Terkadang
perubahan atau komunitas membutuhkan “orang gila” yang punya mimpi, punya
moralitas, integritas, punya daya juang, punya keihlasan, punya keberanian,
nekad, mampu mengalahkan ketakutan, inovatif, kreatif, orisinal, dan tidak
mempunyai maksud tersembunyi.
Alkisah
ada seorang Gubernur yang berani menentang Legislatif, berani menentang
tokoh-tokoh masyarakat, dan berjuang untuk “kesejahteraan” masyarakat, katanya
tidak takut bahkan andai harus diturunkan dari jabatan. Ada beberapa perubahan
wajah, kinerja, kebijakan, antusiasme wilayah, walaupun nanti baru dibuktikan
lima atau sepuluh tahun ke depan sebagaimana Ali Sadikit dipuji-puji membawa
banyak perubahan di Jakarta.
Ada
juga beberapa walikota yang dengan intelektualitas dan kegilaannya berusaha
merubah wajah kota. Menertibkan pedagang kaki lima, menata taman, memulai
program smart city, membangun ekonomi kreatif, menata transportasi moderen, dan
mengembangkan pariwisata bahkan dengan nekad memberhentikan pejabat yang
dianggap tidak mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan di zamannya.
Di
ujung timur ada bupati yang menata pasar, membubarkan lokalisasi prostitusi,
mendisiplin pegawai, keliling kampung dan manggul pacul untuk membetulkan
selokan mampet.
Bahkan
ada seorang Presiden yang dengan gagah berani menentang Negara Kapitalis,
menasionalisasi perusahaan minyak asing yang ada di negaranya, membangun
perumahan rakyat, menata pendidikan, dan meningkatkan pelayanan kesehatan. Sang
Presideh berani berjuang dengan segala resikonya untuk membangun negara dengan
senjata dan dengan kerja nyata. Tidak peduli bahkan jiwa dan keluarganya
terancam.
Pada
situasi tertentu, komunitas atau negara, membutuhkan orang-orang gila yang
bekerja dengan keyakinan, idealisme, semangat dan keberanian luar biasa. Sesekali
aturan formal birokrasi dilewati demi sebuah pencapaian signifikan.

0 comments :
Post a Comment