Powered by Blogger.
Home » » RENUNGAN SPIRITUAL 8 : TENTANG QONAAH DAN RIDHA

RENUNGAN SPIRITUAL 8 : TENTANG QONAAH DAN RIDHA

Written By Suheryana Bae on Monday, July 13, 2026 | 2:17 PM

DRAFT 


Kehidupan ibarat perahu kecil di tengah lautan yang tak pernah tenang dengan deburan ombak. Kehilangan yang dicintai, kemiskinan,  dan kesulitan datang silih berganti. Dan di situlah kegelisahan mendera. Kita bertanya-tanya, mengapa semua ini terjadi pada kita? Mengapa takdir terasa begitu kejam? Mengapa Sang Pencipta seakan membiarkan kita terkapar di jalan terjal dan berbatu?

Namun di balik semua kegelisahan itu, ada satu akar persoalan yang luput dari perhatian kita yakni ketidakridhaan. Kita tidak rela menerima apa yang telah ditetapkan serta tidak ikhlas atas ketentuan takdir. Dalam hati kecil, kita merasa bahwa hidup seharusnya tidak begini. Kita merasa  layak mendapatkan yang lebih baik. Merasa bahwa kehilangan adalah  hukuman, kemiskinan adalah tanda bahwa Tuhan menjauh. dan bahwa kesulitan adalah bukti kita tidak lagi dicintai Mahapencipta. 

Perasaan ini kemudian meracuni segalanya. Kehilangan kecil menjadi derita besar dan kekurangan adalah sengsara yang berkepanjangan. Kita cemas akan kehilangan sesuatu yang kita miliki dan gelisah karena menginginkan yang belum kita miliki. Hidup menjadi pertempuran antara harapan dan kenyataan, antara keinginan dan ketetapan. Kita berlari ke sana kemari mencari kepastian, padahal kepastian sejatinya hanya wewenang Yang Maha Menentukan.

Andai saja kita mau berhenti sejenak dan merenung. Andai saja mau menerima bahwa semua yang terjadi adalah ketentuan Ilahi Rabbi yang Maha Bijaksana. Tidak untuk menyiksa,  menguji atau menghukum; tetapi untuk menguji agar menjadi manusia yang matang dan dewasa.

Betapa damai kehidupan jika kita bisa mencapai titik di mana tidak ada lagi penolakan, tidak ada lagi kekecewaan, tidak ada lagi keinginan yang atau harapan. Hanya menjalani apa yang telah ditetapkan dengan kesadaran dan keikhlasan. Seperti sungai yang mengalir mengikuti alur, tanpa protes, tanpa tanya, tanpa harapan menuju muara.

Itulah makna qanaah dalam makna sufistiki. Tentunya bukan sikap pasrah tanpa ikhtiar, melainkan ketenangan batin yang aktif. Bukan kepasifan yang malas, melainkan kedamaian yang dinamis. Imam al-Qusairy an-Naisabury, seorang ulama besar dalam tradisi tasawuf, memberikan definisi yang begitu lugas dan mengena: "Qanaah adalah meninggalkan keinginan terhadap apa yang hilang atau yang tidak dimiliki, dan menghindari ketergantungan kepada apa yang tidak dimiliki."  Dalam perspektif sufi artinya pembebasan dari belenggu keinginan yang tak pernah puas serta dari perbudakan kebendaan yang belum dan mungkin tidak akan pernah kita miliki.

Betapa berat beban yang kita pikul setiap hari ketika memikul harapan yang belum terwujud. Ketika memikul penyesalan atas apa yang telah pergi dan memikul ketakutan akan masa depan. Semua itu adalah beban yang tidak perlu. Qanaah membimbing kita untuk meletakkan beban itu. Melepaskan keinginan pada yang hilang dan yang tidak dimiliki, naum bukan berarti kita tidak boleh berharap. Bahwa harapan itu manusiawi tetapi jangan membiarkan harapan menjadi bos besar yang menindas. Jangan pula membiarkan keinginan menjadi rantai yang mengikat.

Ketika kita sudah mencapai tingkat kesadaran ini, kerja pun berubah makna. Kerja bukan lagi usaha mati-matian untuk memperoleh dan menumpuk kekayaan material namun hanyalah menjalankan ketentuan dan kewajiban manusiawi. Kita bekerja sebaik-baiknya karena kerja adalah amanah. Kita bekerja karena kita adalah khalifah di muka bumi. Tidak dalam bekerja terasa  ringan tanpa beban karena berharap hasil yang pasti. Kita bekerja dengan kesadaran bahwa hasil adalah hak prerogatif Sang Pemberi Rezeki. Melakukan yang terbaik tetapi menyerahkan hasilnya Pemilik Semesta. Inilah yang membuat hati tenang dan melankah tegap ke depan. 

Orang yang mencapai derajat ini tidak akan pernah merasa sengsara. Bukan karena hidupnya bebas dari masalah, tetapi karena jiwanya lepas dan lapang dada. B8isa kehilangan sesuatu tanpa kehilangan kenyamanan. Miskin tanpa merasa terhina dan menghadapi kesulitan tanpa putus asa. Karena ia tahu bahwa semua adalah ketentuan dari Dzat yang Maha Tahu aapa yang terbaik untuk hamba-Nya. Ia tidak lagi melihat dunia sebagai tempat untuk mengumpulkan, tetapi sebagai tempat untuk mengabdi. Dan di dalam pengabdian itulah, menemukan kedamaian yang tidak bisa didapat dalam  harta, jabatan, atau pengakuan manusia.

Inilah renungan yang ingin kita bagikan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. Bahwa ada jalan lain untuk menjalani hidup. Jalan yang tidak dilalui banyak orang karena tampak terlalu sederhana. Jalan qanaah. Jalan ridha. Jalan menerima. Bukan jalan untuk mengalah pada keadaan, tetapi jalan untuk menaklukkan hati sendiri. Karena sejatinya, perang terbesar bukanlah melawan musuh di luar, melainkan melawan keinginan di dalam dada. Dan kemenangan sejati adalah ketika kita bisa berkata dengan tulus: Cukuplah Allah bagiku. Dia sebaik-baik tempat bergantung. Maka damailah jiwa. Maka tenanglah langkah. Maka bahagialah hidup, apa pun keadaannya.

0 comments :

Post a Comment