Powered by Blogger.
Home » » Catatan Pensiunan 40 : Jangan Tunda Bahagia

Catatan Pensiunan 40 : Jangan Tunda Bahagia

Written By Suheryana Bae on Wednesday, February 18, 2026 | 5:35 PM


Dalam  kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam pola pikir menunda kebahagiaan. "Nanti saja, setelah dewasa,"  pikir kita ketika muda . "Tunggu menikah dulu," gumam kita ketika lajang. Atau, "Saat anak-anak besar dan mandiri, barulah menikmati hidup." Bahkan, sempat berpikir,  "Ketika nanti pensiun, saya akan traveling." Tapi, realitasnya, kebahagiaan bukanlah hadiah yang datang di akhir perjalanan, melainkan pilihan hidup yang bisa kita ambil saat sekarang. Karena kematian tidak pandang bulu. Ia bisa datang di usia tujuh belas, dua puluh, tiga puluh, atau bahkan tujuh puluh.

Mungkin ketika berusia tujuh belas tahun, kita bermimpi dan energi. Berpikir, kebahagiaan sejati akan datang saat kuliah atau bekerja. Tapi, apa jadinya jika besok hari tak lagi bernapas. Banyak cerita nyata yang mengingatkan kita, tentang kecelakaan lalu lintas, penyakit mendadak, atau bencana alam yang merenggut nyawa muda. Di usia itu, kebahagiaan bisa sesederhana menikmati sore hari dengan main bola bersama teman-teman, membaca buku favorit, atau mengejar hobi tanpa beban. Tidak perlu menunggu ijazah atau gaji pertama. Nak, mulailah membahagiakan diri dari sekarang.

Memasuki usia dua puluhan,  banyak orang mulai membangun karir dan hubungan. Sering kali, kebahagiaan ditunda demi kesuksesan.  Menunggu promosi jabatan  atau punya pasangan, untuk mencapai hidup bahagia. Padahal, kematian tidak mengenal jadwal. Banyak kisah artis muda atau atlet yang meninggal di puncak karir. Padahal di usia ini, kebahagiaan bisa ditemukan dalam kemandirian. Berolahraga untuk kesehatan, atau sekadar berjalan-jalan di taman kota. Jangan biarkan tekanan sosial media membuatmu kita merasa kurang. Kebahagiaan bukan tentang like atau follower, tapi tentang rasa syukur atas keberuntungan di hari ini.

Di usia tiga puluhan, ketika tanggung jawab bertambah—keluarga, anak-anak, pekerjaan—kita berpikir, menunggu anak besar, barulah  fokus pada diri sendiri. Menikah dan punya anak memang indah, tapi bukan alasan untuk menunda membahagiakan diri. Ketika kematian datang tiba-tiba, apa yang akan ditinggalkan.  Bukan harta, tapi kenangan bahagia bersama orang terkasih. Di fase ini, kebahagiaan bisa diraih dengan menyeimbangkan rutinitas. Meluangkan waktu untuk ngopi pagi, menekuni hobi lama yang terlupakan, atau liburan singkat akhir pekan. Anak-anak justru akan belajar dari orang tua yang bahagia, bukan dari orang tua yang selalu lelah dan menunggu.

Bahkan di usia enam puluh tahun, ketika banyak yang sudah pensiun, masih ada yang menunda. "Tunggu nanti,i," tapi menunggu apa? Kematian bisa datang kapan saja. Kisah lansia yang meninggal mendadak mengajarkan kita,  jangan sia-siakan waktu. 

Di usia ini, kebahagiaan ada dalam hal-hal sederhana seperti berkebun, bertemu cucu, atau membaca koran dengan secangkir teh hangat. Tidak perlu menunggu kesehatan sempurna atau kekayaan berlimpah. Yang penting, hargai setiap hembusan napas.

Jadi, bagaimana cara membahagiakan diri tanpa menunggu. Pertama, membatasi hidup di saat ini di sini. Meluangkan waktu menikmati semburat matahari pagi dan mensyukuri apa pun. Udara segar, kopi hangat, atau senyum orang rumah. Kedua, menghidupi  apa pun yang benar-benar membuat bahagia. Bukan apa yang dikatakan orang-orang, tapi yang sesuai dengan hati nurani. Mungkin menulis, bersepeda,  belajar bahasa, berkebun, jalan di taman atau membaca. Ketiga, konsistensi rutinitas positif. Olahraga ringan, makan sehat, dan tidur cukup bukan sekadar kewajiban, tapi investasi kebahagiaan. Keempat, membangun relasi karena kebahagiaan bertambah saat dibagikan.

Bahwa kebahagiaan bukan tujuan akhir, tapi perjalanan. Tidak bergantung pada usia, status, atau momen spesial. Dan kematian mengingatkan bahwa waktu adalah aset paling berharga. Jangan biarkan berlalu sia-sia dengan menunda. Mulailah saat ini tersenyum, melakukan satu hal yang disukai, dan membuat hidup lebih ringan. Karena pada akhirnya, kebahagiaan yang diciptakan sekarang adalah warisan terbaik untuk diri sendiri dan orang sekitar.

Dalam hidup, tidak ada jaminan besok masih hidup. Bahagialah sekarang, karena itulah satu-satunya momen yang benar-benar kita miliki.

0 comments :

Post a Comment