Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 41 : Menembus Badai

Catatan Pensiunan 41 : Menembus Badai

Written By Suheryana Bae on Thursday, February 19, 2026 | 9:37 PM


Seorang pelaut di tengah lautan luas. Tiba-tiba, badai datang —angin kencang, ombak ganas, dan hujan deras  seolah tidak ada akhirnya. Kalau menimpa Kita, apa yang akan dilakukan? Putar balik, menghindari badai itu, dan berharap badai lenyap begitu saja. Atau, dengan keberanian, memutuskan untuk menembusnya, meski tahu ada risiko kapal rusak atau bahkan karam.

Hidup sering kali seperti lautan. Badai adalah metafor untuk masalah-masalah yang tak terelakkan seperti kegagalan karier, konflik hubungan, krisis kesehatan, atau bpandemi global. Menghindari badai mungkin terasa aman sementara, tapi akan terus mengikuti sepanjang perjalanan. Masalah yang ditunda tak pernah benar-benar hilang melainkan menjadi lebih besar dan menghantui langkah sepanjang waktu. Sebaliknya, menghadapinya secara langsung bisa membawa dua kemungkinan, berhasil menembusnya dan tiba di perairan tenang, atau  gagal dan akhirnya terombang ambing. Tapi bahkan dalam kegagalan itu,  pelaut akan lebih terampil, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi badai berikutnya.

Thomas Alva Edison, sang penemu bohlam listrik. Ia bukanlah orang yang menghindari kegagalan; justru sebaliknya. Edison gagal ribuan kali dalam percobaannya. Saat ditanya tentang kegagalan itu, ia berkata, "Saya tidak gagal. Saya hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil." Badai kegagalan tak membuatnya mundur; ia menembusnya dengan ketekunan. Hasilnya? Dunia menjadi lebih terang, dan Edison menjadi legenda. Begitu pula dengan Muhammad Ali, petinju legendaris. Muhammad  Ali menghadapi "badai" berupa cedera, kontroversi politik, dan lawan-lawan tangguh di ring. Ia pernah kalah, tapi ia bangkit lagi, menembus rasa sakit dan keraguan dengan keyakinan: "Saya adalah yang terhebat." Kemenangannya bukan hanya trofi, tapi bukti bahwa menghadapi badai bisa mengubah Anda menjadi versi terbaik diri sendiri.

Langkah penting dalam menembus badai  kehidupan :  Pertama, mengakui keberadaan badai atau masalah kehidupan. Jangan pernah berpura-pura semuanya baik-baik saja. Kemampuan menyadari, mengerti, memahami dan merumuskan masalah dalam bahasa yang sederhana dan akurat menjadi hal sangat penting. Sehingga langkah untuk menyelesaikan masalah dapat dirumuskan dengan jelas.

Kedua, memecahkan masalah dengan langkah-langkah kecil, sehingga bisa dilaksana dalam waktu terbatas. Harian, mingguan atau tahunan. Penyelesaiannya menjadi sederhana, mungkin dan tidak terasa berat. 

Ketiga, kita hidup di planet bumi tidak sendirian. Ada banyak orang yang dicintai atau mencintai kita. Maka, adalah layak meminta dukungan dan saran keluarga, teman, atau bahkan komunitas . Seperti Muhammad yang punya pelatih di sudut ring, memberikan dukungan eksternal dan perspektif baru.

Keempat, pengalaman adalah guru terbaik, walaupun biayanya mahal, perlu waktu dan seringkali terlambat. Sebaiknya mencatat setiapmkeberhasilan atau kegagalan. Sehingga, melalui perjalanan dan proses ini dapat terbangunn, dan ketika menghadapi masalah berikutnya terasa lebih ringan.

Terakhir, menjaga mindset positif. Membangunnkeyakinan bahwa setelah badai, akan ada pelangi di laut lepas. Setelah tanjakan akan ada turunan. Setelah kesulitan akan tiba kemudahan. Bahwa risiko gagal pasti ada, tapi risiko tidak mencoba lebih besar, selamanya kita terjebak dalam masalah.


Bahwa menembus badai bukan berarti mencari masalah, tetapi tentang menghadapi apa pun yang datang dengan keberanian. Dengan keberanian ini, kita akan menemukan pertumbuhan, kebebasan, dan kedamaian. Kehidupan pun bertumbuh dan berkembang. Semakin berkualitas

0 comments :

Post a Comment