Terkadang –seringkali malah—kehidupan baiknya
dihayati seperti film cartoon. Scoobidoo misalnya. Terbentur-bentur, tergencet,
tertabrak mobil, jatuh, kemudian menjalani kelanjutan hidup seperti tidak
terjadi apa-apa.
Atau seperti anak balita.
Berjalan-jatuh-berjalan-jatuh-berjalan-jatuh-berjalan.
Menangis-tersenyum-baceo-tertidur-menyusu-dimandikan-bermain-menangis-tersenyum-baceo
-tertidur-menyusu-dimandikan-bermain-menangis. Dihayati dengan kelembutan emosi
tetapi tidak emosinal.
Kalau kehidupan dihayati seperti “manusia kamar”
dengan teramat serius, dengan pemikiran mendalam, dengan penghayatan yang
emosional maka hasilnya adalah penyakit jantung, diabetes, kolesterol, stroke.
Kehidupan ya kehidupan saja. Terkadang
bersandiwara, terkadang bermain-main, terkadang kerja serius. Emosi dan
pemikiran hanyalah tanda kemanusiaan tetapi tidak boleh menghentikan langkah,
tidak menghalangi terbitnya matahari, tidak menutupi cahaya rembulan, tidak
membuat nafas tersengal.
Kehidupan ya kehidupan saja.


0 comments :
Post a Comment