi kejutan lewat cara sederhana. Dalam sebuah perjalanan, hati tiba-tiba terusik. Memperhatikan gadis  muda yang cantik mempesona, bergerak energik penuh semangat. Melangkah ringan dengan mata berbinar. Seolah sedang menorehkan semangat tentang betapa hidup sangat berharga untuk diperjuangkan. Ada impian yang ingin diraih, ada masa depan yang mereka kejar dengan keyakinan.

Di sisi lain, tampak lelaki usia pertengahan tiga puluhan, berpakaian kasual, berkulit bersih, bertubuh atletis. Dari caranya berjalan terpancar kebanggaan dan kepercayaan diri. Tidak sekadar bergerak dari satu titik ke titik lain. Ia membawa keteguhan mental bahwa hidup menggairahkan, penuh peluang, dan layak dijalani sepenuh hati. 

Di situlah kesadaran muncul. Bahwa semangat hidup bisa menular, bahkan tanpa kata-kata. Pergerakan dinamis sebuah perjalanan—orang-orang yang melangkah, berjuang, dan berharap—mengingatkan bahwa hidup bukan hanya soal usia atau status, melainkan tentang sikap. Selama napas masih berhembus, kehidupan menuntut keberanian untuk dijalani dengan gairah dan harapan.

Usia senja bukanlah akhir, melainkan fase berbeda untuk memaknainya. Mungkin target besar telah berlalu, namun masih ada sesuatu yang harus diperjuangkan. Kesehatan fisik, kewarasan berpikir, kejernihan hati, kedamaian spiritual, dan menikmati setiap hari dengan hati riang

Menunggu Godot mungkin tak terelakkan. Namun di sela penantian, kita masih bisa memilih. Menunggu dengan putus asa yang melelahkan, atau menunggu sambil beraktivitas positif. Karena pada akhirnya, selagi hidup, kita mesti berjuang bagi kehidupan dan menikmati kehidupan itu sendiri—hingga hembusan napas terakhir.

0 comments :

Post a Comment