Hakekat
kepemimpinan bukan bagaimana mengendalikan orang lain tetapi bagaimana
mengelola diri sendiri. Banyak hal menjadi handicap sesungguhnya bermula dari
diri sendiri, antara lain :
Kemalasan bukan karena kondisi hujan, mendung,
atau gaduh. Kemalasan adalah kondisi psikologis personal. Bisa dirubah menjadi
rajin apabila dari dalam diri timbul keinginan untuk menghilangkan kemalasan.
Keberanian mengambil resiko, keberanian,
bertindak, keberanian mengambil inisiatif adalah hal-hal substansial yang harus dimiliki
pemimpin. Pemimpin tidak bisa berdiam diri karena alasan apapun. Keterbatasan
anggaran, SDM, waktu, aturan atau apapun tidak boleh menghentikan gerak sang
pemimpin. Bahkan takut berbuat kesalahan tidak bisa dijadikan alasan untuk
tidak berbuat. Kalau hanya ingin
bergerak di wilayah aman, jangan jadi
pemimpin tapi jadilah pengikut yang kritis.
Kemampuan mengambil keputusan harus
menjadi bagian dari kepemimpinan sebab pemimpin dari waktu ke waktu dituntut
untuk mengambil keputusan. Tidak boleh dan tidak bisa suatu kondisi atau suatu
masalah dibiarkan menggantung tanpa keputusan. Boleh jadi pada awalnya bermula
dari keraguan, tapi pada endingnya harus ada keputusan yang pasti, yang tidak
ragu, yang dipatuhi bersama –oleh dirinya dan oleh orang-orang yang ada dalam
sistem-- . Kemampuan mengambil keputusan adalah gambaran kedewasaan seorang
pemimpin, tanpa keberanian mengambil keputusan pemimpin hanyalah SK di atas
kertas.
Pengendalian emosi adalah keterampilan
mendasar lainnya yang harus dimiliki pemimpin. Adakalanya pemimpin ingin
meluapkan kemarahan, tetapi apabila dilakukan akan kontraproduktif atau
mengakibatkan gairah kerja staf menurun. Sehingga kemarahan harus ditundah
beberapa waktu. Tetapi adakalanya
pemimpin harus marah dan dihadapkan pada keraguan atau ketakutan untuk
menyalurkan kemarahannya. Pada posisi ini ketakutan harus dikelola sehingga
tidak jadi penghambat untuk kemarahan konstruktif. Kata orang bijak, orang kuat adalah orang
yang mampu mengendalikan diri sendiri.
At
the end, kepemimpinan adalah pengalaman praksis yang diperkaya oleh keluasasan
wawasan TETAPI bukan wawasan teoritis. Setiap pemimpin harus menyadari kemampuan,
keterbatasan dan peluang-peluang untuk pengembangan diri.

0 comments :
Post a Comment