DRAFT
Ada momen ketika seorang lelaki tua berdiri lama di depan mesin antrean rumah sakit, menekan layar yang tidak merespons seperti yang ia harapkan, sementara orang-orang muda di belakangnya mulai tidak sabar. Ia tidak bodoh. Ia hanya lahir di zaman yang berbeda, ketika antrean dilayani oleh tangan manusia, bukan algoritma. Adegan semacam ini kini biasa: di bandara, di stasiun, di konter pembayaran yang hanya menerima QRIS. Dunia berubah lebih cepat daripada kemampuan sebagian orang untuk mengikutinya, dan yang paling rentan tertinggal adalah mereka yang berusia lima puluh tahun ke atas, terutama yang hidup jauh dari pusat kota, jauh dari akses pendidikan sains dan teknologi.
Alvin Toffler, empat dekade lalu, sudah meramalkan ini dalam Future Shock: perubahan yang datang terlalu cepat akan membuat manusia mengalami disorientasi, semacam guncangan psikologis akibat ketidaksiapan menghadapi masa depan yang datang sebelum waktunya. Yang ia gambarkan dulu sebagai spekulasi, kini menjadi pengalaman harian jutaan orang tua di kampung dan kota kecil di Indonesia. Bukan hanya soal internet dan komputer. Yang sederhana sekalipun—tiket kereta, pembayaran belanja, pendaftaran rumah sakit, seminar daring—kini menuntut literasi digital yang tidak semua orang miliki. Dan di atas semua itu, kecerdasan buatan bergerak masuk ke setiap sudut kehidupan, mempercepat jarak antara yang adaptif dan yang tertinggal.
Psikologi punya nama untuk apa yang terjadi pada sebagian orang tua ini: learned helplessness, istilah yang diperkenalkan Martin Seligman untuk menjelaskan kondisi ketika seseorang berulang kali gagal menguasai sesuatu, lalu berhenti mencoba sama sekali—bukan karena tidak mampu, tapi karena sudah meyakini dirinya tidak akan pernah mampu. Ini bukan kemalasan. Ini adalah luka psikologis yang terbentuk dari kegagalan berulang tanpa pendampingan yang memadai. Ketika seorang nenek menyerah mempelajari aplikasi ojek daring setelah dua kali gagal memesan, ia tidak sedang malas; ia sedang mengalami apa yang oleh Albert Bandura disebut rendahnya self-efficacy—keyakinan akan kemampuan diri untuk berhasil dalam tugas tertentu. Bandura menunjukkan, keyakinan ini dibentuk oleh pengalaman keberhasilan kecil yang berulang. Tanpa itu, seseorang berhenti bukan karena tidak ingin, tapi karena sudah kehilangan alasan untuk percaya pada dirinya sendiri.
Namun ada juga yang memilih jalan lain: berusaha, meski terengah-engah, meski hasilnya tidak pasti. Mereka inilah yang oleh Erik Erikson digambarkan sedang menjalani tahap generativity versus stagnation—dorongan untuk tetap produktif dan relevan, melawan kecenderungan untuk menyerah dan menarik diri dari dunia yang berubah. Usaha ini terasa melelahkan, karena setiap kali mereka mulai memahami satu aplikasi, muncul pembaruan atau teknologi baru yang menuntut penyesuaian lagi. Ini seperti berlari di atas treadmill yang kecepatannya terus dinaikkan tanpa pemberitahuan. Tapi dalam kelelahan itu ada sesuatu yang mulia: keteguhan untuk tidak menyerah pada zaman, bahkan ketika zaman tidak menyediakan ruang yang cukup lapang untuk mereka belajar.
Dalam budaya Jawa, ada ungkapan gaptek—gagap teknologi—yang sering diucapkan dengan nada bercanda, padahal di baliknya tersimpan kecemasan nyata. Ironisnya, budaya kita juga mewariskan penghormatan besar kepada orang tua, kepada mereka yang dianggap sumber kearifan. Tapi teknologi membalik hierarki ini: anak muda menjadi guru, orang tua menjadi murid yang canggung, dan itu bisa melukai harga diri yang selama ini dibangun dari peran sebagai yang dituakan. Sastra sering menangkap pergeseran semacam ini. Dalam banyak karya Pramoedya Ananta Toer, tokoh-tokoh tua kerap digambarkan berjuang mempertahankan makna diri ketika dunia di sekitar mereka berubah tanpa permisi—sebuah tema yang, meski ditulis dalam konteks kolonial dan pascakolonial, tetap relevan hari ini dalam bentuk yang berbeda: kolonialisasi oleh kecepatan.
Yang perlu digarisbawahi, kesenjangan digital bukan semata soal teknis, tapi soal keadilan sosial dan psikologis. Victor Frankl, dalam pengalamannya menghadapi penderitaan ekstrem, menemukan bahwa manusia bisa bertahan bukan karena situasi berubah, tapi karena mereka menemukan makna dalam usaha itu sendiri. Prinsip ini bisa dipinjam di sini: bagi orang tua yang terus berusaha memahami dunia digital meski hasilnya tidak sempurna, usaha itu sendiri punya nilai—bukan sekadar soal berhasil menguasai aplikasi, tapi soal mempertahankan rasa bahwa dirinya masih punya tempat dalam dunia yang berubah.
Maka pertanyaannya bukan hanya bagaimana orang tua bisa mengejar teknologi, tapi bagaimana masyarakat menyediakan ruang belajar yang sabar, yang memberi kesempatan pada keberhasilan-keberhasilan kecil sebagaimana disyaratkan Bandura, alih-alih membiarkan mereka terjebak dalam pengulangan kegagalan yang membentuk keputusasaan ala Seligman. Kesenjangan digital pada akhirnya adalah cermin dari kesenjangan empati kita sebagai masyarakat—seberapa besar kita bersedia memperlambat langkah demi mereka yang berjalan lebih pelan, tanpa kehilangan arah ke depan.

0 comments :
Post a Comment