Saya terkagum-kagum dengan seorang Direktur berpostur tinggi besar, berkumis, berjenggot jebolan Amerika terlihat berwibawa, gagah, kharismatik.
Kerjaannya, datang jam delapan pagi, keluar dari kendaraan antik zaman purba, tas dibawain sopir ke ruang kerja, disambut sang sekretaris yang cantik dan seksi. Artikel-artikel yang layak baca sudah dipilih dan dihidangkan di hadapan big boss ... Entahlah hidangan-hidangan lainnya.
Tengah hari, sang big bos kelihatan mondar mandir di lantai 2, merenung, berpikir, melihat ke bawah. Entahlah apa yang dipikirkan. Namun sepertinya melepas lelah, kejenuhan dan mencari inspirasi.
Beliau adalah seorang pimpinan yang hebat, berwawasan luas, pemikiran segar dan inovatif, sementara in the other side para stafnya adalah orang-orang fresh graduate dalam negeri yang berwawasan terbatas. Sehingga terjadi jurang sangat jauh antara kemampuan dan wawasan sang big bos dan para stafnnya. Dan itulah, menurut saya, yang menyebabkan munculnya otoritarianisme.
Dalam hal ini big bos adalah raja. Tidak ada kebijakan selain kebijakannya. Tidak ada keputusan selain keputusannya. Diskusi, rapat, sharing, arahan, briefing hanyalah menegaskan bahwa big bos yang paling cerdas, berkuasa, dan paling tahu. Tak terbantahkan.
TETAPI banyak kemajuan dalam organisasi yang big bos pimpin. Budaya dan disiplin kerjanya baik. Banyak terlahir kader yang juga menjadi pemimpin masa depan. Bermunculan kader yang handal, menguasai teknologi terkini, berwawasan luas, dan memiliki kemampuan berbahasa internasional.
So, pada kondisi seperti ini --di mana jurang pengetahuan, kemampuan dan wawasan sang big bos dengan staf sangat jauh -- adalah wajar bahkan mungkin harus muncul gaya kepemimpinan otoriter.
Beliau adalah seorang pimpinan yang hebat, berwawasan luas, pemikiran segar dan inovatif, sementara in the other side para stafnya adalah orang-orang fresh graduate dalam negeri yang berwawasan terbatas. Sehingga terjadi jurang sangat jauh antara kemampuan dan wawasan sang big bos dan para stafnnya. Dan itulah, menurut saya, yang menyebabkan munculnya otoritarianisme.
Dalam hal ini big bos adalah raja. Tidak ada kebijakan selain kebijakannya. Tidak ada keputusan selain keputusannya. Diskusi, rapat, sharing, arahan, briefing hanyalah menegaskan bahwa big bos yang paling cerdas, berkuasa, dan paling tahu. Tak terbantahkan.
TETAPI banyak kemajuan dalam organisasi yang big bos pimpin. Budaya dan disiplin kerjanya baik. Banyak terlahir kader yang juga menjadi pemimpin masa depan. Bermunculan kader yang handal, menguasai teknologi terkini, berwawasan luas, dan memiliki kemampuan berbahasa internasional.
So, pada kondisi seperti ini --di mana jurang pengetahuan, kemampuan dan wawasan sang big bos dengan staf sangat jauh -- adalah wajar bahkan mungkin harus muncul gaya kepemimpinan otoriter.

0 comments :
Post a Comment