Powered by Blogger.

CEtika

Written By Suheryana Bae on Wednesday, January 13, 2016 | 8:15 AM

Beruntung saya produk PNS zaman dulu. Punya mentor  berpendidikan dan memiliki kearifan karuhun.
Filosofi-filosofi buhun masih menjadi pegangan dan patokan berperilaku.
Bahwa “ ka saluhureun kudu hormat, ka sasama ngahargaan, ka sahadapeun masing nyaah. “
Bahwa tanggung jawab kehidupan pada akhirnya menjadi sepenuhnya tanggungjawab sendiri, orang lain hanya bisa nyebut “euleuh” atau “deudeuh”.

Bahwa menyebut nama orang itu pantang, bahkan kalaupun terpaksa betul-betul atas pertimbangan situasi dan kondisi yang memaksa dengan mengedepankan sopan santun. Makanya panggilan zaman dulu berdasarkan peran misalnya Pak Mantri, Pak Guru, Pak Haji atau berdasarkan nama anak misalnya Bapak Lia, Bapak Kiking, dan sebagainya.

Bahwa dipahing lewat ke depan orang yang layak dihormati, apalagi dengan baragagah beregegeh.

Bahwa kalau kita berjalan atau berkendaraan pantang mendahului orang yang dihormati atau atasan kecuali kalau terpaksa.

Bahwa duduk di depan diutamakan orang-orang tua atau yang betul-betul terhormat.

TETAPI sekarang, zamane zaman edan. Zaman dot com. Mengkritik atasan tanpa etika di tempat terbuka secara terbuka.  Memanggil orang-orang terhormat cukup dengan nama atau jabatan tanpa kata-kata yang menunjukkan penghormatan.  Seperti –maaf-- Gubernur, Bupati, Camat, Ketua. Atau memanggil nama sseperti –sekali lagi maaf – Ahmad Heryawan, Suharto, Setya Novanto, dan sebagainya. Kenapa tidak pake kata Bapak atau Pak, seperti Pak Ahmad Heryawan, Pak Gubernur.

Anehnya orang-orang yang tidak beretika itu ternyata manusia tanggung. Memahami etika dan budaya tidak, dan teknologi komunikasi informasi juga tidak menguasai. Pake komputer saja gagap. Menggunakan e mail saja gk bisa. Internet saja gk kenal.
Ternyata yang diadopsi hanyalah kulit-kulitnya peradaban moderen.  Kecerdasan dan etos kerjanya masih jauh dari peradaban moderen.

0 comments :

Post a Comment