Powered by Blogger.
Home » , » KATARSIS 19 : YA, SAYA SALAH

KATARSIS 19 : YA, SAYA SALAH

Written By Suheryana Bae on Tuesday, July 14, 2026 | 10:02 PM

 Draft :

Tidak seperti asumsi seorang tokoh, bahwa gelar sarjana tidak serta merta membuat seseorang dapat membangun keluarga. Ijazah dan indeks prestasi tidak berarti memiliki kompetensi mendidik anak. Kita boleh belajar teori psikologi dan membaca biografi orang-orang sukses, tapi tetap gagal tatkala menerapkannya di keluarga sendiri. Inilah introspeksi yang saya lakukan setelah berpuluh tahun membangun keluarga dan membesarkan anak-anak.

Dengan berat hati, saya ingin mengatakan, ya, saya salah. Bukan kesalahan besar, tetapi kesalahan-kesalahan kecil, yang pada awalnya saya ppikir bagian dari kasih sayang. 

Kesalahan pertama yang sering kita lakukan, sering kali tanpa sadar, adalah menjadikan anak sebagai kanvas untuk melukis ulang kegagalan atau ambisi yang tak sempat kita raih. Kita mengarahkan anak bukan berdasarkan potensi, melainkan berdasarkan keinginan kita sendiri. Kita ingin anak menjadi dokter, insinyur, pejabat, atau profesor. Alasannya terdengar sangat mulia dan dibungkus rapat dengan label kasih sayang. Kita meyakinkan diri sendiri bahwa ini demi masa depan anak, pilihan terbaik untuk kehidupannmasa depan. Padahal, tanpa disadari sesungguhnya adalah proyeksi ego. Psikologi kontemporer sering menyebut ini sebagai bentuk narsisme terselubung, di mana anak dipandang sebagai ekstensi dari diri orang tua, bukan sebagai individu yang utuh. Kita memaksa anak memakai sepatu yang kita beli, padahal ukuran kakinya jelas berbeda.

Kesalahan kedua adalah penyakit kronis di tengah masyarakat kita yakni membandingkan. Kita merasa cemas, bahkan malu, ketika nilai rapor anak lebih rendah dari anak tetangga, atau ketika sepupunya berhasil masuk perguruan tinggi favorit sementara anak kita tidak. Di era media sosial hari ini, racun perbandingan ini semakin akut dan merusak. Kita tidak hanya membandingkan anak dengan anak tetangga atau anak teman kantor, tetapi dengan ribuan anak lain yang memamerkan prestasinya di media sosial. Akibatnya, rumah bukan lagi menjadi tempat berlindung yang hangat, melainkan berubah menjadi arena kompetisi yang melelahkan. Keakraban dan kebersamaan luntur digantikan oleh tekanan untuk terus membuktikan diri. Anak tidak merasa dicintai karena keberadaannya, melainkan karena pencapaian yang membaggakan orang tua.

Kesalahan ketiga, dan mungkin yang paling merusak di era modern ini, adalah obsesi untuk mengoptimalkan setiap detik dalam hidup anak. Kita menyusun jadwal yang begitu padat demi mencetak manusia sukses. Pagi hingga sore di sekolah, sore hingga malam mengikuti bimbingan belajar, akhir pekan les bahasa, les bela diri, les olahraga, ditambah kewajiban aktif di organisasi. Kita merampas hak paling mendasar seorang anak: waktu untuk bermain. Kita lupa bahwa dalam dunia yang semakin kompleks ini, keterampilan hidup yang paling krusial tidak diajarkan di dalam kelas yang terstruktur. Para psikolog perkembangan secara konsisten mengingatkan bahwa bermain bebas adalah sarana evolusioner bagi anak untuk belajar mengambil keputusan, memecahkan masalah, bekerja sama, dan mengendalikan emosi. Ketika kita menjadwalkan setiap menit hidup mereka, kita sedang mencuri kesempatan mereka untuk belajar bagaimana cara hidup. Kita menciptakan generasi yang sangat pandai mengikuti instruksi, tetapi rapuh ketika harus menghadapi situasi yang tidak ada panduan resminya.

Dunia modern, dengan semua kemajuan teknologinya, justru membuat kita semakin cemas sebagai orang tua. Media sosial memperlihatkan anak-anak ajaib yang berbicara empat bahasa di usia lima tahun, anak-anak yang sudah menciptakan aplikasi sebelum SMP. Kita melihat itu dan kita panik. Kita takut anak kita tertinggal. Kita lupa bahwa apa yang kita lihat di layar adalah highlights, bukan keseharian. Kita lupa bahwa setiap anak punya ritme sendiri. Kita terlalu sibuk membandingkan, terlalu sibuk mengarahkan, terlalu sibuk mengisi jadwal, sehingga kita kehilangan momen-momen kecil yang sebenarnya penting: percakapan di meja makan tanpa gawai, tawa saat menonton film konyol, keheningan yang nyaman saat berjalan di taman. Kesalahan itu, pada akhirnya, adalah kesalahan karena kita mendidik anak untuk dunia, bukan untuk mereka.

Tulisan ini bukan pengakuan yang minta maaf; pengakuan yang berharap ada yang belajar dari kekeliruan. Saya tidak bisa mengembalikan waktu. Saya tidak bisa menghapus kata-kata perbandingan yang sudah terucap. Tapi saya bisa mengakui, dan pengakuan itu adalah awal. Kepada orang-orang muda yang mungkin kelak menjadi orang tua, saya titip satu pesan: anak bukan perpanjangan tangan kita. Mereka bukan alat untuk menyembuhkan luka masa lalu kita. Mereka bukan proyek prestasi yang harus kita kelola. Mereka adalah manusia utuh dengan keinginan, mimpi, dan jalan mereka sendiri. Tugas kita bukan membentuk, tapi menemani. Bukan mengarahkan, tapi mendampingi. Bukan menjadwalkan, tapi memberikan ruang untuk tumbuh.

Kesalahan saya mungkin tidak unik, tapi pengakuan atasnya adalah langkah yang jarang diambil. Dan mungkin, cukup jarang, pengakuan itu bisa menjadi pelajaran. Semoga.

0 comments :

Post a Comment