Powered by Blogger.
Home » » CATATAN PENSIUNAN 78 : PULANG KAMPUNG

CATATAN PENSIUNAN 78 : PULANG KAMPUNG

Written By Suheryana Bae on Sunday, June 28, 2026 | 1:03 PM


Aku duduk di teras belakang saung, ditemani segelas air putih dingin dan kue kaleng yang masih tersisa. Mataku menerawang ke arah hamparan kebun yang dipenuhi pepohonan, sementara musik blues spiritual  mengalun pelan. Melodi gitar, vokal yang dalam, dan lirik-lirik penuh makna tentang kehidupan dan pengabdian—membuat jiwaku bergairah. Bukan gairah yang bergejolak seperti masa muda dulu, tapi gairah yang tenang, yang membisikkan semangat untuk tetap hidup dengan cara yang benar.

Dan di tengah dinginnya air putih yang menyegarkan tenggorokan, di tengah renyahnya kue kaleng yang mengingatkanku pada kue-kue buatan ibu, tiba-tiba terlintas dalam pikiran betapa panjangnya perjalanan yang telah kutempuh. Puluhan tahun. Bukan waktu yang singkat. Aku mengembara, meninggalkan kampung ketika umur masih belasan, dengan baju seragam sekolah dan tas ransel yang penuh dengan mimpi. Berpetualang dalam langkah fisik, meninggalkan jejak di kota-kota yang kini jadi kenangan. Aku pergi untuk belajar, bekerja, mencari sesuatu bernama masa depan.

Sejak Sekolah Menengah Atas, aku terbiasa tinggal di kontrakan dan berjalan kaki ke sekolah. Lalu perguruan tinggi membawaku lebih jauh, tinggal di kos-kosan bersama saudara. Aku ingat betul rasa mie instan yang menjadi santapan rutin, dan bagaimana aku belajar menghargai setiap rupiah hasil keringat orang tua. Kemudian dunia kerja memanggil. Dari calon pegawai dengan seragam pegawai negeri, hingga akhirnya memasuki masa purna tugas dengan rambut yang mulai memutih dan tubuh yang mulai ringkih. Semua adalah petualangan. Kadang indah, kadang melelahkan. Kadang membuatku tersenyum, kadang membuatku hampir menyerah di tengah jalan.

Tapi kini, semua telah usai. Petualangan panjangku di luar sana usai sudah. Bukan karena aku kalah atau menyerah, tapi karena waktu membatasi masa pengabdian. Saatnya pulang kampung. Saatnya kembali ke akar, ke tempat pertama kali aku mengenal surau, tempat pertama kali aku belajar membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dari nasihat orang tua dan kakek-nenek, tempat pertama kali aku merasakan hangatnya perhatian Ibu yang tiduran di kasur ketika aku belajar.

Bukan tentang kalah, tapi tentang kembali. Seperti sungai yang pada akhirnya bertemu dengan laut, atau seperti burung yang terbang jauh tapi selalu tahu arah sarangnya. Kembali ke kampung halaman adalah kembali ke fitrah, ke versi paling sederhana dari diriku. Hidup sederhana, dengan pikiran sederhana. Bukan berarti miskin atau terbatas, melainkan jernih. Hati yang jernih, tujuan yang jernih, dan cara pandang yang tidak lagi dibebani ambisi-ambisi semu yang dulu pernah membuatku terjaga semalaman.

Di sinilah aku sekarang, benar-benar menjalani hidup dan menghayati kehidupan dalam ketenangan. Tidak ada lagi target yang harus dikejar, tidak ada lagi rapat-rapat yang menyita waktu, tidak ada lagi macet dan polusi yang menguras energi. Yang ada hanyalah ayam-ayam yang berkeliaran di halaman, cicit burung-burung bersahutan, dan keramahan orang-orang. Hidup di kampung mengajari satu hal yang dulu sering aku lupakan: bahwa untuk bahagia, tidak perlu memiliki banyak hal. Kita hanya perlu berada di tempat yang tepat, dengan orang-orang yang tepat, dan hati yang ikhlas  menerima kondisi.

Aku teringat pada jalan yang dahulu ditunjukkan oleh orang tua. Jalan yang lurus, meskipun sederhana. Mereka mengajari untuk bermain dengan riang tanpa harus bertengkar, untuk bertindak jujur meskipun tidak ada yang melihat, dan untuk bermimpi sederhana yang tidak membuatku melupakan tanah tempat berpijak. Mereka juga tidak pernah lupa mengajarkan keyakinan spiritual, bahwa ada kekuatan yang lebih besar, dan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah bagian dari rencana Maha Pencipta meskipun sering tidak aku pahami. Keceriaan dipadukan dengan kepatuhan agamis—itulah warisan terindah.

Kupandangi semburat matahari pagi yang menerobos sela-sela dedaunan. Kue kaleng di tanganku hampir habis, air putih tinggal setengah gelas. Musik blues spiritual masih mengalun, dan kini liriknya terdengar seperti doa. Aku tersenyum. Inilah yang disebut pulang. Bukan hanya ke rumah, tapi ke diriku sendiri.

Matahari mulai merambat naik. Waktunya mengecek kandang dan berkebun di sekitar saung. Namun kali ini aku tidak tergesa. Setiap langkah terasa ringan, setiap genggaman tanah di kebun terasa akrab. Sebab aku tahu, petualangan sejati bukanlah tentang pergi sejauh-jauhnya, melainkan tentang menemukan jalan pulang dan memilih untuk tinggal. Di sinilah aku berada, di tanah yang sama ketika pertama kali tumbuh. Dan di sinilah, di sela-sela kopi pagi, kicau burung, dan peluh kebun, aku menemukan makna yang selama puluhan tahun kucari di perantauan, bahwa kebahagiaan bukan di ujung pelarian, melainkan di pangkuan kepulangan. Pulang untuk berbenah, pulang untuk menjadi utuh, dan pulang untuk akhirnya benar-benar hidup.


0 comments :

Post a Comment