DRAFT
Ada kalanya saya merasa kehidupan sehari-hari berjalan dalam lingkaran yang itu-itu saja. Bangun pagi, mengurus pekerjaan rumah dan kebun, berbincang dengan tetangga, lalu kembali menjalani rutinitas. Percakapan sehari-hari umumnya berkisar pada kebutuhan hidup, harga kebutuhan pokok, cuaca, atau pekerjaan yang harus diselesaikan esok hari. Semua itu wajar. Setiap orang memiliki kesibukan dan persoalannya sendiri. Namun, sesekali saya merasa membutuhkan sesuatu yang berbeda. Saya ingin pikiran ini menjelajahi dunia yang lebih luas daripada apa yang saya temui setiap hari.
Perasaan itu kadang muncul ketika saya duduk di teras saung, memandang cahaya matahari yang menembus dedaunan. Suasana kebun begitu tenang dan nyaman. Tidak ada tuntutan pekerjaan kantor, rapat, atau urusan kedinasan yang dahulu menyita perhatian. Seharusnya saya bisa menikmati keadaan ini sepenuhnya. Namun, di tengah ketenangan itu, muncul pertanyaan: apakah kehidupan yang nyaman cukup jika pikiran kita berhenti berkembang?
Setelah pensiun, saya memang tidak lagi mengejar jabatan, pangkat, atau keberhasilan dalam pekerjaan. Saya ingin menikmati kehidupan yang lebih sederhana. Akan tetapi, kesederhanaan tidak berarti saya harus berhenti belajar. Justru ketika waktu lebih banyak tersedia, saya merasa memiliki kesempatan untuk membaca buku, mempelajari pemikiran orang lain, dan merenungkan berbagai pengalaman yang dahulu mungkin terlewatkan karena terlalu sibuk bekerja.
Saya menyadari bahwa lingkungan tempat tinggal ikut memengaruhi apa yang kita pikirkan. Jika setiap hari kita hanya berhadapan dengan persoalan yang sama, mendengar pembicaraan yang sama, dan melakukan kegiatan yang sama, pikiran bisa terbiasa berputar dalam lingkaran tersebut. Kita mungkin merasa sudah mengetahui banyak hal karena telah lama menjalani kehidupan, padahal masih banyak yang belum kita pahami.
Tentu saja, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kehidupan kampung itu buruk atau orang-orang di dalamnya tidak memiliki wawasan. Banyak pelajaran berharga justru dapat ditemukan dalam kesederhanaan, pengalaman hidup, dan kearifan orang-orang di sekitar kita. Persoalannya lebih sederhana: saya membutuhkan ruang belajar yang lebih luas. Saya ingin membicarakan hal-hal yang tidak selalu muncul dalam percakapan sehari-hari, mulai dari pemikiran para filsuf, perkembangan masyarakat, perilaku manusia, hingga pertanyaan tentang bagaimana sebaiknya kita menjalani kehidupan.
Buku menjadi salah satu jalan untuk memenuhi kebutuhan itu. Melalui buku, saya dapat berkenalan dengan pemikiran orang-orang yang hidup pada zaman dan tempat yang berbeda. Saya bisa belajar dari pengalaman mereka, memahami sudut pandang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, dan mempertanyakan keyakinan yang selama ini saya anggap benar. Saya tidak harus pergi jauh untuk memperoleh pengalaman semacam itu. Dengan membaca, dunia yang sebelumnya terasa jauh dapat hadir di hadapan saya.
Membaca saja tentu tidak cukup. Apa yang saya baca perlu dipertemukan dengan pengalaman hidup. Saya harus bertanya apakah gagasan tersebut masuk akal, apakah sesuai dengan kenyataan yang saya temui, dan apakah dapat membantu saya memahami diri sendiri maupun orang lain. Pengalaman tanpa refleksi dapat membuat kita mengulang kesalahan yang sama. Sebaliknya, pengetahuan tanpa hubungan dengan kehidupan nyata bisa berhenti menjadi tumpukan informasi.
Karena itu, saya mencoba menulis. Catatan-catatan kecil tentang masa lalu, kehidupan keluarga, pekerjaan, hubungan dengan sesama, dan pengalaman setelah pensiun membantu saya melihat kembali perjalanan hidup dengan sudut pandang yang berbeda. Ada hal-hal yang dahulu saya anggap biasa, tetapi setelah direnungkan ternyata menyimpan pelajaran. Ada pula kesalahan yang baru saya pahami setelah waktu berlalu. Dengan menulis, saya tidak sekadar mengingat masa lalu, tetapi berusaha mengambil sesuatu yang berguna darinya.
