Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 43 : Alasan untuk Hidup

Catatan Pensiunan 43 : Alasan untuk Hidup

Written By Suheryana Bae on Saturday, February 28, 2026 | 1:47 PM

 

Aku duduk di ranjang kecil saung kecil kebun di desa. Magrib menjelang isya, sekitar pukul 7 malam di akhir Februari 2026. Hening, tidak terdengar kendaraan, suara TV atau anak bermain. Hanya suara jangkrik dan suara binatang malam di tengah kebun. Angin malam menyapu daun-daun kering, membawa aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. Di usia 61 tahun sekarang, sebagai pensiunan pegawai negeri dengan gaji bulanan yang kecil tapi cukup untuk hidup sederhana, sering merenung di sini. Saung ini rumah kedua, jauh dari keramaian kota kecil tempat dulu membangun keluarga dengan segala kegembiraan dan keluh kesah. Hidup di sini seperti kembali ke akar—sederhana, tapi penuh makna.

Dulu, bekerja di lingkar kekuasaan dengan segudang pekerjaan yang melelahkan dan menuntut ketepatan waktu. Belum selesai satu pekerjaan sudah menunggu pekerjaan lainnya. Surat-surat yang menumpuk, disposisi yang perlu ditindaklanjuti, konsep yang harus diperiksa, dan rapat-rapat atau menghadiri ceremoni.

Kini, saat pensiun aku memiliki banyak waktu untuk kontemplasi. Dan melintas dalam benak, bahwa hasrat untuk hidup lebih lama bukan hanya milik orang kaya atau bahagia. Sebagai pensiunan pun dengan gaji kecil masih berharap umur panjang. Ada mimpi-mimpi kecil yang belum terwujud. Melihat cucu bertumbuh dan berkembang di dunia digital kekinian. Menanami kebun kecil dengan pepohonan yang menghasilkan aneka buah-buahan dan ternak ayam umbaran.

Bahkan orang petani miskin punya alasan untuk hidup lebih lama. Ingin kehidupan ekonominya meningkat sehingga dapat menyekolahkan anak sampai jenjang perguruan tinggi. Pemuda pengangguran ingin memperoleh pekerjaan tetap, orang gagal berusaha membalikkan keadaan menjadi keberhasilan. Pejabat pemerintahan ingin naik level jabatan, artis ingin terkenal, penguasa ingin mahakuasa. Pada dasarnya semua memiliki alasan atau harapan untuk bertahan hidup.

Almarhum Bapa, adalah guru sekolah menengah yang bersahaja, idealis, dan hidup santai. Bapa tidak ambisi mengejar harta, tapi rajin jalan pagi sepulang shalat subuh di surau. Kebiasaan baik yang secara medis membawanya berumur hingga melampaui delapan puluh. Tidak banyak berbicara tapi memberi contoh tentang mengisi hidup dengan tenang, menerima, santai dan bermakna. Seolah mengutip Lao Tzu: "Dia yang tahu cukup, selalu punya cukup." Itu filosofi hidup santai, tapi memiliki tujuan. Berharap umur panjang untuk melihat murid-muridnya sukses, anak-anaknya mandiri, dan bisa beribadah.

Kehidupan bapa dan ema menginspirasi. Sehingga di saung ini, di kebun warisan ini, aku menjaga kesehatan dengan berkebun pagi hari, makan dari hasil tanah sendiri—sayur organik, buah segar. Memelihara ternak untuk kebutuhan keluarga sendiri, menjaga kewarasan akal sehat, mendengarkan podcast inspiratif, sesekali dengan membaca buku, dan pergi ke surau di malam dan dini hari. Tanpa itu, sejuta alasan untuk hidup hanyalah sia-sia belaka.

Semakin direnungkan semakin tampak jelas bahwa setiap orang punya alasan untuk bertahan hidup lebih lama. Orang tua, ingin melihat anaknya nikah atau ingin mengasuh cucu, orang gagal ingin berjuang hingga meraih kesuksesan. Orang muda ingin membangun karier dan keluarga. Pengemis di pinggir jalan ingin menyekolahkan anak hingga menjadi sarjana dan kerja kantoran. Pensiunan ingin lebih banyak beribadah sebagai ganti zaman muda yang lalai terhadap nilai-nilai spiritual.

Setiap orang punya sejuta alasan untuk bertahan. Karenanya, menjaga tubuh agar tetap sehat dan prima dibiasakan. Olahraga ringan, tidur teratur, makan seimbang. Mempertahankan kejernihan berpikir dengan hidup di alam dan menepi dari keriuhan kota. Hidup bukan soal panjang umur, tapi makna dari kehidupan itu sendiri.

0 comments :

Post a Comment