Beruntung saya produk PNS zaman
dulu. Punya mentor berpendidikan dan
memiliki kearifan karuhun.
Filosofi-filosofi buhun masih
menjadi pegangan dan patokan berperilaku.
Bahwa “ ka saluhureun kudu
hormat, ka sasama ngahargaan, ka sahadapeun masing nyaah. “
Bahwa tanggung jawab kehidupan
pada akhirnya menjadi sepenuhnya tanggungjawab sendiri, orang lain hanya bisa
nyebut “euleuh” atau “deudeuh”.
Bahwa menyebut nama orang itu pantang,
bahkan kalaupun terpaksa betul-betul atas pertimbangan situasi dan kondisi yang
memaksa dengan mengedepankan sopan santun. Makanya panggilan zaman dulu
berdasarkan peran misalnya Pak Mantri, Pak Guru, Pak Haji atau berdasarkan nama
anak misalnya Bapak Lia, Bapak Kiking, dan sebagainya.
Bahwa dipahing lewat ke depan orang yang layak dihormati,
apalagi dengan baragagah beregegeh.
Bahwa kalau kita berjalan atau
berkendaraan pantang mendahului orang yang dihormati atau atasan kecuali kalau
terpaksa.
Bahwa duduk di depan diutamakan
orang-orang tua atau yang betul-betul terhormat.
TETAPI sekarang, zamane zaman
edan. Zaman dot com. Mengkritik atasan tanpa etika di tempat terbuka secara
terbuka. Memanggil orang-orang terhormat
cukup dengan nama atau jabatan tanpa kata-kata yang menunjukkan
penghormatan. Seperti –maaf-- Gubernur,
Bupati, Camat, Ketua. Atau memanggil nama sseperti –sekali lagi maaf – Ahmad
Heryawan, Suharto, Setya Novanto, dan sebagainya. Kenapa tidak pake kata Bapak
atau Pak, seperti Pak Ahmad Heryawan, Pak Gubernur.
Anehnya orang-orang yang tidak
beretika itu ternyata manusia tanggung. Memahami etika dan budaya tidak, dan teknologi komunikasi informasi juga tidak menguasai. Pake komputer saja gagap.
Menggunakan e mail saja gk bisa. Internet saja gk kenal.

0 comments :
Post a Comment