Bagi saya, inilah salah satu cara menembus batas. Bukan dengan meninggalkan kampung atau merasa lebih pintar daripada orang-orang di sekitar, melainkan dengan tidak membiarkan pikiran berhenti pada apa yang sudah dikenal. Saya tetap bisa berkebun, mengurus rumah, berbincang dengan tetangga, dan menikmati suasana saung. Pada saat yang sama, saya dapat membaca, belajar, dan memikirkan persoalan yang lebih luas. Kehidupan sederhana tidak harus menghasilkan pikiran yang sederhana pula.
Saya juga semakin memahami bahwa memperluas wawasan bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan atau menjadi pandai berbicara. Pengetahuan semestinya membuat kita lebih mampu memahami orang lain, lebih berhati-hati dalam mengambil kesimpulan, dan tidak mudah merasa paling benar. Jika setelah membaca banyak buku kita justru menjadi sombong, merendahkan orang lain, atau menggunakan pengetahuan untuk memanipulasi sesama, barangkali ada sesuatu yang keliru dalam cara kita belajar.
Pada akhirnya, ukuran pertumbuhan diri bukan hanya seberapa banyak buku yang selesai dibaca atau seberapa luas gagasan yang dapat dibicarakan. Yang tidak kalah penting adalah apakah kita menjadi lebih bijaksana dalam bertindak, lebih adil dalam memperlakukan orang lain, dan lebih peduli terhadap lingkungan. Pengetahuan memperoleh maknanya ketika membantu kita menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Tentu saja, tidak semua orang memiliki waktu, fasilitas, atau kesempatan yang sama untuk belajar. Kebutuhan ekonomi, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga sering kali menyita hampir seluruh tenaga. Saya memahami hal itu. Namun, ketika kesempatan tersedia, sekecil apa pun, kita dapat memanfaatkannya. Membaca beberapa halaman buku, mendengarkan pembicaraan yang bermanfaat, atau menyisihkan waktu untuk merenungkan pengalaman sendiri merupakan langkah sederhana yang bisa dilakukan.
Saya tidak sedang berusaha mengubah diri menjadi orang lain. Saya juga tidak ingin menyangkal asal-usul atau menjauh dari kehidupan yang selama ini membentuk diri saya. Saya hanya ingin memastikan bahwa perjalanan hidup yang panjang ini tidak berhenti pada rutinitas. Setelah puluhan tahun bekerja dan menjalani berbagai peran, saya masih ingin menjadi seseorang yang bersedia belajar, mengakui keterbatasan, dan memperbaiki cara pandangnya.
Kini, saya melihat kampung bukan sebagai tempat yang harus ditinggalkan agar seseorang bisa berkembang. Kampung adalah tempat saya menjalani kehidupan, sementara buku, pengalaman, dan pemikiran orang lain membantu saya melihat kehidupan itu dari jarak yang lebih luas. Saya bisa tetap berpijak di tempat yang sama tanpa harus memandang dunia dari sudut yang itu-itu saja.
Mungkin itulah arti menembus batas bagi saya pada masa pensiun ini. Bukan lagi berjuang mengejar kedudukan atau membuktikan keberhasilan kepada orang lain, melainkan menjaga agar rasa ingin tahu tetap hidup. Saya ingin terus belajar selama masih diberi kesempatan, bukan supaya terlihat lebih berpengetahuan, melainkan agar lebih memahami kehidupan dan lebih bijaksana menjalaninya.
Kita memang tidak selalu bisa mengubah keadaan di sekitar. Namun, kita masih dapat memilih apa yang dibaca, apa yang dipelajari, bagaimana pengalaman direnungkan, dan bagaimana pengetahuan diterapkan. Jangan sampai keterbatasan lingkungan menjadi alasan untuk menghentikan pertumbuhan pikiran. Kita boleh menjalani kehidupan yang sederhana, tetapi tetap memiliki keinginan untuk memahami dunia dan menjadi manusia yang lebih baik.
@suheryana_bae
Catatan Pensiunan 67
Photo by Deddy Suheryadi

0 comments :
Post a Comment