Powered by Blogger.
Home » » Kepemimpinan adalah seni mengendalikan diri

Kepemimpinan adalah seni mengendalikan diri

Written By Suheryana Bae on Tuesday, January 19, 2016 | 11:48 AM

Hakekat kepemimpinan bukan bagaimana mengendalikan orang lain tetapi bagaimana mengelola diri sendiri. Banyak hal menjadi handicap sesungguhnya bermula dari diri sendiri, antara lain :

Kemalasan bukan karena kondisi hujan, mendung, atau gaduh. Kemalasan adalah kondisi psikologis personal. Bisa dirubah menjadi rajin apabila dari dalam diri timbul keinginan untuk menghilangkan kemalasan.

Keberanian mengambil resiko, keberanian, bertindak, keberanian mengambil inisiatif adalah hal-hal substansial yang harus dimiliki pemimpin. Pemimpin tidak bisa berdiam diri karena alasan apapun. Keterbatasan anggaran, SDM, waktu, aturan atau apapun tidak boleh menghentikan gerak sang pemimpin. Bahkan takut berbuat kesalahan tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak berbuat.  Kalau hanya ingin bergerak di wilayah aman, jangan jadi pemimpin tapi jadilah pengikut yang kritis.

Kemampuan mengambil keputusan harus menjadi bagian dari kepemimpinan sebab pemimpin dari waktu ke waktu dituntut untuk mengambil keputusan. Tidak boleh dan tidak bisa suatu kondisi atau suatu masalah dibiarkan menggantung tanpa keputusan. Boleh jadi pada awalnya bermula dari keraguan, tapi pada endingnya harus ada keputusan yang pasti, yang tidak ragu, yang dipatuhi bersama –oleh dirinya dan oleh orang-orang yang ada dalam sistem-- . Kemampuan mengambil keputusan adalah gambaran kedewasaan seorang pemimpin, tanpa keberanian mengambil keputusan pemimpin hanyalah SK di atas kertas.

Pengendalian emosi adalah keterampilan mendasar lainnya yang harus dimiliki pemimpin. Adakalanya pemimpin ingin meluapkan kemarahan, tetapi apabila dilakukan akan kontraproduktif atau mengakibatkan gairah kerja staf menurun. Sehingga kemarahan harus ditundah beberapa waktu.  Tetapi adakalanya pemimpin harus marah dan dihadapkan pada keraguan atau ketakutan untuk menyalurkan kemarahannya. Pada posisi ini ketakutan harus dikelola sehingga tidak jadi penghambat untuk kemarahan konstruktif.  Kata orang bijak, orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan diri sendiri.

At the end, kepemimpinan adalah pengalaman praksis yang diperkaya oleh keluasasan wawasan TETAPI bukan wawasan teoritis. Setiap pemimpin harus menyadari kemampuan, keterbatasan dan peluang-peluang untuk pengembangan diri. 

0 comments :

Post a Comment