Di
daerah konflik Timor Timur akhir 90-an. Satu
orang ditusuk di Marcado lama. Beberapa waktu sebelumnya satu orang tentara meninggal dunia di Viqueque. Satu peleton diserang. Dan
seterusnya.
Hanya
angka.
Statistika
berbicara tentang angka atau prosentase. Satu, dua, tiga, empat, tujuh puluh
lima prosen, sembilan puluh prosen dan seterusnya. Padahal di belakang angka ada
turutan yang tidak terekspose. Kesedihan, tangis pilu, kehampaan, kehilangan
masa depan, kemarahan, kekecewaan adalah beberapa hal yang tidak terekspose
statistika.
Statistika
menginformasikan berbicara banyak tetapi menyembunyikan yang esensial. “Statistik seperti rok mini, “ kata NH Dini.
“Memperlihatkan banyak hal, tetapi menyempunyikan yang esensial. “
Dan
manusia dengan kejamnya berhenti pada statistika bahkan sesekali memanipulasi
statistika serta mengabaikan kemanusiaan.
Politik terkadang sengaja berhenti pada angka dan tidak peduli sesuatu
di balik angka. Bahwa ada satu orang
stau sekelompok dengan sengaja sebenarnya dikorbankan untuk tujuan-tujuan
politik. Satu orang “pendatang”
dikondisikan untuk bertikai, berkelahi, kemudian dibunuh. Setelah itu
dihembuskan provokasi pertikaian antar agama “yang dipeluk pembunuh” dengan agama
“yang dipeluh” terbunuh.
Maka jadilah konflik SARA yang meluas. Betapa
sederhananya angka. Menyebut angka satu
orang terbunuh, tetapi di belakangnya terdapat banyak hiden agenda dan begitu
banyak permasalahan kemanusiaan.

0 comments :
Post a Comment