Sebuah
gedung terdiri dari banyak ruangan dan setiap ruang memerlukan banyak titik
bola lampu. TETAPI tatkala hendak menerangi ruangan, siapapun di zaman moderen ini tinggal memijit
skaklar di ruangan yang diinginkan terang benderang. Dan pemilik rumah
kebanyakan hanya mengetahui –dan memang tidak perlu tahu- proses yang terjadi
sehingga bola lampu menyala, tidak mengetahui bagaimana menciptakan lampu yang
bisa menyala, jaringan kabel yang mengantar listrik, bahkan seringkali untuk
membongkar dan memasang skaklar pun tidak mampu.
Di
rumah moderen juga dilengkapi dengan televisi, kulkas, AC atau setidak kipas
angin, setrika listrik, kompor gas, pemanas air, jaringan internet, laptop atau
komputer, dan peralatan lainnya. Ketika
ingin berkomunikasi tanpa berpikir kita meraih telepon atau HP dan berbicara
dengan saudara yang di Bekasi, Ade yang di Serang, Kakak di Bandung, atau
sahabat di ranah minang. Kalau ingin melihat berita, orang akan menghidupkan TV
atau meraih laptop yang taersambung dengan jaringan internet. Maka bermunculan
berita tentang terorisme, penurunan harga BBM, pembunuhan gadis cantik,
perseteruan partai, intrik politik, sepakbola dan sebagainya.
Sesungguhnya
kita tidak tahu bagaimana gagang telepon atau benda yang disebut HP bisa
mengantar suara beratus kilometer jauhnya, bagaimana Televisi di New York mengirim
gambar hidup kejadian kebakaran yang baru saja terjadi beberapa menit yang
lalu, bagaiman kabel bisa membuat lempengan besi menjadi panas atau bagaimana
kompor gas berapi. Setidaknya kita tidak pernah secara detail memahami hukum,
proses dan cara kerja sesuatu bekerja sehingga menghasilkan produk.
Sesungguhnya
seperti itulah pemimpin suatu institusi moderen bekerja. Banyak hal harus
dikerjakan institusi dalam waktu bersamaan. Menjaga keamanan dan kebersihan
kantor, membayar rekening listrik dan telepon, menerima dan mengagenda surat
masuk, membuat draft surat keluar, mengecek kehadiran staf, membuat draft
keputusan, menyusun perencanaan, merespon permintaan data, memfasilitasi rapat-rapat,
mengadakan perjalanan dinas, berkoordinasi dengan institusi lain, mengevaluasi
pekerjaan, membuat laporan keuangan, mengelola administrasi keuangan, mengurus
kenaikan pangkat staf, membuat telaahan , mengurus pendidikan on the job
trainig, menyelesakan pengadaan perlengkapan dan peralatan gedung, pembinaan
pegawai, merumuskan tujutan institusi, membangun budaya kerja, dan seabgreg
pekerjaan lainnya. Seorang pemimpin yang jenius dan sekuat apa pun pasti tidak
akan mampu menyelesaikan pekerjaan sendirian.
Maka
untuk berjalannya dan menghasilkan kinerja terbaik institusi diperlukan
kecakapan pemimpin untuk menempatkan, menciptakan, mencerdaskan posisi-posisi
subsistem sebagaimana di rumah
ditempatkan banyak skaklar lampu. Pada saat ingin memfasilitasi rapat, seorang
pemimpin cukup menugaskan subsistem yang berwenang untuk penyelenggaraan rapat,
ketika ingin membuat laporan keuangan cukup dengan berkoordinasi dengan staf
keuangan, kebersihan dengan staf umum, draft surat dengan staf akhli, kajian hukum dengan sarja hukum. Begitu
sederhananya. TETAPI tentu saja untuk meraih kemudahan dan kesederhanaan
skaklar, pemimpin harus memberdayakan dan mencerdaskan orang-orang yang ada
dalam institusi dan menempatkan di posisi yang pas. Pekerjaan mencerdaskan
itulah PR besarnya.

0 comments :
Post a Comment