Powered by Blogger.
Home » » CATATAN PENSIUNAN 62 : JANGAN MEMBANGGAKAN KONDISI

CATATAN PENSIUNAN 62 : JANGAN MEMBANGGAKAN KONDISI

Written By Suheryana Bae on Monday, June 1, 2026 | 1:41 PM


Salah seorang tokoh tasawuf besar mengatakan, ketika engkau sedang berada dalam suatu kondisi, jangan menceritakan kondisi tersebut kepada siapa pun. Karena Allah Mahakuasa membalikkan keadaan dalam sekejap.

Sebuah kebijaksanaan yang sangat dalam tentunya.

Sebagian besar manusia mengira bahwa keadaan yang sedang dijalani hari ini akan berlangsung selamanya. Kesehatan, kelimpahan materi, keluarga yang harmonis, bahkan keshalehan, seolah akan abadi. Padahal hidup tidak pernah memberikan jaminan apa pun.

Kondisi hidup sesungguhnya sangat rapuh. Sewaktu-waktu dapat berubah tanpa peringatan. Hari ini tertawa, besok menangis. Hari ini dipuji, besok dicela. Hari ini berada di puncak, besok terjatuh ke dasar jurang. Tidak ada seorang pun yang memiliki kendali penuh atas keadaan yang sedang dijalani.

Sang sufi mengingatkan agar manusia berhati-hati ketika berbicara tentang kenikmatan hidup yang dimilikinya. Bukan berarti nikmat harus disembunyikan atau diabaikan, melainkan jangan sampai hati merasa aman, bangga, dan yakin bahwa semua itu terjadi karena kehebatan dirinya sendiri.

Kadang kita tergoda untuk menceritakan betapa harmonisnya keluarga. Berbicara tentang pasangan yang penuh perhatian, anak-anak yang patuh, suasana rumah yang hangat, dan kehidupan yang dipenuhi kasih sayang. Semua itu memang nikmat yang patut disyukuri. Namun ada kalanya cerita tersebut perlahan berubah menjadi kebanggaan yang berlebihan.

Kita membandingkan keluarga sendiri dengan keluarga orang lain, lalu merasa lebih berhasil, lebih bahagia, dan lebih beruntung. Secara tidak disadari muncullah keangkuhan.

Hidup sering menunjukkan pelajaran yang tidak terduga.

Dalam kenyataan, ada orang yang membangga-banggakan keharmonisan rumah tangganya dan sering menceritakannya dalam berbagai kesempatan. Ia menjadi rujukan dan teladan bagi banyak orang. Namun suatu hari terbuka rahasia yang selama ini tersembunyi. Pasangannya terlibat perselingkuhan. Hubungan yang tampak kokoh ternyata menyimpan benih-benih keretakan yang tidak terlihat. Dalam waktu singkat kebanggaan berubah menjadi rasa malu yang mendalam.

Bukan karena keluarga harmonis itu salah. Bukan pula karena kebahagiaan harus disembunyikan. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang pasti dan tidak mungkin berubah.

Demikian pula dalam urusan anak.

Betapa sering orang tua membanggakan kehebatan dan keberhasilan anak-anaknya. Tentang prestasi akademik, berbagai penghargaan, jabatan, kelimpahan, atau keshalehan. Tidak jarang kebanggaan itu diungkapkan berulang-ulang kepada siapa saja yang ditemui.

Suatu hari muncul kenyataan yang berbeda. Anak yang selama ini dipuji ternyata sering berbohong. Ada perilaku yang tidak diketahui orang tuanya. Ada sisi kehidupan yang selama ini disembunyikan. Prestasi yang dibanggakan ternyata dibangun di atas kepura-puraan. Orang tua pun merasakan remuknya harapan yang selama ini dipelihara.

Kejadian seperti ini bukan sesuatu yang langka. Hampir setiap hari kita mendengar kisah serupa. Orang yang membanggakan kelimpahan, mendadak bangkrut. Orang yang membanggakan kesehatan, tiba-tiba jatuh sakit. Orang yang membanggakan jabatan, mendadak kehilangan kedudukan. Orang yang membanggakan kecantikan mulai digerogoti penuaan yang tidak bisa ditolak.

