Kehidupan ibarat perahu kecil di tengah lautan yang tak pernah tenang dengan deburan ombak. Kehilangan yang dicintai, kemiskinan, dan kesulitan datang silih berganti. Dan di situlah kegelisahan mendera. Kita bertanya-tanya, mengapa semua ini terjadi pada kita? Mengapa takdir terasa begitu kejam? Mengapa Sang Pencipta seakan membiarkan kita terkapar di jalan terjal dan berbatu?
Namun di balik semua kegelisahan itu, ada satu akar persoalan yang luput dari perhatian kita yakni ketidakridhaan. Kita tidak rela menerima apa yang telah ditetapkan serta tidak ikhlas atas ketentuan takdir. Dalam hati kecil, kita merasa bahwa hidup seharusnya tidak begini. Kita merasa layak mendapatkan yang lebih baik. Merasa bahwa kehilangan adalah hukuman, kemiskinan adalah tanda bahwa Tuhan menjauh, dan bahwa kesulitan adalah bukti kita tidak lagi dicintai Mahapencipta.
Perasaan ini kemudian meracuni segalanya. Kehilangan kecil menjadi derita besar dan kekurangan adalah kesengsaraan yang berkepanjangan. Kita cemas akan kehilangan sesuatu yang kita miliki dan gelisah karena menginginkan yang belum kita miliki. Hidup menjadi pertempuran antara harapan dan kenyataan, antara keinginan dan ketetapan. Kita berlari ke sana kemari mencari kepastian, padahal kepastian sejatinya hanya wewenang Yang Maha Menentukan.
Andai saja kita mau berhenti sejenak dan merenung. Andai saja mau menerima bahwa semua yang terjadi adalah ketentuan Ilahi Rabbi yang Maha Bijaksana. Tidak untuk menyiksa, tetapi untuk menguji agar menjadi manusia yang matang dan dewasa.
Betapa damai kehidupan jika kita bisa mencapai titik di mana tidak ada lagi penolakan, tidak ada lagi kekecewaan, tidak ada lagi keinginan atau harapan. Hanya menjalani apa pun yang telah ditetapkan, dengan kesadaran dan keikhlasan. Seperti sungai yang mengalir mengikuti alur menuju muara, tanpa protes, tanpa tanya, tanpa berharap.
Itulah makna qanaah dalam perspektif sufistikik. Tentunya bukan sikap pasrah tanpa ikhtiar, melainkan ketenangan yang aktif. Bukan kepasifan yang malas, melainkan kedamaian yang dinamis. Imam al-Qusairy an-Naisabury, seorang ulama besar dalam tradisi tasawuf, memberikan definisi yang begitu lugas dan mengena: "Qanaah adalah meninggalkan keinginan terhadap apa yang hilang atau yang tidak dimiliki, dan menghindari ketergantungan kepada apa yang tidak dimiliki." Dalam perspektif sufi, qanaah artinya pembebasan dari belenggu keinginan yang tak pernah puas serta dari perbudakan kebendaan yang belum dan mungkin tidak akan pernah kita miliki.
Betapa berat beban yang kita pikul setiap hari ketika memikul harapan yang belum terwujud, memikul penyesalan atas apa yang telah lampau dan memikul ketakutan akan masa depan. Semua itu adalah beban yang tidak perlu dan dengan Qanaah kita meletakkan semua beban.
Ketika sudah mencapai tingkat kesadaran ini, kerja berubah makna. Bukan lagi usaha mati-matian untuk memperoleh dan menumpuk kekayaan material, namun hanyalah menjalankan ketentuan dan kewajiban manusiawi. Kita bekerja sebaik-baiknya karena kerja adalah amanah, karena kita adalah khalifah di muka bumi. Sehingga dalam bekerja terasa ringan tanpa beban. Tidak berharap hasil yang pasti. Kita bekerja dengan kesadaran bahwa hasil adalah hak prerogatif Pemberi Rezeki. Melakukan yang terbaik tetapi menyerahkan hasilnya kepada Pemilik Semesta. Inilah yang membuat hati tenang dalam melangkah ke depan.
Orang yang mencapai derajat ini tidak akan pernah merasa sengsara. Bukan karena hidupnya bebas dari masalah, tetapi karena jiwanya lepas dan lapang dada. Kehilangan sesuatu tidak mengakibatkan kehilangan ketenangan. Miskin tanpa merasa terhina dan menghadapi kesulitan tanpa putus asa. Karena ia tahu bahwa semua adalah ketentuan dari Dzat yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Ia tidak lagi melihat dunia sebagai tempat untuk menumpuk materi, tetapi sebagai tempat untuk mengabdi. Dan di dalam pengabdian itulah, menemukan kedamaian yang tidak bisa didapat dalam harta, jabatan, atau pengakuan manusia.
Ada jalan lain untuk menjalani hidup. Jalan yang tidak dilalui banyak orang karena tampak terlalu sederhana. Jalan qanaah. Jalan ridha. Jalan ikhlas menerima. Bukan jalan untuk mengalah pada keadaan, tetapi jalan untuk menaklukkan hati sendiri. Karena sejatinya, perang terbesar bukanlah melawan musuh di luar, melainkan melawan keinginan di dalam. Dan kemenangan sejati adalah ketika kita bisa berkata dengan tulus: "Cukuplah Allah bagiku". Dia sebaik-baik tempat bergantung.
Maka hidup bahagia adalah milik kita, apa pun keadaannya.

0 comments :
Post a Comment