Engkau
Kembalikan matahari
Saat menyingsing
Senyum yang ranum
Tertimbun petikan gitar
Aku katakan
Cinta bukanlah kata-kata
Namun cetusan hati dalam mata
Tarian estetika
(1983)
Matahari itu tidak pernah benar-benar menghilang. Hanya terkubur di balik waktu, dan kadang-kadang dalam keheningan, kembali menyingsing. Bukan sebagai bola api yang menyilaukan, melainkan sebagai hangat yang merambat perlahan di kulit, mengingatkan kita pada sesuatu yang dulu kita pikir telah mati. Begitulah saat engkau muncul kembali dalam ingatanku, sebagai fajar yang membawa serta seluruh warna yang sempat luntur. Aku tidak tahu apakah cinta itu selalu datang dengan gemetar; aku hanya tahu bahwa tahun-tahun yang bergulir telah mengajarkanku satu hal, bahwa kata-kata sering kali menjadi tembok yang memisahkan, bukan jembatan yang menghubungkan. Dan aku, dengan segala kepengecutan masa muda, telah membiarkan tembok itu berdiri kokoh di antara kita.
Senyummu adalah ransum yang aku sembunyikan, takut jika kubagikan terlalu banyak, aku akan kehabisan. Aku memberinya makna lebih dari yang seharusnya, mengubah setiap lengkung bibir menjadi puisi yang hanya aku yang membaca. Namun, di balik semua itu, ada sebuah kebodohan yang manis: bahwa cinta remaja tidak lantang berbicara. Ia lebih suka bersembunyi di balik senyum, di balik kilau tatapan mata, di balik keheningan bahasa rahasia. Dan senandung itu, yang selalu menemani malam-malamku, menjadi saksi bisu bagaimana aku mencoba menerjemahkan degup jantungku ke dalam melodi, padahal nada tak pernah cukup untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ada dalam dada. Aku bernyanyi untukmu, tetapi kau tidak pernah tahu bahwa setiap nada adalah untaian kata "cinta" yang aku rahasiakan dari dunia.
Lalu, bertahun-tahun kemudian, dalam sebuah perenungan, aku mengerti bahwa kau juga menyimpan sesuatu. Bukan dalam kata-kata, melainkan dalam cara kau melihatku, dalam cara kau tersenyum, atau saat kau mendekatku di malam seni. Aku baru menyadari bahwa cinta adalah ironi yang paling sempurna: ia hadir ketika kita sibuk mencarinya di tempat lain, dan pergi ketika kita sangat membutuhkan. Kita adalah dua orang yang sama-sama takut, sama-sama mengira bahwa waktu akan menyelesaikan semuanya. Tapi waktu tidak pernah menyelesaikan apa pun; hanya memindahkan beban dari satu pundak ke pundak lainnya, dan membiarkan kita memikulnya sepanjang hidup.
Maka kutulis puisi itu, bukan untuk mengubah apa yang telah terjadi, tetapi untuk menamai apa yang tak pernah berani kita ucapkan. "Cinta bukan kata-kata," tulisku. Dan itu benar. Kata-kata hanyalah kulit dari sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang menolak untuk dibatasi oleh tata bahasa dan ejaan. Cinta adalah cetusan hati yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam logika; adalah mata yang tidak buta terhadap ketidaksempurnaan, tetapi justru merangkulnya dengan segala keindahan yang liar. Cinta adalah tarian estetika yang tidak pernah sempurna, tetapi selalu mengundang untuk diikuti. Dan dalam tarian itu, kita menemukan bahwa makna bukanlah tujuan, melainkan proses; bahwa kehilangan bukanlah akhir, melainkan transformasi. Aku tidak menyesali ketidakberanianku, karena dari situlah aku belajar bahwa cinta tidak membutuhkan pengakuan untuk mewujud nyata. Cinta cukup dengan menjadi apa adanya: denyut yang terus berdetak meskipun kita berpura-pura tidak mendengarnya.
Engkau, yang kini mungkin telah menjadi bagian dari kenangan, tetap matahari dalam versi terkecilku. Bukan karena aku ingin kembali pada masa itu, tetapi karena pertemuan denganmu mengajariku bahwa cinta remaja bukanlah dosa, melainkan fase di mana kita belajar bahwa kehilangan bisa menjadi bentuk lain dari memiliki. Setiap senyumku padamu, setiap senandung yang kulantunkan tanpa kau dengar, semuanya adalah persembahan untuk sebuah realitas yang tidak pernah terjadi, tetapi hidup dalam dimensi kekinian. Mungkin inilah makna terdalam dari cinta: ia tidak menuntut keabadian, hanya menuntut kehadiran. Dan kehadiran itu, meskipun dalam jarak dan waktu, cukup untuk mengubah seseorang menjadi lebih sadar bahwa keberanian bukanlah tentang mengucapkan, melainkan tentang menerima bahwa apa yang tak terucapkan juga memiliki makna terdalam.
Kini, ketika kutengok kembali puisi itu, aku melihat bukan sekadar deretan kata, melainkan peta dari sebuah perjalanan. Aku telah melewati padang tandus keraguan dan samudra penyesalan, hanya untuk sampai pada kesimpulan bahwa cinta adalah kegilaan yang paling masuk akal. Ia tidak meminta kita untuk menjadi pahlawan; hanya meminta kita untuk menjadi manusia—yang rapuh, yang goyah, tetapi tetap memilih untuk merasakan. Dan di dalam perasaan itulah, engkau dan aku, dalam segala kebisuan kita, telah menulis sebuah narasi yang tidak akan pernah habis dibaca, karena ia terus berubah setiap kali kita mengingatnya. Jadi, biarkan puisi ini tetap apa adanya: untuk mengingat bahwa cinta sejati tidak perlu diubah menjadi apa pun. Ia sudah sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Ia adalah fajar yang kembali, setiap kali kita berani membuka mata.

0 comments :
Post a Comment