Semua itu mengingatkan bahwa tidak adaù kondisi yang benar-benar berada dalam kendali manusia.

Yang kita miliki hari ini hanyalah titipan.

Kesehatan adalah titipan. Keluarga adalah titipan. Anak-anak adalah titipan. Kelimpahan materi adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Bahkan kemampuan beribadah dan ketaatan pun merupakan titipan dari Allah.

Karena hanya titipan, maka sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh Pemiliknya.

Kesadaran inilah yang melahirkan kerendahan hati.

Seseorang yang memahami hakikat hidup akan lebih banyak bersyukur daripada membanggakan diri. Ketika memperoleh nikmat, ia menyadari bahwa semua itu adalah karunia Allah. Ketika melihat keluarganya rukun, ia bersyukur dan terus berdoa agar kerukunan itu dijaga. Ketika melihat anaknya tumbuh baik, ia tidak sibuk memamerkan keunggulan anaknya, melainkan memohon agar Allah menjaga anak tersebut dari keburukan yang belum tampak.

Kita menyadari bahwa kehidupan manusia selalu berada di antara harapan dan kecemasan. Berharap agar nikmat tetap bertahan, sekaligus cemas jika nikmat itu dicabut.

Orang-orang bijak sering merasa takut ketika terlalu banyak menerima pujian. Mereka khawatir pujian membuat hati lengah. Khawatir terperangkap dalam anggapan bahwa dirinya adalah sumber keberhasilan. Padahal semua keberhasilan pada hakikatnya datang dari pertolongan Allah.

Sikap seperti ini bukan pesimisme, melainkan bentuk kesadaran yang sehat. Kesadaran bahwa hidup bergerak sesuai kehendak Allah, bukan semata-mata sesuai keinginan manusia.

Mungkin hari ini kita memiliki keluarga yang harmonis. Sepatutnya kita bersyukur. Rawatlah dengan baik. Namun jangan merasa pasti bahwa semuanya akan selalu baik-baik saja.

Mungkin hari ini anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan. Maka bersyukurlah. Dampingi mereka dengan penuh kasih sayang. Tetapi jangan pernah berhenti berdoa dan jangan merasa sudah selesai.

Mungkin hari ini usaha kita berjalan lancar. Maka bersyukurlah. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Namun jangan merasa bahwa keberhasilan itu semata-mata hasil kecerdasan dan kerja keras kita.

Segala sesuatu bisa berubah. Dan justru karena bisa berubah itulah kita diajarkan untuk rendah hati.

Semakin seseorang memahami kenyataan hidup, semakin sedikit ia membanggakan kondisinya. Ia lebih memilih bersyukur dalam hati, lisan, dan perbuatan daripada bermegah-megah di hadapan manusia. Ia lebih sibuk menjaga nikmat daripada memamerkannya. Ia lebih banyak berdoa daripada bercerita.

Kita menyadari bahwa bukan keadaan baik yang membuat seseorang mulia, melainkan bagaimana ia bersikap ketika berada dalam keadaan baik tersebut.

Jika nikmat membuat kita sombong, maka nikmat itu bisa menjadi ujian.

Tetapi jika nikmat membuat kita semakin bersyukur, semakin rendah hati, dan semakin dekat kepada Allah, maka nikmat itu benar-benar menjadi keberkahan.

Ketika hidup sedang baik, ketika keluarga terasa damai, ketika anak-anak membanggakan, ketika rezeki lapang, dan ketika hati terasa tenang, jangan terlalu sibuk menceritakan betapa hebatnya keadaan kita.

Sibukkan diri untuk bersyukur.

Sebab yang paling aman bukanlah kondisi yang baik, melainkan hati yang tetap rendah ketika berada dalam kondisi yang baik. Karena semua kebaikan berasal dari Allah dan setiap saat dapat berubah sesuai kehendak-Nya.


0 comments :

Post a Comment