Kebiasaan yang lazim adalah memotong
pembicaraan dan bertindak seolah-olah merespon pembicaraan serta menyampaikan
informasi-informasi penting. Sang Pejabat, atau siapapun yang merasa lebih
berkuasa, merasa telah berbuat terbaik berisi saran-masukan berdampak
perubahan.
Sesungguhnya hal itu adalah kesalahan berbalut
kecerdasan. Seolah-olah melakukan hal penting padahal sesungguhnya melakukan
kesalahan besar. Dengan memotong
pembicaraan berarti menghentikan penyampaian informasi yang boleh jadi
sangat penting, dan tiba-tiba meloncat pada kesimpulan dan respon yang peluang
terbesarnya adalah tidak tepat.
Filosofi penting yang sering dilupakan bahwa
mendengarkan adalah kecerdasan dan memotong pembicaraan adalah kuasi
cerdas. Kecerdasan bohongan.
Siapapun yang ingin menjadi Pemimpin yang baik harus melatih kesabaran dan kemampuan
mendengarkan, menyerap informasi yang akan menjadi bahan dasar sebuah
keputusan.


0 comments :
Post a Comment