Satu-satunya kepastian dalam hidup adalah kematian. Kita boleh merencanakan banyak hal, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat memastikan seperti apa hari esok. Kita dapat menabung untuk masa tua, mempersiapkan pendidikan anak, membangun rumah, mengembangkan usaha, atau menyusun berbagai rencana. Namun di balik semua ketidakpastian itu, ada satu hal yang pasti akan datang kepada setiap manusia tanpa kecuali, yaitu kematian.
Kematian tidak mengenal usia, jabatan, kekayaan, pendidikan, ataupun status sosial. Kematian datang kepada raja maupun rakyat biasa, kepada orang kaya maupun orang miskin, kepada yang sehat maupun yang sakit. Ketika saatnya tiba, tidak ada yang mampu menangguhkan kedatangannya meskipun hanya sesaat.
Kematian adalah kepastian yang sering diabaikan.
Kita mengetahui keberadaannya, tetapi jarang memikirkannya secara sungguh-sungguh. Kita menyaksikan orang lain meninggal dunia, hadir dalam pemakaman, mengucapkan belasungkawa, bahkan ikut mengantarkan jenazah ke liang lahat. Namun setelah itu, kita kembali disibukkan oleh berbagai urusan dunia.
Seolah-olah kematian hanya berlaku bagi orang lain.
Padahal setiap kali mendengar kabar duka, sesungguhnya kita sedang diingatkan bahwa suatu hari nanti giliran kita akan tiba jua. Tidak ada yang mengetahui kapan waktunya, di mana tempatnya, atau bagaimana caranya. Semua itu tersimpan dalam rahasia Sang Mahapencipta.
Kematian adalah pintu menuju sesuatu yang belum pernah dialami oleh siapa pun yang masih hidup. Kita dapat memahami banyak hal tentang dunia ini melalui pengalaman. Kita mengenal hujan karena pernah kehujanan, memahami rasa sakit karena pernah mengalami, dan mengenal kebahagiaan maupun kesedihan karena pernah merasakannya.
Namun kematian berbeda.
Tidak ada seorang pun yang dapat menceritakan secara lengkap bagaimana pengalaman kematian dan bagaimana kehidupan yang akan dijalani setelahnya.
Apa yang terjadi sesudah kematian? Kehidupan seperti apa yang menanti di keabadian? Apa yang akan kita alami?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menyertai perjalanan manusia sejak dahulu kala.
Bagi sebagian orang, misteri tersebut menimbulkan ketakutan. Bagi sebagian yang lain, menghadirkan harapan. Dan bagi banyak orang, keduanya hadir secara bersamaan.
Dalam pandangan Islam, kematian bukanlah akhir perjalanan, melainkan gerbang menuju kehidupan berikutnya yang jauh lebih panjang dibanding kehidupan dunia. Dunia hanyalah persinggahan sementara, sedangkan kehidupan setelah kematian adalah keabadian.
Karena itulah kematian tidak dipandang sebagai lenyapnya eksistensi manusia, melainkan perpindahan dari satu alam ke alam yang lain.
Agama memang tidak menghapus misteri kematian sepenuhnya. Sebagian tetap menjadi rahasia Tuhan. Namun agama memberikan keyakinan bahwa kehidupan memiliki tujuan dan bahwa setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban.
Bagi seorang muslim, kehidupan setelah kematian adalah hari pembalasan. Seluruh amal manusia akan diperlihatkan dan ditimbang dengan keadilan yang sempurna.
Kitab suci menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh dijanjikan kebahagiaan yang abadi. Sebaliknya, mereka yang mengabaikan kebenaran dan tenggelam dalam keburukan akan menerima balasan yang setimpal.
Sebagian orang mungkin merasa tidak nyaman mendengar pembicaraan tentang pahala dan siksa. Namun jika direnungkan lebih dalam, ajaran tersebut mengandung pesan moral yang sangat kuat. Bahwa hidup bukan sekadar rangkaian peristiwa tanpa makna. Ada konsekuensi dari setiap tindakan yang kita lakukan.
Apa yang kita lakukan hari ini tidak berhenti pada hari ini. Apa yang kita ucapkan tidak hilang begitu saja. Apa yang kita tanam akan tumbuh dan memberikan hasilnya pada waktunya.
Kesadaran semacam ini membuat hidup menjadi lebih berhati-hati dan lebih bertanggung jawab.
Jika pada akhirnya semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan, maka yang paling penting bukanlah berapa banyak kekayaan yang berhasil kita kumpulkan, melainkan apa yang dapat kita lakukan dalam kehidupan yang dianugerahkan kepada kita.
Kita mungkin tidak mampu menjadi manusia yang sempurna. Kita mungkin masih melakukan kesalahan dan kekhilafan. Tetapi setidaknya kita memiliki arah yang jelas, yaitu berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Karena itu, pilihan terbaik dalam hidup sesungguhnya sederhana, berbuat yang terbaik sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan agama dan hati nurani. Jalan ini mungkin tidak selalu mudah, tetapi lebih menenteramkan.
Orang yang berusaha hidup sesuai norma agama memiliki pegangan ketika menghadapi berbagai godaan kehidupan. Memiliki batas yang tidak ingin dilanggar dan kompas moral yang membimbing langkah. Ketika berbuat salah, ia terdorong untuk bertobat dan memperbaiki diri.
Hidup semacam itu tidak mudah, tetapi lebih menenangkan.
Sebaliknya, hidup yang hanya mengikuti keinginan sering kali tampak menyenangkan pada awalnya. Tidak ada aturan yang mengikat dan tidak ada batas yang menghalangi. Namun kebebasan tanpa arah sering kali berakhir pada kegelisahan.
Manusia membutuhkan makna yang lebih dalam daripada sekadar memenuhi keinginan sesaat. Membutuhkan keyakinan bahwa hidup memiliki tujuan dan bahwa kebaikan yang dilakukan tidak sia-sia.
Mungkin karena itulah banyak orang yang semakin bertambah usia semakin sering memikirkan persoalan-persoalan spiritual. Setelah mengejar berbagai urusan duniawi, mulai bertanya tentang arti kehidupan, tujuan keberadaan manusia, dan apa yang akan terjadi setelah kematian.
Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan kesadaran bahwa hidup ini terbatas. Dan justru karena keterbatasannya, hidup menjadi berharga.
Setiap hari yang kita jalani adalah kesempatan yang tidak akan kembali. Setiap pertemuan dengan orang lain adalah kesempatan untuk berbuat baik. Setiap ucapan adalah kesempatan untuk menebar manfaat. Setiap keputusan adalah kesempatan untuk memilih jalan yang benar.
Kematian memang pasti. Waktu, tempat, dan cara kedatangannya tidak kita ketahui. Namun satu hal yang pasti, ia tidak dapat dihindari.
Karena itu, pertanyaan yang paling penting bukanlah kapan kematian akan datang, melainkan bagaimana kita menjalani hidup sebelum kematian tiba.
Yang paling menenangkan bukanlah keyakinan bahwa kita akan hidup selamanya di dunia ini, melainkan harapan bahwa ketika saat itu tiba, kita telah berusaha menjalani hidup dengan sebaik-baiknya.
Tidak sempurna, tetapi sungguh-sungguh berusaha menjadi manusia yang lebih baik.
Dan mungkin, itulah bentuk kesiapan yang paling realistis yang dapat dilakukan oleh setiap manusia dalam menunggu kepastian yang suatu hari pasti datang.

0 comments :
Post a Comment