Di sela-sela takbir yang terdengar dari beberapa masjid terdekat, aku seperti berbisik pelan: "Aku datang dan melapor tentang keberadaan kini."
Tak ada lagi suara sirene iring-iringan kendaraan, tak ada lagi dering telepon kantor yang seakan tak mengenal hari libur. Hanya hembusan angin dan nyanyian hewan liar serta suara ayam seolah menyambut kedatangan seorang anak yang lama pergi.
Kali ini lebaran keduaku di fase pensiun. Dua tahun lalu, saat baru menerima SK pensiun aku merasa ada yang kurang. Dada masih terasa membusung, kepala masih mendongak ke langit dengan sisa-sisa angkuh dari puluhan tahun meniti karier.
Datang ke kampung saat itu seperti seorang pemenang yang pulang membawa piala, membawa cerita sukses, membawa kebanggaan dan sedikit rasa superior. Dan lebaran kali ini berbeda. Aku datang tanpa beban gelar, tanpa target, tanpa deadline. Datang sebagai pemudik permanen—seorang yang akhirnya pulang untuk selamanya.
Masa muda kuhabiskan untuk mengejar pengetahuan, sekolah dasar di gedung peninggalan Belanda, SMP di pinggir pesawahan dan SMA di kota kabupaten, lalu kuliah di ibukota provinsi. Setelah itu, meniti karier kantoran. Sempat berada di lingkar kekuasaan dan secara personal membangun ekonomi selayaknya yang bisa kubangun—mungkin lebih dari yang pernah kubayangkan saat kecil dulu, ketika ibu menyuapi nasi dengan telur bebek dan ikan dari kolam sendiri. Aku berada di batas atas kehidupan.
Tapi di puncak itu, terasa ada yang kurang. Kampung tak pernah benar-benar kutinggalkan, hanya menunda kepulangan untuk akhirnya kembali ke pangkuannya.
Kini, jarak antara aku dan tempat kelahiran telah lenyap. Tak ada lagi batas kota dan kampung, tak ada lagi “perantau” dan “orang kampung”. Aku pulang bukan sebagai tamu, melainkan sebagai bagian yang kembali menyatu. Kebun dan pesawahan, keramahan orang-orang, masjid yang sudah direnovasi, dan desa yang telah bertransformasi menjadi kecamatan. Aku duduk di teras belakang saung kebun. Menatap pepohonan bergoyang-goyang dan kolam berwarna cokelat. Aku terharu, bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur.
Bahwa kampung memberiku dasar-dasar kehidupan. Di sinilah aku belajar berjalan, belajar berdoa, belajar menghormati orang tua dengan cara sederhana, membantu mengambil air di sumur, menjemur padi, atau sekadar duduk diam mendengar cerita kakek tentang masa lalu. Bermain bola dari kampung ke kampung, belajar mencintai tanpa syarat, belajar bekerja tanpa pamrih, dan mengejar kepenasaran akan pengetahuan. Pada dasarnya, kampung mengantarkanku ke gerbang pengetahuan dengan kasih sayang dan harapan sederhana. Orang tua tidak memintaku menjadi orang hebat, hanya berharap anaknya menjadi orang yang hidupnya lebih baik. Dan alhamdulillah, aku telah sampai. Meski “sampai” itu ternyata bukan akhir, melainkan awal dari babak baru.
Lebaran kali ini, tidak lagi hanya silaturahmi dan saling memaafkan. Aku ingin berkontribusi. Meskipun mungkin terlambat, ingin melihat kampungku maju. Dan bersama beberapa orang, baik yang tinggal di kampung atau para perantau, mulai berbicara tentang hal-hal kecil yang bisa dikontribusikan. Memfasilitasi kegiatan kepemudaan, membersihkan masjid tempat dulu mengaji dan bermain, membangun pos kamling yang layak, berbagi pengalaman menulis, merayakan Agustusan, berbicara tentang kehidupan petani dan peternakan, atau sekadar bergotong royong membangun sebuah rumah.
Aku belajar bahwa pensiun bukan akhir dari peran, melainkan perpindahan peran. Dulu membangun karier untuk diri sendiri dan keluarga kecil. Kini, melangkah berkontribusi membangun kampung yang telah membesarkanku. Bukan saatnya lagi membusungkan dada karena prestasi pribadi, namun inilah saatnya membusungkan dada karena bisa berdiri di samping tetangga-tetangga, membantu mengangkat batu untuk membangun jembatan kecil, atau sekadar duduk-duduk di pelataran masjid mendengarkan keseharian dan keluh kesah sambil menunggu adzan Isya.
Lebaran mengajarkan satu hal besar, bahwa pulang bukan hanya soal fisik, tapi soal hati. Aku pulang ke kampung, pulang ke akar, pulang ke nilai-nilai yang dulu sempat ditinggalkan demi perbaikan kehidupan dan ambisi. Dan di sini, di tengah hembusan angin kampung dan suara takbir yang bergema dari masjid-masjid kecil, aku menemukan harapan tentang masa depan di penghujung kehidupan di planet bumi.
Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Aku pulang—bukan sebagai pendatang, tapi sebagai anak desa yang akhirnya mengerti kampung halaman bukan tempat kelahiran semata, melainkan tempat mengukir makna sejatinya.

0 comments :
Post a Comment