Aku ingin hidup di hari ini saja. Sebuah kehidupan yang sama sekali baru. Kehidupan yang tidak dibebani masa silam dan tidak dipenuhi kecemasan masa depan. Hanya hari ini, dengan segala kondisinya.
Keinginan ini muncul bukan karena tidak menghargai masa lalu atau tidak peduli terhadap masa depan. Hanya saja aku mulai menyadari bahwa terlalu sering manusia kehilangan hari ini karena sibuk mengembara ke waktu yang tidak mungkin kembali atau waktu yang belum tentu kita hidup di dalamnya.
Masa silam memiliki daya tarik magnetis yang terus memanggil untuk dikenang. Kadang dengan kelembutan, kadang dengan rasa sakit. Ada momen yang membuat kita tersenyum, tetapi tidak sedikit yang menghadirkan penyesalan. Kita mengingat keputusan yang keliru, kesempatan yang terlewat, kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan, atau langkah yang semestinya tidak diambil.
Sebagai manusia, aku memiliki masa lalu dengan berbagai kondisi. Ada kegagalan yang membuat hati terluka. Ada mimpi yang tidak terwujud. Ada kisah cinta yang berakhir menyedihkan. Wajah-wajah yang dahulu terasa begitu dekat perlahan menjauh dan akhirnya hilang ditelan waktu.
Ketika masih muda, aku mengira kehilangan adalah akhir dari segalanya. Bahwa kebahagiaan bergantung pada keberhasilan mempertahankan apa yang dicintai. Karena itu, setiap perpisahan terasa seperti bencana. Terlebih ketika rasa rendah diri ikut menghambat perjalanan cinta. Sebagai anak kampung yang tumbuh dalam keterbatasan, sering merasa tidak cukup pantas untuk berdiri sejajar dengan orang lain. Perasaan itulah yang kadang lebih menyakitkan daripada kehilangan itu sendiri.
Namun waktu mengajarkan sesuatu yang berbeda. Orang-orang yang pergi ternyata tidak membawa serta kebahagiaan seutuhnya. Seiring hari yang berganti, luka yang dahulu terasa begitu perih perlahan berubah menjadi sekadar kenangan. Bukan karena berhasil menghapusnya, melainkan karena hidup berjalan terus dan menuntut kehadiran di setiap waktunya.
Meski demikian, masa lalu kerap datang. Melintas dalam ingatan, dalam percakapan, atau dalam kesunyian malam. Jika tidak berhati-hati, kita menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menyesali sesuatu yang tidak mungkin diubah.
Di sisi lain, masa depan juga memiliki caranya sendiri untuk mengganggu ketenangan. Jika masa lalu membuat penyesalan, masa depan menjadikan kita dipenuhi kecemasan. Kita membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi. Khawatir tentang kondisi ekonomi, kesehatan yang perlahan menurun, kehilangan orang-orang yang dicintai, atau kematian yang suatu hari pasti datang.
Semakin bertambah usia, semakin nyata kondisi dimaksud. Tubuh tidak lagi sekuat dulu, energi berkurang, orang-orang yang dahulu bersama menjalani hidup, satu per satu menghilang. Sebagian karena jarak, sebagian karena waktu, dan sebagian lagi karena kematian.
Tidak ada manusia yang benar-benar dapat menghindari kenyataan tersebut. Cepat atau lambat, kita akan berhadapan dengan kehilangan. Kita semua akan menyaksikan perubahan yang tidak menyenangkan. Dan pada akhirnya, kita semua akan mencapai batas perjalanan yang sama.
Karena itulah aku ingin hidup di hari ini saja.
Hari ini adalah satu-satunya waktu yang benar-benar kumiliki. Masa lalu sudah selesai menjalankan perannya. Ia dapat dikenang, dipelajari, dan diambil hikmahnya, tetapi tidak dapat diubah. Masa depan juga penting untuk dipersiapkan, tetapi tidak dapat dikendalikan sepenuhnya. Banyak hal yang berada di luar jangkauan manusia.
Hari ini berbeda. Hari ini nyata. Aku dapat merasakan angin yang berhembus, mendengar suara burung, menyentuh tanah kebun, memberi makan ayam, membaca beberapa halaman buku, menulis beberapa paragraf, atau bercakap-cakap dengan orang yang kucintai. Semua itu hanya dapat dilakukan hari ini, bukan kemarin dan bukan pula besok.
Aku mulai memahami bahwa kebahagiaan sering kali tidak ditemukan dalam pencapaian besar, melainkan dalam kemampuan hadir sepenuhnya pada saat ini. Menikmati secangkir kopi tanpa tergesa-gesa. Menyaksikan matahari terbit tanpa memikirkan terlalu banyak hal. Menyelesaikan pekerjaan sederhana dengan hati yang tenang. Bersyukur atas apa yang masih ada, alih-alih terus meratapi apa yang telah hilang.
Hidup di hari ini bukan berarti melupakan masa lalu atau mengabaikan masa depan. Hidup di hari ini berarti menempatkan keduanya pada posisi yang semestinya. Masa lalu menjadi guru, bukan penjara. Masa depan menjadi tujuan, bukan sumber ketakutan. Sementara hari ini menjadi ruang tempat kehidupan benar-benar berlangsung.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Aku juga tidak dapat kembali memperbaiki hari-hari yang telah berlalu. Tetapi hari ini masih berada di tanganku. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.
Karena pada akhirnya, hidup tidak pernah dijalani kemarin dan tidak pernah dijalani besok. Hidup selalu dijalani hari ini. Hanya hari ini.

0 comments :
Post a Comment