Powered by Blogger.
Home » » CATATAN PENSIUNAN 73 : MENUNGGU EKSEKUSI

CATATAN PENSIUNAN 73 : MENUNGGU EKSEKUSI

Written By Suheryana Bae on Sunday, June 21, 2026 | 7:28 AM


Budi Darma pernah mengatakan: "Setiap manusia telah divonis hukuman mati (oleh Allah). Kehidupan tiada lain adalah proses menunggu kematian, menunggu pelaksanaan hukuman mati. Karena itu, tiada pilihan lain dalam menjalani kehidupan selain berbuat baik."

Kita hidup di dunia yang sering membuat manusia lupa akan batas waktu. Karena kesibukan pekerjaan, ambisi duniawi, bermain-main, atau harapan tentang masa depan.

Menyadari bahwa hidup ini berbatas waktu bukanlah tuntutan untuk berhenti berusaha atau menyerah. Justru sebaliknya — kesadaran akan kepastian kematian menjadi motivasi untuk hidup lebih bersahaja, jujur, dan lebih bermakna. Sebab jika kita tahu bahwa waktu kita terbatas, pertanyaan yang pantas diajukan bukan lagi seberapa lama kita akan hidup, melainkan apa yang akan kita lakukan selama hidup.

Ketika kematian dipandang sebagai sesuatu yang pasti dan tidak bisa dinegosiasikan, maka satu-satunya variabel yang masih bisa kita kendalikan adalah cara kita menjalani waktu. Bukan jumlah hari yang kita miliki, melainkan kualitas dari hari-hari itu. Dan dari semua pilihan yang tersedia bagi manusia, berbuat baik adalah satu-satunya jalan yang tidak pernah terasa sia-sia, apa pun hasil akhirnya.

Bahwa kebaikan menjadi pilihan satu-satunya, bukan karena tidak ada pilihan lain secara harfiah, tapi karena semua pilihan lain — keserakahan, kebencian, kesombongan, kekejaman, kezaliman — akan berujung pada kehampaan. Manusia bisa memilih untuk hidup dengan cara apa pun, tapi hanya kebaikan yang dikenang dan meninggalkan jejak bermakna.

Kita sering keliru mengira bahwa makna hidup harus dicari di tempat yang jauh dan rumit — pencapaian besar, pengakuan luas, legasi yang dikenang sejarah. Tapi jika hidup hanyalah masa tunggu, maka makna yang sesungguhnya barangkali justru ada pada hal paling sederhana, yakni cara kita memperlakukan orang di sekitar, ketulusan dalam membantu, kejujuran, kesabaran ketika dihadapkan pada provokasi, kepatuhan pada norma agama dan masyarakat. Kebaikan-kebaikan kecil semacam ini dianggap remeh, padahal sebenarnya berdampak pada kehidupan sendiri dan orang lain.

Ketika dengan rendah hati mau merenungkan premis tentang kepastian datangnya kematian, maka segala bentuk kesombongan dan keserakahan manusia selama hidup pada akhirnya akan kehilangan makna. Saat manusia memenuhi kepastian itu, yang tersisa bukanlah jabatan, kekayaan, atau popularitas, melainkan bagaimana seseorang memperlakukan sesamanya selagi masih ada kesempatan.

Memandang hidup sebagai masa tunggu juga mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Tanpa harus menunggu lebih siap, lebih mampu, atau keadaan lebih mendukung. Jika waktu yang kita miliki sebenarnya tidak pernah pasti, maka kebaikan yang ditunda berisiko menjadi kebaikan yang tidak pernah terlaksana. Permintaan maaf yang seharusnya diucapkan hari ini, bantuan yang seharusnya diberikan sekarang, kata-kata baik yang seharusnya disampaikan selagi masih ada kesempatan — semua menjadi kehilangan nilai jika terus-menerus ditunda demi momentum ideal.

Perenungan Budi Darma ini bukan tentang menakut-nakuti manusia dengan bayang-bayang kematian. Melainkan tentang membebaskan manusia dari belenggu hal-hal yang tidak penting, agar bisa leluasa mengisi hidup dengan hal-hal yang benar-benar berarti. Kematian, dalam kerangka berpikir ini, bukan musuh yang harus dihindari, melainkan pengingat untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, karena tidak akan dapat diputar ulang.

Barangkali, di situlah letak kedamaian yang sesungguhnya — bukan pada kepastian akan berumur panjang, tetapi pada kepastian bahwa setiap hari yang dijalani telah diisi dengan kebaikan yang tulus, sekecil apa pun.

0 comments :

Post a Comment