Setelah olahraga ringan, pagi ini saya menyapu halaman rumah. Dedaunan kering berserakan. Beberapa buah jambu merah tergeletak di tanah karena terlambat dipetik. Terkadang burung-burung datang silih berganti menikmati buah yang matang dan mulai mengeluarkan aroma manis.
Alunan musik blues religius mengalun pelan. Tidak keras, hanya cukup untuk menemani pagi. Lirik-liriknya sederhana, tetapi menginspirasi dan penuh makna. Entah mengapa, suasana seperti itu sering mengundang pikiran mengembara.
Tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi terasa dalam: untuk apa sebenarnya ingin berumur panjang?
Pertanyaan itu tidak sedang mencari jawaban dari orang lain. Lebih merupakan percakapan dengan diri sendiri.
Kalau umur panjang hanya untuk mengumpulkan harta, rasanya sudah cukup. Tiga puluh enam tahun bekerja di pemerintahan mengajarkan bahwa kebutuhan hidup memiliki batas, sedangkan keinginan hampir tidak pernah mengenal batas akhir. Selalu ada yang ingin ditambah, selalu ada yang ingin dimiliki. Jika hidup hanya dihabiskan untuk mengejar lebih banyak, kapan seseorang sempat menikmati kehidupan?
Kalau umur panjang hanya untuk memuaskan kenikmatan dunia, berpesta pora, bermain-main sesuka hati, atau mengejar kepuasan nafsu lahiriah, sampai di manakah ujungnya? Bukankah keinginan seperti itu justru semakin membesar ketika terus dituruti? Kita bisa terjebak menghabiskan usia untuk mengejar sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar memuaskan.
Kalau umur panjang hanya untuk membuktikan sesuatu kepada dunia, rasanya lebih tidak masuk akal. Mengapa hidup harus dikendalikan oleh penilaian orang lain? Mengapa kebahagiaan harus bergantung pada tepuk tangan, pujian, atau pengakuan orang?
Cepat atau lambat, dunia akan melupakan siapa pun. Jabatan berganti, nama memudar, dan generasi baru datang mengambil peran. Hidup terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk memenuhi harapan orang lain. Bukankah hidup ini milik kita sendiri, dan pada akhirnya setiap orang akan mempertanggungjawabkannya sendirian di hadapan Sang Mahapencipta?
Kalau umur panjang demi membalas dendam atau ingin menyaksikan orang lain menderita, tentu lebih menyedihkan. Kebencian tidak pernah menyiksa orang yang dibenci lebih dahulu, tetapi justru menggerogoti batin orang yang menyimpan dendam. Dendam adalah beban yang kita pikul sendiri setiap hari.
Lalu bagaimana dengan alasan yang sering terdengar sangat religius? Ingin berumur panjang agar lebih banyak beribadah, lebih banyak bertobat, dan semakin dekat kepada Allah.
Tentu tidak ada yang salah dengan keinginan itu. Bahkan itulah tujuan yang mulia. Namun saya sering bertanya kepada diri sendiri, jangan-jangan kalimat itu hanya berhenti sebagai retorika. Terlalu mudah diucapkan, tetapi belum tentu sungguh-sungguh dihidupi. Tentu saja, tidak ingin terjebak pada ungkapan yang indah, tetapi kosong dalam kenyataan.
Barangkali alasan saya lebih sederhana.
Saya ingin berumur panjang karena masih banyak hal yang ingin dipelajari. Dunia ini terlalu luas untuk dipahami dalam satu kehidupan. Setiap buku membuka jendela baru. Setiap pengalaman menghadirkan pelajaran. Setiap pertemuan dengan manusia memperlihatkan sisi kehidupan yang sebelumnya tidak saya kenal.
Belajar ternyata tidak berhenti ketika seseorang berusia lanjut. Justru setelah pensiun kita memiliki kebebasan untuk belajar tanpa tekanan nilai, tanpa tuntutan jabatan, dan tanpa kepentingan karier. Belajar menjadi kegiatan yang murni karena rasa ingin tahu. Mendapatkan pengetahuan baru selalu menghadirkan kegembiraan yang sulit dijelaskan.
Saya juga ingin menikmati hidup sebagaimana adanya. Tidak lagi bergantung pada status dan peran. Tidak bergantung pada jumlah harta. Tidak pula bertumpu pada popularitas. Semua itu pernah menjadi bagian dari kehidupan, tetapi bukan lagi pusat kehidupan.
Kini kebahagiaan terasa jauh lebih sederhana. Menyapu halaman di pagi hari, menikmati udara segar di kebun, membaca beberapa halaman buku, menulis beberapa paragraf, bercengkerama dengan keluarga, memberi makan ayam, mendengar suara burung, atau duduk diam tanpa merasa dikejar waktu.
Semua itu terasa cukup.
Tentu saya tetap ingin berjalan di jalan yang benar. Bukan karena ingin terlihat saleh di hadapan manusia, melainkan karena semakin bertambah usia, semakin terasa bahwa hati hanya benar-benar tenang ketika memiliki hubungan yang baik dengan Mahapencipta.
Mungkin itulah alasan saya ingin berumur panjang. Bukan untuk menambah panjang daftar pencapaian, melainkan untuk memperdalam pemahaman. Bukan untuk memiliki lebih banyak, melainkan untuk semakin mampu mensyukuri apa yang telah ada. Bukan untuk menjadi lebih besar di mata manusia, melainkan agar menjadi sedikit lebih baik dibandingkan diri sendiri di hari ini.
Saya memilih memelihara harapan itu. Saya percaya bahwa harapan yang baik akan memengaruhi cara kita berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan. Para psikolog menyebutnya sebagai Efek Pygmalion, yaitu keyakinan yang positif sering kali mendorong lahirnya kenyataan yang positif pula.
Kalau Mahapencipta berkenan menambah umur, semoga umur itu bukan sekadar bertambah panjang, tetapi juga bertambah dalam dan bermakna. Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukanlah umur yang panjang, melainkan apa yang kita pelajari, apa yang kita syukuri, dan menjadi manusia seperti apa kita ketika kehidupan berakhir.

0 comments :
Post a Comment