Powered by Blogger.
Home » » Profesionalitas

Profesionalitas

Written By Suheryana Bae on Friday, January 29, 2016 | 9:46 AM

Ruang tunggu dokter di suatu sore. Dua tiga orang mengantri. Sekunyong-kunyong muncul penampakan dua orang perempuan muda berkaos casual, pake beton gigi, bercelana selutut dan langsung mengetuk pintu ruang praktek.

              “ Dokter ... dokter .... “ katanya
                Sepi.
             “Dokter ... dokter .... , “ mengulang panggilannya.
            
Beberapa saat kemudian oknum dokter keluar. Mengambil buku pendaftaran, ngobrol-ngobrol sambil sesekali menunduk dan melihat-lihat daftar antrian.

Sang perempuan muda ngomong dengan wajah mendekat dan mempermainkan smartphone diselingi beberapa kali selfie dan bergaya.  Keakraban atau katakanlah kemesraan yang tertahan.

Aku menangkap gelagat tidak sehat. Gaya bicaranya akrab, in formal, santai tapi agak kaku karena di ruang publik. Ini ada apa-apanya. Khas masyarakat kota jahiliah yang tidak mau antre.

Aku berbisik kepada anakku yang sedang mengantre untuk langsung pulang apabila “dua perempuan” berkawat gigi yang datang belakangan didahulukan dari antrian yang sebenarnya.  

Dan pada waktunya, anakku dipanggil ke ruang praktek bersamaan dengan dua perempuan berkawat gigi. Tentu saja anakku di antrean yang benar sementara dua perempuan  muda di antrean yang salah. Meloncati dua antrian ibu-ibu dengan anaknya dan seorang bapak diantar istrinya.

Maka kesimpulannya, dari sisi anakku pelayanannya sudah benar. Tapi dari sisi antrian yang lain, pelayanan seperti ini tidak profesional. Oleh karena itulah bersepakat dengan anakku untuk tidak melanjutkan konsultasi medis pada kesempatan berikutnya dengan oknum dokter tersebut dan akan mencari dokter lain.  Masih banyak dokter yang ramah, bekerja profesional, melayani dengan benar. Sang Oknum dokter tidak akan lagi menerima uang dariku atas jasa pengobatan.


Kasus tersebut di atas menjadi cerminan bahwa dalam bekerja meperhatikan azas profesionalitas, etika, kepatutan dan kelayakan sebuah birokrasi dan pelayan publik. 

0 comments :

Post a Comment