Ruang
tunggu dokter di suatu sore. Dua tiga orang mengantri. Sekunyong-kunyong muncul
penampakan dua orang perempuan muda berkaos casual, pake beton gigi, bercelana
selutut dan langsung mengetuk pintu ruang praktek.
“ Dokter ... dokter .... “
katanya
Sepi.
“Dokter ... dokter .... , “
mengulang panggilannya.
Beberapa saat kemudian oknum
dokter keluar. Mengambil buku pendaftaran, ngobrol-ngobrol sambil sesekali
menunduk dan melihat-lihat daftar antrian.
Sang perempuan muda ngomong
dengan wajah mendekat dan mempermainkan smartphone diselingi beberapa kali
selfie dan bergaya. Keakraban atau
katakanlah kemesraan yang tertahan.
Aku
menangkap gelagat tidak sehat. Gaya bicaranya akrab, in formal, santai tapi
agak kaku karena di ruang publik. Ini ada apa-apanya. Khas masyarakat kota
jahiliah yang tidak mau antre.
Aku
berbisik kepada anakku yang sedang mengantre untuk langsung pulang apabila “dua
perempuan” berkawat gigi yang datang belakangan didahulukan dari antrian yang
sebenarnya.
Dan
pada waktunya, anakku dipanggil ke ruang praktek bersamaan dengan dua perempuan
berkawat gigi. Tentu saja anakku di antrean yang benar sementara dua perempuan muda di antrean yang salah. Meloncati dua
antrian ibu-ibu dengan anaknya dan seorang bapak diantar istrinya.
Maka
kesimpulannya, dari sisi anakku pelayanannya sudah benar. Tapi dari sisi
antrian yang lain, pelayanan seperti ini tidak profesional. Oleh karena itulah bersepakat
dengan anakku untuk tidak melanjutkan konsultasi medis pada kesempatan
berikutnya dengan oknum dokter tersebut dan akan mencari dokter lain. Masih banyak dokter yang ramah, bekerja
profesional, melayani dengan benar. Sang Oknum dokter tidak akan lagi menerima
uang dariku atas jasa pengobatan.
Kasus
tersebut di atas menjadi cerminan bahwa dalam bekerja meperhatikan azas
profesionalitas, etika, kepatutan dan kelayakan sebuah birokrasi dan pelayan
publik.

0 comments :
Post a Comment