Powered by Blogger.
Home » » CATATAN PENSIUNAN 58 : KUTUKAN MATERI

CATATAN PENSIUNAN 58 : KUTUKAN MATERI

Written By Suheryana Bae on Tuesday, May 26, 2026 | 8:57 PM


Dilema tentang materi menjadi topik yang tidak pernah habis diperbincangkan sepanjang sejarah peradaban. Di satu sisi, dunia mengagungkan kekayaan sebagai simbol kesuksesan, sebuah pencapaian yang dikejar demi meraih kebahagiaan. Namun di sisi lain, kita mendengar kisah tragis tentang seseorang yang hancur setelah berada di puncak kelimpahan materi. Fenomena ini membawa kita pada sebuah perenungan mendalam bahwa harta pada hakikatnya bebas nilai. Harta tidak memiliki sifat bawaan mutlak, tidak serta-merta membawa kebahagiaan, dan tidak pula secara otomatis mengundang petaka. Harta itu netral, dan manusialah yang kemudian memberi warna,  bertransformasi menjadi sebuah berkah atau justru menjadi kutukan yang membinasakan.

Ketika harta berubah menjadi kutukan, ia tidak lagi berfungsi sebagai alat pemenuh kebutuhan, melainkan beralih menjadi tuan yang mendikte kehidupan pemiliknya. Kekayaan yang melimpah melahirkan penderitaan, kecemasan, dan paranoia. Muncul ketakutan akan kehilangan apa yang telah digenggam, ketakutan dicuri, dirampok, atau ditipu orang-orang sekitar. Ironisnya, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar kecemasan yang dibangun oleh diri sendiri. Tidak jarang, kekosongan jiwa akibat kejenuhan materi mendorong seseorang terjerumus ke dalam lingkaran kehidupan kontraproduktif. Terjebak dalam kecanduan, perjudian, dan gaya hidup hedonistik menghamburkan uang demi sensasi sesaat. Harta yang melimpah malah menciptakan keangkuhan, membuat seseorang merasa berada di atas segalanya, yang lambat laun menjauhkannya dari sesama manusia dan membawanya tersesat jauh dari kedamaian spiritual.

Sebaliknya, harta menjadi berkah di tangan orang bijaksana. Kekayaan dipandang sebagai amanah dan sarana untuk menciptakan kemaslahatan. Kenyamanan fisik yang dihadirkan oleh materi tidak membuat pemiliknya terlena, melainkan disyukuri sebagai fasilitas kehidupan. Harta yang berkah adalah harta yang mengalir, yang menggerakkan orang melakukan berbagai kegiatan amal. Ketika seseorang mampu melampaui ego kepemilikan materi, setiap rupiah yang dibagikan mengembalikan ketenangan yang tidak ternilai ke dalam hati sendiri. Alih-alih menjauhkan diri dari sisi spiritual, kelimpahan justru menjadi jembatan mempererat hubungan makhluk dengan Mahapencipta, sebuah kesadaran bahwa seluruh titipan ini harus dipertanggungjawabkan dengan kebaikan.

Jika kita menilik lebih dalam, sejatinya status kaya atau miskin bukanlah inti persoalan hidup manusia. Dunia sering kali terjebak dalam stereotip yang dangkal, mengaitkan kekayaan dengan kebahagiaan dan kemiskinan dengan penderitaan. Padahal, realitas kehidupan tidak membuktikan asumsi tersebut. Menjadi kaya sama sekali tidak menjamin seseorang terbebas dari air mata kesedihan, rasa kesepian, atau kehampaan eksistensial. Demikian pula sebaliknya, hidup dalam keterbatasan materi tidak berarti seseorang dikutuk untuk terus meratap dalam kesengsaraan. Banyak kita jumpai, tawa paling tulus lahir dari gubuk-gubuk sederhana, sementara di balik dinding-dinding rumah megah, sering kali tersimpan keheningan yang mencekam.

Kunci utama kedamaian hidup terletak pada bagaimana kita menyikapi kondisi apa pun yang sedang dihadapi saat ini. Menjalani hidup apa adanya bukanlah sebuah bentuk kepasrahan pasif atau kemalasan yang dibungkus kepasrahan. Menjalani hidup apa adanya adalah seni penerimaan yang aktif, sebuah kemampuan untuk berdamai dengan realitas tanpa kehilangan gairah untuk memberikan yang terbaik. Ketika seseorang mampu menerima posisi, baik sedang berada di atas maupun di bawah, sesungguhnya ia sedang membebaskan dirinya dari beban ekspektasi lingkungan. Tidak lagi membanding-bandingkan kehidupan diri dengan kehidupan orang lain. Ia tahu bahwa setiap manusia memiliki panggung dan ujiannya masing-masing.

Bergerak dari titik penerimaan tersebut, tugas manusia selanjutnya hanyalah berusaha dan berbuat sebaik-baiknya dalam ruang lingkup kemampuannya. Bagi orang berkelimpahan, berbuat sebaik-baiknya berarti menjaga kerendahan hati, tidak diperbudak oleh materi, dan memastikan bahwa keberadaannya membawa manfaat bagi sekitar. Bagi orang yang diuji dengan keterbatasan ekonomi, berbuat sebaik-baiknya berarti terus berikhtiar, memelihara kejujuran, menjaga martabat, tidak mengemis, dan mensyukuri sekecil apa pun nikmat non-materi yang masih bisa dirasakan, seperti kesehatan dan kehangatan keluarga.

Kenyamanan dan kebahagiaan hidup tidak ditentukan oleh berapa digit angka dalam saldo rekening. Kebahagiaan adalah urusan persepsi dan kondisi hati yang merdeka. Ketika hati telah merdeka dari keterikatan berlebihan terhadap dunia, maka status kaya atau miskin hanyalah sekadar label sosial yang melekat di permukaan. Seseorang yang kaya akan hidup dengan nyaman karena hartanya berkah, sementara seseorang yang miskin pun akan tetap hidup bahagia karena hatinya senantiasa bersyukur dan nyaman. Hidup ini terlalu berharga jika hanya diukur dari timbangan materi, sebab kemuliaan sejati manusia diukir dari kebaikan tindakan dan ketulusan hati dalam menjalani setiap jengkal takdir yang telah digariskan.

0 comments :

Post a Comment