Powered by Blogger.
Home » » Catatan pensiunan 42 : Pada akhirnya

Catatan pensiunan 42 : Pada akhirnya

Written By Suheryana Bae on Tuesday, February 24, 2026 | 10:57 AM

 

Hidup adalah panggung sandiwara. Alur ceritanya berubah-ubah. Kadang tak terduga.

Ada masa ketika suara sirene membelah kemacetan, dan di mobil belakang aku menikmati perjalanan, terkadang dengan lamunan yang jauh melayang.

Ada saat ketika staf mengulurkan tangan bersalaman dan mencium tangan sebagai simbol penghormatan. 

Di acara-acara resmi, protokoler menyambut dengan senyuman. Menempatkan di barisan duduk terdepan panggung kehormatan. 

Fasilitas hotel mewah, sekretaris pribadi yang sigap, driver, hingga jamuan makan di restoran bintang lima—semua itu seperti mimpi. Namun, seperti layar bioskop yang gelap setelah film usai, episode itu telah ditutup. Tak ada lagi panggilan mendadak di malam hari, tak ada lagi undangan eksklusif. Semua menghilang.

Tidak perlu dikenang, apalagi disesali. Setiap fase hidup punya masanya sendiri. Seperti musim  berganti. Kemewahan itu hanyalah satu bab. Memberikan pelajaran tentang betapa rapuhnya kedudukan duniawi. Saat segalanya lenyap, yang tersisa adalah diri kita sendiri, telanjang tanpa embel-embel gelar, jabatan atau harta. Sebuah momen transisi, di mana kita diajak merenung. Apa yang telah kita tanam dan apa yang akan kita bawa ke akhir perjalanan. Di usia yang tak lagi muda, di mana setengah abad hampir terlewati, waktu terasa semakin sempit. Usia berkurang dan peluang untuk memperbaiki tak selamanya ada. Saatnya beralih dari angkuh menjadi rengkuh—merendah diri, membungkuk dalam kerendahan hati. Seperti yang dikatakan C. S. Lewis, "Kerendahan hati bukanlah berpikir mengenai kekurangan diri, tapi lebih sedikit memikirkan diri sendiri." Kutipan ini mengingatkan kita bahwa kerendahan sejati datang dari fokus pada orang lain, bukan pada ego sendiri.

Dulu mungkin kita pernah sombong, menganggap dunia berputar di sekitar kita. Kata-kata terucap tanpa dipikir panjang, keputusan egois diambil demi ambisi pribadi. Tapi sekarang, waktunya berbeda. Kini saatnya memperbaiki diri,  introspeksi, membaca buku-buku bijak, atau sekadar duduk diam di bawah langit malam. Kini bukan akhir, tapi awal baru. Kesempatan berbuat baik sebanyak-banyaknya, agar timbangan amal lebih berat saat tiba waktunya. Sebagaimana Joyce Meyer menyatakan, "Kerendahan hati adalah dasar dari setiap sikap yang baik." Mulai dari hal kecil menebar senyum pada tetangga, membantu anak yatim, atau membagikan ilmu dan pengalaman pada yang membutuhkan. Keluarga adalah prioritas—meluangkan waktu untuk keluarga, bukan lagi rapat dan rapat. Memperluas pergaulan dimasyarakat, berkontribusi bagi kemanusiaan.

Hidup ini seperti perjalanan mendaki gunung. Dulu, kita mungkin naik lift ke puncak, tapi sekarang, kita berjalan kaki, hati-hati dalam setiap langkahnya. Penuh perhitungan, bukan lagi ambisi buta, tapi bijak memilih prioritas. Keabadian bukan soal umur panjang, tapi warisan yang ditinggalkan. Apa yang akan dikenang orang tentang kita? Kekuasaan yang fana, atau kebaikan yang abadi?

Di hadapan Mahapencipta, kita hanyalah debu. Selayaknya merunduk, bersyukur atas segala nikmat, dan minta ampun atas kesalahan. Seperti nasihat Agustinus, "Jika engkau bertanya padaku apa saja jalan Tuhan, aku akan menjawab kepadamu bahwa yang pertama adalah kerendahan hati, yang kedua adalah kerendahan hati, dan yang ketiga adalah kerendahan hati." Usia senja bukan akhir yang suram, tapi peluang emas untuk bersinar lebih terang.

Berkaca dari datang dari kisah-kisah nyata tokoh-tokoh besar yang jatuh lalu bangkit dan bangkit lagi. Pengusaha sukses yang bangkrut dan kini menyibukkan diri di rumah Allah. Atau pemimpin yang pensiun dan memilih hidup sederhana berada di tengah masyarakat kampung.  Membuktikan bahwa perubahan bukan kelemahan, tapi kekuatan. Melepaskan masa lalu dan berfokus pada sekarang. Berbuat baik untuk diri, keluarga, dan sesama. Karena sang waktu tidak pernah berhenti, dan keabadian menanti dengan perhitungan yang  adil.

0 comments :

Post a Comment