Berdiri di pinggir jalanan waktu, menyaksikan kereta api modern meluncur kencang, sementara aku masih berjalan kaki dengan langkah pelan. Perkembangan zaman, budaya, dan teknologi berlangsung cepat bagai kilat, seperti roket melesat ke angkasa. Berlari terengah-engah, tapi tetap tak terkejar. Rasanya seperti orang dusun yang tiba-tiba dibawa ke kota metropolitan Eropa, bingung dengan hiruk-pikuk yang tak pernah berhenti. Dulu, hidup sederhana, surat kabar pagi, telepon rumah, dan pertemuan tatap muka. Kini, semuanya digital, instan, dan rumit bagi yang tak biasa.
Pertama, teknologi. Betapa cepat perubahannya! Saat pertama kali pegang ponsel pintar, awalnya senang, tapi sekarang? Media sosial dipenuh video pendek yang menyita waktu dan bikin mumet.
Mencoba, aplikasi tapi sering salah tekan. Smart TV di rumah, yang katanya pintar, malah bikin merasa bodoh. Harus connect ke WiFi, login akun, pilih channel streaming. Belanja, dulu ke pasar, sekarang via Shopee atau Tokopedia. Pembayaran pakai aplikasi seperti GoPay atau OVO, bahkan QRIS yang tinggal scan. Praktis katanya, tapi bagi orang usia setengah abad bikin gugup. terkadang gagal transaksi atau salah transfer
Lebih parah lagi, urusan sehari-hari pun bergantung app. Mau naik kereta api? Beli tiket via KAI Access, check-in pakai barcode. Naik pesawat? Semua online, dari booking sampai boarding pass. Berobat ke Rumah Sakit via aplikasi. Pun absensi pensiunan. Mudah bagi anak muda, tapi ribet bagi orang tua yang "gagap teknologi". Aku merasa tertinggal dari peradaban. Dulu, cukup bawa uang tunai dan KTP. Kini, tanpa smartphone, seperti hidup di zaman batu. Profesor teknologi adalah pisau bermata dua: memudahkan, tapi juga memisahkan."
Kedua, perilaku sehari-hari dan relasi antar manusia. Hal yang lebih menyentuh hati. Hubungan orang tua-anak berubah drastis. Dulu, anak patuh sepenuhnya, sekarang berani berdebat dengan argumen dari Google atau YouTube. Guru-murid pun demikian. Zaman dulu, guru sangat dihormati, murid mustahil melawan. Kini, murid bisa protes, bahkan merekam suasana kelas untuk dishare ke mana-mana. Hubungan laki-perempuan juga bergeser, dulu lebih tradisional, sekarang egalitarian, dengan isu gender equality yang dipertajam. Pertemanan, dulu nongkrong bareng, sekarang via grup WhatsApp atau Zoom.
Pendidikan anak-anak pun bikin geleng-geleng kepala. Mereka belajar tanpa buku-buku, cukup gadget. Pengetahuan banyak, tapi tidak mendalam. Dulu menghapal pelajaran sekolah, sekarang, search instan. Prinsip kerja juga berubah. Zaman dulu, setia di satu perusahaan seumur hidup. Pensiun dari situ, dapat plakat emas. Kini, gonta-ganti pekerjaan jadi trend. "Career hopping" katanya, untuk pengalaman dan gaji lebih.
Singkatnya, banyak hal berubah, seperti kata profesor, budaya lama berganti, digantikan norma baru yang fleksibel tapi kadang membingungkan. Sebagai orang berusia lanjut, aku tertinggal jauh di belakang. Mencoba belajar install app, scroll feed, tapi kelelahan. Mungkin ini ujian terberat di usia senja.
Akhirnya, aku sadar, tidak perlu mengejar semua. Cukup pahami secukupnya dan syukuri yang ada. Hidup seperti sungai, ikuti alirannya dan tidak melawan arus. Di keheningan saung kebun aku merenung bahwa zaman berubah, tapi hati manusia tetap butuh kedamaian. Mungkin, itulah kuncinya.

0 comments :
Post a Comment