Powered by Blogger.
Home » » KATARSIS 20 : KETEGUHAN MEMEGANG PRINSIP

KATARSIS 20 : KETEGUHAN MEMEGANG PRINSIP

Written By Suheryana Bae on Wednesday, July 15, 2026 | 9:28 PM


Prinsip adalah batasan yang kita bangun sebagai pedoman menentukan benar dan salah, apa yang layak dipilih dan apa yang harus ditolak, tanpa bergantung pada suasana hati atau keuntungan sesaat. Prinsip bukan aturan yang dipaksakan orang lain, melainkan keyakinan pribadi yang menjaga arah hidup agar tidak mudah berubah.

Nilai sebuah prinsip baru benar-benar terasa ketika diuji. Dalam keadaan biasa, hampir semua orang mampu berkata jujur, setia, dan bertanggung jawab. Namun ketika kejujuran terasa merugikan, ketika perlu pengorbanan untuk memelihara kesetiaan, atau ketika tanggung jawab terasa berat — saat itulah prinsip menunjukkan maknanya. Setiap keputusan yang kita ambil akan meninggalkan jejak yang tidak dapat dihapus. Psikologi menyebutnya sebagai long-term cognitive burden, pilihan yang bertentangan dengan nilai yang kita yakini tidak berhenti sebagai satu peristiwa, melainkan membentuk cara berpikir, kebiasaan, bahkan watak kita.

Karena itu, kesalahan besar dalam hidup hampir selalu bermula dari pelanggaran terhadap prinsip-prinsip kecil yang tampak sepele. Berbohong, misalnya, sering terasa lebih ringan daripada mengakui kesalahan. Kita mengira kebohongan itu hanya sekali dan tidak akan diulang. Padahal satu kebohongan diikuti kebohongan berikutnya untuk menutupi, lalu bohong lagi dan lagi, hingga akhirnya kita terperangkap dalam jaring kebohongan yang dibuat sendiri. Sebenarnya yang paling menderita bukan orang yang dibohongi, melainkan diri kita sendiri. Kepercayaan, baik dari orang lain maupun kepercayaan kepada diri sendiri, perlahan terkikis. Seperti kain putih yang terkena noda: mungkin masih bisa dibersihkan, tetapi tidak pernah benar-benar kembali seperti semula.

Pelanggaran terhadap prinsip juga sering terjadi dalam hubungan antarmanusia. Ada orang yang berpindah-pindah dari satu hubungan ke hubungan lain tanpa rasa bersalah, karena terus mengejar sesuatu yang belum jelas wujudnya. Hakekatnya ia merusak kepercayaan orang lain sekaligus mencoreng namanya sendiri, jejak yang membekas sepanjang kehidupan.

Ia tidak menyadari bahwa sebuah hubungan bukan sekadar mencari rasa senang, melainkan kesediaan bertumbuh bersama seseorang, belajar menerima kekurangan, dan bertahan ketika masa sulit datang. Kebiasaan membangun hubungan yang tidak menetap lambat laun mengubah kemampuan seseorang untuk merasa aman dan dekat dengan orang lain. Hati yang terlalu sering berpindah akhirnya kehilangan tempat untuk  berlabuh.

Hal yang sama berlaku ketika memilih pendamping hidup. Tidak sedikit orang yang lebih mudah terpikat oleh penampilan, harta, kedudukan, atau kata-kata manis daripada oleh karakter. Padahal waktu selalu mempunyai cara untuk membuka topeng kehidupan. Ketika masa-masa sulit datang dan keistimewaan itu meredup, yang tersisa hanyalah kejujuran, kesetiaan, tanggung jawab, dan kemampuan saling mendukung. Penyesalan sering kali datang ketika kesempatan untuk memperbaiki keadaan tertinggal jauh di belakang.

Pengalaman-pengalaman seperti itulah yang, ketika direnungkan dengan jujur, menjadi katarsis. Pengalaman tidak sekadar meninggalkan kenangan, tetapi memberi sudut pandang baru dalam memaknai kehidupan. Kita memahami bahwa tidak semua yang kelihatan menyenangkan layak dipilih, dan tidak semua yang tampak berat harus dihindari. Ada penderitaan yang menyelamatkan, sebagaimana ada kenikmatan yang justru menyesatkan.

Sang waktu adalah hakim paling adil yang tidak tergesa-gesa memberi putusan. Bersama waktu setiap pilihan bertumbuh hingga memperlihatkan buahnya seutuhnya. Keteguhan memegang prinsip mungkin terasa berat pada awalnya. Menuntut keberanian untuk menolak godaan, kesediaan berjalan sendirian, bahkan kesiapan berbeda dari kebanyakan orang. Namun justru dari sanalah lahir ketenangan yang tidak dapat dibeli oleh apa pun. Sebaliknya, keputusan yang mengorbankan prinsip demi keuntungan sesaat sering berubah menjadi penyesalan sepanjang hidup.

Karena itu, setiap pengalaman — yang membahagiakan maupun yang menyakitkan — layak dijadikan bahan renungan. Pengalaman bukan hanya mengajarkan apa yang pernah terjadi, melainkan membantu kita memahami siapa diri kita sebenarnya. Sebab pada akhirnya, apa yang kita pilih hari ini  akan membentuk pribadi yang kita bawa sampai akhir hayat.

 

0 comments :

Post a Comment