Tukang bangunan, atau lebih tepatnya pengusaha/
kontraktor pengerjaan bangunan, sungguh luar biasa. Bermental enterpreneur
sejati, sekuat baja, sekokoh karang.
Pada akhir tahun terlambat menyelesaiakan pekerjaan
sehingga ditegur, dimarahi, kontruksi dikoreksi, pengerjaan dianggap tidak
sesuai rencana gambar, suruh dibongkar,
malah terakhir disuruh menghentikan pekerjaan. TETAPI dengan berbagai cara,
dengan argumen normatif, keras kepala, mengabaikan cemoohan, intimitasi, berani,
nekad bersikukuh meneruskan pekerjaan. Profesional dan mengabaikan apapun kata
orang. Hasil akhir bukan lagi menjadi
persoalan.
Dan perjuangannya membuahkan hasil yang
mengagumkan. Bangunan yang pada saat deadline baru sekitar tujuhpuluh persenan
serta diperkirakan tidak akan selesai dengan tambahan waktu, sekarang –lima puluh
hari kemudian- menunjukkan hasil yang mencengangkan. Katakanlah sembilan puluh
lima persen berhasil diselesaikan dan sekarang tahap finishing.
Pelajaran pentingnya adalah bagi siapapun – termasuk birokrat-
tidak ada kata menyerah dalam kamus pekerjaan. Dalam kondisi apapun, hambatan
sebesar apapun, bahkan hinaan, bullying, ancaman, pengabaian, tidak boleh menjadikannya surut ke belakang
atau menyerah pada kondisi. Bekerja profesional dan normatif dan mengurangi
beban psikolgis situasi dan kondisi. Tidak mudah pastinya.

0 comments :
Post a Comment